Basama Allaha Al Rohamana Al Rohayama
Bacalah dengan nama tuhan kamu yang menjadikan. Menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhan kamu yang keramat. Yang mengajarkan dengan kalam. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Al A'laqo

Qola Ana Solataya Wa Nasakaya Wa Mahayaya Wa Mamataya Lalaha Roba Al A'lamayana (162) Laa Sharoyaka Laha Wa Bazalaka Amarota Wa Anaa Awala Al Masalamayana (163) Al Anaa'ma

Tuesday, October 2, 2012

Nabi A'yasaya A'layaha Al Salama (Bhgn Akhir)


Basama Allaha Al Rahamana Al Rahayama

Maka berapa lamanya ia berjalan maka bertemulah dengan suatu bukit amat tinggi dan dua biji mata air di atasnya. Maka nabi Allaha A’yasaya pun mengambil air sembahyang lalu ia sembahyang dua rakaat salam. Setelah sudah maka ia menadah ke langit serta meletakkan tangannya keduanya. Maka ia meminta doa katanya “Ya Alahaya, hambamu pohonkan kepadamu bahawa engkau beri izin kiranya bukit ini berkata-kata dengan hambamu”. Maka di dengar nabi Allaha A’yasaya “Tanyalah olehmu bukit itu nescaya di sahutinya tanyamu itu dengan kudratku”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai bukit, telah berjalanlah aku pada segala bumi dari masyrik ke maghrib, pada tanah rata dan bukit dan darat dan laut tiada kurasai air masin daripada mataku sebab sangat aku takut akan di masukkan Allaha Taa’laya ke dalam neraka. Hai bukit yang tersebut di dalam kitab Allaha yang amat mulia itu pohonkan olehmu aku barang di ampun Allaha kiranya dosaku”.

Maka kata bukit itu “Ya nabi Allaha, hamba tiada dapat memohonkan melainkan nabi Allaha juga memohonkan dosa kami takut akan seksa neraka itu kerana nabi Allaha di pilih Allaha Taa’laya daripada yang lain”. Maka nabi Allaha A’yasaya pu minta doa menadah ke langit maka sembahnya “Demi kemuliaan nabi Mahamada Mashothofaya Rasawala Allaha yang kau titahkan pada akhir zaman itu, barang engkau lepaskan kiranya bukit ini daripada seksa neraka Jahanam itu”. Maka di dengar nabi Allaha A’yasaya suara “Hai A’yasaya, ku perkenankanlah doamu itu kerana engkau menyebut nama kekasihku Mahamada Rasawala Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama”. Setelah di dengar bukit itu ia luput daripada seksa neraka itu maka bukit itupun sukacitalah.

Maka nabi Allaha A’yasaya pun duduklah mengucap tasbih dan taqdis maka wahaya pun datang kepada nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama. Bahawa demikian bunyinya suara itu “Hai A’yasaya, pergilah engkau berjalan ke laut maka bertemulah engkau dengan sebuah pulau yang kecil. Maka di dalam pulau itu ada seorang wali daripada antara segala waliku. Telah hampirlah akan dia ajal, segeralah engkau menanamkan dia dan menyembahyangkan dia. Setelah engkau tanamkan dia maka lalu engkau pada suatu pulau besar maka di dalam pulau itu suatu negeri besar di luar negeri itu ada suatu mahligai maka kau suruh segala isi negeri itu masuk agama Asalama bahawa mereka itu kafir”.

Maka nabi Allaha A’yasaya pun berjalanlah serta datang ia ke tepi laut lalu ia berjalan di atas air dengan kudrat Allaha Taa’laya maka sampailah kepada pulau itu. Maka naiklah ia ke atas pulau itu maka bertemulah ia dengan seorang wali panjangnya enam puluh hasta berdiri mengucap tasbih dan taqdis akan Allaha Taa’laya. Maka hampirlah nabi Allaha A’yasaya kepadanya tiada juga ia memandang nabi Allaha A’yasaya maka ajaiblah nabi Allaha A’yasaya melihat. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Maha suci Allaha Taa’laya yang menjadikan segala hambanya dan amat besar kebesarannya”. Kata nabi Allaha A’yasaya “Al Salaama A’laya Kama Yaa A’bada Allaha” maka katanya “Wa A’laya Kama Al Salaama Yaa Nabaya Allaha, di kurnia Allaha tuhan bagimu ruh Allaha”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Siapa memberi engkau tahu akan aku nabi Allaha kerana engkau tiada memandang aku”. Maka katanya “Ya ruh Allaha, bahawa Allaha Taa’laya memberi aku tahu kerana aku menyembah Allaha”.

Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai hamba Allaha, di mana engkau peroleh makanan dan minuman” maka di sahutnya “Ya ruh Allaha, bahawa tuhan yang maha tinggi memberi aku makanan menyuruhkan seekor burung mencucurkan air ke mulutku”. Maka belum sudah berkata-kata itu maka datang dua ekor burung maka di hampirkannya mulutnya dan paruhnya kepada mulut wali itu lalu di suapkannya makanan ke mulut wali itu. maka datang pula burung seekor lagi maka di hampirkannya paruhnya ke mulut nabi Allaha A’yasaya lalu di bubuhkannya makanan ke mulut nabi Allaha A’yasaya. Maka di rasai nabi Allaha A’yasaya makanan itu sangat nikmat citarasanya maka puaslah rasanya maka kenyanglah ia. Maka nabi Allaha A’yasaya pun munajat kepada tuhan maka datang wahaya kepada nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama “Jangan engkau bergerak daripada hambaku itu. esok hari ajalnya datanglah kepadanya”.

Setelah dari pagi-pagi hari maka wali itupun akan Sakarata Al Mawata maka ombak pun terlalu besar. Maka wali itu pun memandang ke kanan dan ke kiri maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai saudaraku, betapa aku lihat halmu demikian ini” maka katanya “Ya nabi Allaha, hampirlah aku keluar dari negeri yang fana ini ke negeri yang baqo itu. sekarang aku mengadap tuhan yang maha tinggi itu dan yang maha mulia dan shomad adanya yang amat besar kebesarannya”. Katanya “Ya nabi Allaha, bahawa aku naik saksilah Ashahada Ana Laa Alaha Alaa Allaha Wa Ana A’yasaya Rawaha Allaha Wa Nabayaha Wa Rasawalaha”. Maka wali itupun “Yaa Hawa Hawa Labayaka Yaa Allaha”.

Tiba-tiba maka tercabut sepohon kayu pada pulau itu maka kelihatan di bawah pohon kayu itu kubur telah terkorek sepanjang wali itu maka kain kapan pun telah terkapanlah pada wali itu. Maka ajaiblah nabi Allaha A’yasaya akan kelakuan itu maka datang suara demikian bunyinya “Hai A’yasaya, bahawa segala malaikatku mengerjakan dia dan mengapan dia maka sembahyangkanlah olehmu. Apabila sudah kau tanamkan maka pergilah engkau kepada pulau yang besar itu. Maka sampaikanlah risalatku kepadanya dan ceritai daripada nikmat syurga dan suruh jauh daripadanya segala perbuatan yang jahat-jahat yang kena azab neraka itu”.

Setelah itu maka nabi Allaha A’yasaya pun berjalanlah daripada pulau yang kecil itu. Hataya maka sampailah nabi Allaha A’yasaya kepada pulau yang besar itu. maka naiklah ia berjalan ke darat maka bertemu nabi Allaha A’yasaya dengan sebuah mahligai di luar negeri itu. Maka berhenti nabi Allaha di halaman mahligai itu maka bertemu dengan seorang perempuan tua. Maka perempuan tua itu pun berkata di dalam hatinya “Bahawa akan laki-laki ini bukannya orang negeri ini. Pada bicara aku orang ini kafir juga”. Maka di bawanya akan nabi Allaha A’yasaya suatu makanan maka ujarnya “Hai laki-laki makanlah olehmu makanan ini maka inilah juadah kami di dalam negeri ini kerana engkau jauh pada kami haruslah atas kami memberi engkau makan makanan”.

Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai perempuan tua, tiada aku mau makan makanan ini sehingga kamu cerita akan aku apa yang kamu sembah dan segala orang negeri ini”. Maka sahut perempuan tua itu “Bahawa sekelian kami menyembah raja di dalam negeri ini dan yang empunya pulau ini dan raja itu menyembah berhala yang besar”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Karam bagi kamu menyembah yang bukan tuhan itu dan kamu tinggalkanlah menyembahlah tuhan yang sebenarnya Allaha Taa’laya. Ialah tuhan yang maha tinggi dan ialah tuhan yang menjadikan ke tujuh lapis langit dan ketujuh lapis bumi dan segala barang yang di dalam antara keduanya itu dan ialah tuhan yang menjadikan semata sekelian alam dan bahawa ialah tuhan yang memberi rezeki akan segala makhluk dan tiada tuhan lain daripadanya. Hanya ia jua tuhan yang esa yang memberi nikmat dan mengetahui segala yang ghaib. Bahawa ia jua amat kuasa dan ialah yang menitahkan aku kepada kamu sekelian supaya kamu sekelian percaya akan dia. Bahawa naik saksilah engkau akan aku rasul Allaha”.

Maka apabila di dengar perempuan tua itu nabi Allaha A’yasaya berkata demikian itu maka di bukakan Allaha Taa’laya dan di anugerahkan tuhan iman yang sahih akan dia. maka katanya akan nabi Allaha A’yasaya “Sebenarnyalah engkau pesuruh Allaha bahawa tuhanmu itu amat besar”. Maka kata nabi Allaha “Shahadatlah engkau” maka di ucapnya “Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha” maka perempuan itupun berkata “Ya nabi Allaha, bahawa bagiku seorang anak laki-laki matanya buta lagi bisu lagi tuli. Dapatkah tuan hamba minta doa kepada Allaha Taa’laya ia supaya sembuh daripada bala itu”.

Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Bawa olehmu anakmu itu kepadaku” maka oleh perempuan tua itu di bawanya anaknya itu ke hadapan nabi Allaha A’yasaya. Maka di pegang nabi Allaha A’yasaya dengan tangannya yang mulia itu pada muka anak orang tua itu maka jadi matanya pun melihat dan telinganya pun mendengar dan mulutnya pun berkata-kata dengan fasih lidahnya lalu ia berdiri mengucap “Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha amat bahagia, barang yang siapa tiada menurut katamu derhaka”. Maka perempuan tua pun terlalu amat sukacita melihat anaknya sudah sembuh selamat itu.

Maka kata nabi Allaha A’yasaya pada laki-laki anak perempuan tua itu “Hai laki-laki, pergilah engkau kusuruh kepada raja di dalam negeri ini. berdirilah engkau kepada pintunya dan jangan engkau kata akan hulubalangnya maka berseru-serulah engkau dengan suaramu yang nyaring. Seru olehmu kata Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha ia nabi yang menyampaikan risalat daripada Allaha Taa’laya kepada segala manusia”. Maka kata perempuan tua itu “Ya nabi Allaha, jika anak hamba ini nabi Allaha suruhkan nescaya di bunuhnyalah ia oleh raja itu” maka kata nabi Allaha A’yasaya “Jangan takut tiada ngapa”.

Maka laki-laki itupun berjalanlah ke pintu raja itu maka berseru-serulah ia katanya “Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha. Ialah nabi Allaha A’ayasaya namanya di suruhkan tuhan segala alam menyampaikan risalat kepada segala manusia setelah nabi Allaha itu datanglah ke negeri ini”. Maka kata raja “Hai laki-laki, siapa yang menyembuhkan sakitmu itu” maka sahut laki-laki itu “Tuhan yang maha tinggi dengan berkat nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama bahawa aku ini di suruhkan nabi Allaha itu kepadamu. Hai raja, katakan olehmu Laa Alaha Alaa Allaha Wa Ana A’yasaya Rawaha Allaha”. Maka raja itupun terlalu marah lalu di ambilnya mahkota dari kepalanya di hempaskan lalu berseru-seru kepada biduandanya “Bunuhlah oleh kamu ia ini” maka oleh segala biduandanya di bunuhnyalah laki-laki itu, mayatnya di buangkannya keluar kota.

Apabila di dengar perempuan tua itu anaknya sudah mati terbunuh itu maka iapun menangis mendapatkan mayat anaknya itu. Maka nabi Allaha pun datang maka kata nabi Allaha A’yasaya “Jangan engkau bercinta bahawa tuhan alam ada menghidupkan anakmu ini kerana bahawa tuhan itu amat kuasa atas semata-mata sekelian alam”. Oleh nabi Allaha A’yasaya di selimutinya dengan kain putih mayat itu lalu katanya “Qoma Ba Azana Allaha” maka mayat itupun bangkit lalu ia berkata “Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha” lalu di ciumnya kaki nabi Allaha A’yasaya dan perempuan tua itupun sangatlah ia sukacita dan mengucap syukur ke hadrat Allaha dan sangatlah memuji mukjizat nabi Allaha A’yasaya.

Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Pergi pula engkau pada raja itu dan kata olehmu seperti dahulu itu”. maka kata perempuan tua itu “Di bunuhnyalah pula anak hamba” maka kata anaknya “Jangan ibuku berkata kerana sangatlah kesukaanku mengerjakan kerja tuhanku dan beberapa anugerahnya yang amat citarasanya tatkala aku pandang orang mati itu tiadalah apa endahku hidup pada dunia yang fana ini”. Setelah ia berkata maka ia pun berjalanlah ke pintu raja itu lalu ia berkata “Hai raja, sebut olehmu Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha”.

Maka kata raja itu “Hai laki-laki, siapa yang menghidupkan engkau. Bahawa akan engkau sudah kubunuh” maka sahutnya “Tuhan alam menghidupkan aku. Kata olehmu Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha”. Maka kata raja itu pada segala menteri “Kita pengapa ia itu” maka kata segala menterinya “Kita bunuh ia ini kita bakar mayatnya, abunya kita terbangkan pada angin”. Maka di suruh bunuh oleh raja itu mayatnya suruh bakar maka abunya di terbangkan angin. Setelah sudah maka raja itupun sangatlah suka hatinya.

Hataya maka sampailah kepada perempuan tua itu khabar anaknya demikian itu maka menangis perempuan tua itu. Datang ia kepada nabi Allaha A’yasaya maka katanya “Hai nabi Allaha, bahawa anak hamba di bunuhnya pula oleh raja itu. Mayatnya suruh bakar maka abunya di terbangkan angin”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai perempuan tua, sabarlah engkau pertetapkanlah hatimu bahawa akan anakmu itu sahaja di kembalikan Allaha Taa’laya kepadamu tiada mengapa anakmu itu dengan barang perbuatan raja itu kepadanya”. Maka nabi Allaha A’yasaya dan perempuan tua itupun naik ke atas bukit maka nabi Allaha pun mengambil air sembahyang lalu sembahyang dua rakaat salam.

Maka minta doa hadrat Allaha Taa’laya maka firman Allaha Taa’laya “Angin kembalikan segala abu hambaku itu” maka dengan seketika itu juga abu itu berhimpunlah di hadapan nabi Allaha A’yasaya. Maka oleh nabi Allaha A’yasaya abunya itu di tuangkannya kain putih maka kata nabi Allaha A’yasaya “Qoma Ba Azana Allaha Al A’laya Al Aa’laya” ertinya bangkit engkau dengan izin Allaha Taa’laya yang maha tinggi dan ketinggian. Maka orang muda itupun berdirilah terlebih baik rupanya daripada dahulu itu lalu ia mengucap “Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha”. Maka perempuan tua itupun terlalu sukacita melihat anaknya hidup terlebih baik pula rupanya daripada dahulu itu warna mukanya gilang-gemilang seperti bulan purnama.

Maka nabi Allaha A’yasaya pun berkata “Pergilah engkau kepada raja itu” maka orang muda itupun pergilah ia dengan segeranya kepada pintu raja itu maka berkata ia seperti katanya yang dahulu itu juga. Maka kata raja itu “Hai sagala menteriku bahawa akan pekerjaan itu terlalu amat besar adanya tiada dapat di mudahkan bahawa akan orang muda ini dua kalilah sudah kita bunuh hidup juga ia”. Maka kata raja itu “Hai orang muda yang terlalu baik rupanya daripada dahulu, di mana jua nasihatmu itu yang kau katakan itu. Bawalah kepadanya daripada redhalah aku mengerjakan segala barang yang di katanya itu tiadalah kusalahi lagi dan aku sungguhkanlah ia ruh Allaha”.

Maka raja itupun berangkatlah dengan segala menterinya dan segala hulubalangnya dan tenteranya mendapatkan nabi Allaha A’yasaya. Maka jadi mukminlah raja itu dengan tenteranya maka akan raja itu ada anaknya perempuan maka dudukkannya dengan orang muda itu anak perempuan tua itu. Maka perempuan tua itu pun sukacita akan anaknya jadi menantu raja itu dan kerajaan negeri itu pun beroleh akan anak muda itu dengan berkat mukjizat nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama. Bahawa akan raja itupun turun daripada kerajaannya bersunyi dirinya mengakukan keredhaan Allaha Taa’laya. Maka nabi Allaha pun berjalanlah daripada tempat itu beberapa puluh negeri Asalama oleh nabi Allaha A’yasaya.

Cerita daripada Kaa’ba Al Akhobaara radhoya Allaha a’naha segala persetua Iblis A’layaha Laa’nata Allaha datang pada nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama. Maka kata A’yasaya “Kemana engkau” maka kata Iblis “Akulah yang memberi makan Adam buah kholadaya tatkala ia di dalam syurga”. Maka kata nabi Allaha “Apa sebabnya maka engkau dengki akan Adam A’layaha Al Salama” maka kata Iblis “Kulihat segala malaikat sujud akan Adam di tentukan Adamlah yang termulia daripadanya”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai Iblis, apa makananmu dan apa minumanmu” maka sahut Iblis “Barang siapa lupa akan Allaha Taa’laya itulah makananku dan minumanku”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Berapa perkara bicaraanmu anak Adam” maka kata Iblis “Bacaanku terlalu banyak tetapi yang bersangat itu tiga perkara juga”.

Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Apa tiga perkara” maka kata Iblis “Suatu kusuruh ia kikir, kedua kusuruh ia alpa dan lali daripada mengerjakan keredhaan Allaha Taa’laya, ketiga kusuruh ia dengki samanya Asalama dan kusuruh ia minum arak dan tuak”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Mengapa maka sangat engkau perbuat was-was kepada ketiga itu” maka kata Iblis “Bahawa yang kikir itu kekasihku pada segala manusia tatkalanya mati akan bala dengan sebab aniaya tiada memberi zakat dan sedekah. Adapun yang alpa dan lali itulah kesukaanku melihat dia pertama bakhil, kedua alpakan amal kebajikan, ketiga dengan sama Asalama inilah amalan Iblis dengki itulah kegemaranku maka jadilah ia berkelahi bantah di hempaskan kepalanya kepada kayu yang keras dan mencarik kainnya dan mentalak isterinya dan yang minum arak itu kusuruh ia mabuk supaya alpa akan Allaha Taa’laya dan kusuruh ia mencuri dan kusuruh ia membunuh orang dan kusuruh ia naik rumah anak isteri orang”.

Maka nabi Allaha A’yasaya berkata “Hai Iblis, adakah engkau berjalan sertaku” maka sahut Iblis “Bahawa ada aku berjalan sertamu pada sehari tatkala engkau berjalan pada tuhanmu kepada tanaman maka kuberi ajaib akan dikau maka engkau makanlah buah kayu tanaman itu hingga kenyanglah perutmu lalu tertidur engkau suatu waktu sembahyang tinggal daripadamu. Pada masa itu suka tertawalah aku akan engkau”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Bahawa aku berjanji dengan Allaha Taa’laya daripada hari ini datang kepada umurku tidurlah aku mengurangi perutku daripada makanan dan minuman”.

Maka datang wahaya berkata “Hai A’yasaya, bahawa aku menamai engkau ruhku dan kujadikan engkau pesuruhku maka engkau panggillah segala manusia itu engkau suruh membawa agamaku dan engkau suruh ia berbuat ibadat dan taat kepada aku dan engkau larangkan ia berbuat derhaka kepadaku”. Maka sembah nabi Allaha A’yasaya “Ya tuhanku, telah aku dengar firmanmu jua aku ikutlah sabdamu itu” maka nabi Allaha A’yasaya pun berjalanlah ia. Hataya maka sampai nabi Allaha A’yasaya pada suatu negeri yang bernama Tayarayaha maka masuklah ia kedalam negeri itu. Berjalanlah ia ke dalam pekan negeri itu maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai segala kaum, kata oleh kamu Laa Alaha Alaa Allaha A’yasaya Rawaha Allaha hambanya dan pesuruhnya”.

Maka bertemulah nabi Allaha A’yasaya dengan seorang wahabi pendita yahudi dengan nabi Allaha A’yasaya. Maka kata wahabi itu “Hai A’yasaya, tiada orang mendakwai dirinya nabi melainkan di peroleh mukjizat daripadanya maka kami percayalah akan dikau”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Mukjizat mana yang engkau kehendak itu” maka oleh wahabi itu di perbuatnya tanah seperti rupa burung. Maka katanya “Hai A’yasaya, berilah nyawa akan tanah ini” maka oleh nabi Allaha A’yasaya di tiupnya pada tanah itu yang seperti rupa burung itu dengan kudrat Raba Al A’alamayana tanah seperti burung itupun terbanglah dengan dua sayapnya sebelah merah dan sebelah hijau. Maka wahabi itupun mengucap Ashahada Ana Laa Alaha Alaa Allaha Wa Ana A’yasaya Rawaha Allaha maka pendita yahudi yang pertama masuk Asalama negeri itu.

Maka berkelilinglah nabi Allaha A’yasaya daripada pecan negeri itu berapa orang sakit di sembuhkannya dan beberapa orang buta di hilangkannya hingga tiadalah orang yang sakit di dalam negeri itu sekeliannya habis sembuh dengan berkat mukjizat nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama. Maka nabi Allaha A’yasaya pun keluarlah daripada negeri itu maka sampailah ia pada suatu negeri besar maka kata nabi Allaha A’yasaya Laqowalaha Taa’laya Qoala Al Hawaa Rayawana Nahana Anashoara Allaha ertinya kamilah menolong engkau pada jalan Allaha bahawa kami pinta daripadamu janganlah kami jauh daripadamu. Hampirkanlah kami daripada barang kemana nabi Allaha pergi. Maka janjilah mereka itu dengan teguh janjinya maka berjalanlah mereka itu serta nabi Allaha A’yasaya.

Setelah jauhlah jalannya maka mereka itu pun kelaparan kata mereka itu “Ya nabi Allaha, bahawa kami daripada anak raja tiada dapat sabar daripada lapar terlalu sangat kami kehendak pada makanan kepadamu daripada barang sesuatu makanan itu supaya kami makanlah”. Setelah di dengar nabi Allaha A’yasaya kata mereka itu maka berdirilah nabi Allaha A’yasaya ruh Allaha munajat ke hadrat Allaha Taa’laya maka di tundukkannya kepalanya seraya ia menangis bercucuran air matanya. Maka nabi Allaha A’yasaya pun berkata “Ya tuhanku, tuhan segala alam, engkau juga yang amat mengetahui daripada barang yang pada langitmu ketujuh dan barang yang pada bumimu ketujuh ini”.

Maka berkata pula kaum Hawariyun kepada nabi Allaha A’yasaya katanya Laqowalaha Taa’laya Aza Qoala Al Hawaa Rayawana Yaa A’yasaya Abana Marayama Hala Yasatathoyaa’ Rabaka Ana Yanazala A’layanaa Maadata Mana Al Samaa Qoala Ataqowaa Allaha Ana Kana Tama Mawamanayana. Wa Qoala Laayashoa Qoala A’yasaya Abana Marayama Allahama Rabanaa Anazala Maadata Mana Al Samaa Takawana Lanaa A’yada Al Awalanaa Wa Akhoranaa Wa Ayata Manaka Wa Arazaqonaa Wa Anata Khoyara Al Raazaqoyana ertinya kata kaum Hawariyun hai nabi Allaha A’yasaya adakah kuasa tuhanmu menurunkan akan kami hidangan dari langit supaya kami makan hari raya bagi segala orang yang tua-tua dan orang muda-muda kami tanda mukjizat daripadamu dan telah terdatanglah akan kami rezeki itu.

Hataya belum sudah nabi Allaha A’yasaya minta doa maka turunlah hidangan dari langit akan mereka itu bertudung sapu tangan bersuci merah putih dan pelbagai warnanya di atas awan. Maka datanglah hidangan itu ke hadapan mereka itu dengan secukupnya di dalam sekejap jua. Maka nabi Allaha A’yasaya pun sangatlah menangis sembahnya “Ya tuhanku, kau jadikan hambamu sekiranya menjunjung yang amat limpah anugerahmu ini. ya tuhanku, kau jadikan kiranya hidangan rahmat dan jangan engkau jadikan hidangan ini seksa”. Setelah sudah hendak di makannya oleh mereka itu barang yang di dalam hidangan itu maka kata nabi Allaha “Tiada dapat memakan hidangan ini melainkan yakin akan tuhan”.

Maka kata Samaa’ana ialah penghulu daripada orang dua belas itu “Ya nabi Allaha, engkau utama makan hidangan ini” maka nabi Allaha A’yasaya pun membaca tasbih dan taqdis lalu ia duduk kepada hidangan lalu di bukanya hidangan itu serta ia mengucap “Basama Allaha Al Rahamana Al Rahayama A’naayata Allaha Wa Allaha Khoyara Al Raazaqoyana”. Di lihat di dalam hidangan itu ikan yang sudah rending dan roti yang safkan ikan itu tiada berkulit dan tiada bertulang pada kepala ikan itu, sedikit daripada garam dan sama tengah ikan itu ulam bernama Wabaa’da Baara dan beberapa nasi gulai dan beberapa pula makanan dan beberapa pula buah-buahan di dalam hidangan itu sekeliannya itu terlalu amat lazat citarasanya.

Maka kata Samaa’ana “Hai nabi Allaha, hidangan ini bukannya daripada makanan dunia dan bukannya daripada makanan akhirat tetapi inilah di jadikan tuhan dengan kudratnya. Maka makanlah oleh kamu barang yang kamu dapat pinta kepada aku itu. setelah di anugerahkan tuhanku dengan kurnianya dan ia jua tuhan yang sebaik-baik menganugerahkan hambanya”. Maka kata kaum Hawariyun itu “Ya nabi Allaha, engkau tunjukkan pula akan kami mukjizat hidupkanlah ik an di dalam hidangan itu”. Maka berkata nabi Allaha A’yasaya “Hai ikan yang di dalam hidangan, hiduplah engkau dengan izin Allaha Taa’laya” ikan itupun bergerak-gerak terlompat seperti ikan yang baharu keluar di dalam air. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Beberapa yang kamu kehendaki kepada aku adakan juga kehendakmu dengan kurnia Allaha A’za Wa Jala bahawa akan katakan kamu hidangan ini”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Berlindung aku kepada Allaha Taa’laya daripada memakan hidanganku sekadar meminta juga kepada tuhanku”.

Maka segala orang di dalam negeri itu yang kaya dan miskin dan sakit yang lain dan yang kudil dan yang sopak dan yang buta dan yang tuli dan yang bisu sekeliannya makanlah di dalam hidangan itu. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Makanlah kamu sekelian rezeki daripada tuhan kamu dan mengucap syukurlah kamu baginya dan minta doa kamu kepadanya dan mereka itupun mengucap Basama Allaha Wa Al Thoaa’ta Lalarasawala. Maka bangkitlah mereka itu yang makan hidangan tiga ratus orang setelah sudah makan maka berdirilah mereka itu. Maka di lihat segala mereka itu akan makanan mereka itu penuh juga tiada luak maka tercenganglah mereka itu dan sembuhlah segala yang berpenyakit itu dengan kudrat Allaha Taa’laya.

Tiada juga yang makan hidangan itu miskin menjadi kaya dan yang berpenyakit sembuh dan segala buta jadi celik tiadalah berkesudahan lagi beroleh kebajikan datang kepada matinya. Maka di lihat segala kaum Hawariyun hal demikian itu maka berhimpunlah segala mereka itu datang kepada nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama maka kata nabi Allaha A’yasaya “Bahawa akan hidangan di turunkan kepada kamu ini pada tiap-tiap hari barang siapa daripada kamu hendaklah makan dia makanlah oleh kamu dan barang siapa tiada mahu makan dia jangan kamu makan”.

Apabila berpindahlah nabi Allaha A’yasaya daripada tempatnya maka berhimpunlah segala kaum Hawariyun segala yang kaya dan miskin dan laki-laki. Setelah berhimpunlah mereka itu mendapatkan nabi Allaha A’yasaya ruh Allaha hendak makan hidangan itu maka oleh mereka itu fakir jua di berinya makan hidangan itu dan diiringkannya segala yang kaya-kaya makan dia. maka akan segala kaya-kaya itu akan nabi Allaha A’yasaya ruh Allaha di cercanya akan nabi Allaha A’yasaya dengan kata yang jahat-jahat. Maka berteriaklah ia di hidangan itu maka katanya “Hai segala kaum, bukannya hidangan ini turun dari langit. Sahaja daripada habatan A’yasaya juga”.

Maka kata nabi Allaha A’yasaya akan mereka itu “Nantilah oleh kamu seksa daripada Allaha Taa’laya akan datanglah balasnya akan kamu kerana mengumpat Raba Al Aa’lamayana itu”. Maka datang wahaya daripada Allaha Sabahanaha Wa Taa’laya kepada nabi Allaha A’yasaya firmannya “Barangsiapa berdusta akan hidangan ini akulah menyeksai mereka itu tiada lebih seksanya mereka itu pada seorangpun dalam alam ini”. Maka pada malam itu tiga ratus tiga puluh laki-laki yang mengumpat nabi Allaha itu beserta dengan isterinya. Hataya pagi-pagi hari segala mereka itu menjadi babi maka berjalanlah segala babi itu pada segala hutan dan padang makan cemar-cemar.

Maka di ceritakan orang kepada nabi Allaha A’yasaya maka apabila terlihatlah kepada nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama maka tiada dapat berkata-kata maka kata nabi Allaha A’yasaya akan mereka itu “Peliharakan oleh kamu daripada seksa tuhan kamu” maka tiadalah mereka itu menjawab kata nabi Allaha A’yasaya itu. Maka di panggil oleh nabi Allaha A’yasaya dengan nama mereka itu maka sahut mereka itu “Ya ruh Allaha, adakah lagi orang terlebih baik daripadamu termulia daripadamu ini”. Maka kata nabi Allaha A’yasaya “Bahkan, ada manusia termulia daripada aku iaitu seorang saudaraku daripada bangsa A’rabaya namanya Mahamada. Ialah yang terlebih baik daripada segala manusia dan ialah penghulu segala anabaya dan ialah mahkota segala awalia dan ialah di jadikan tuhan alam faya akhora zamaana umatnya pun terlebih daripada umat nabi yang lain. Apabila datanglah pada zamannya hendaklah kamu sekelian percaya akan dia supaya luputlah kamu daripada seksa neraka”.

Maka pada suatu hari di lihat nabi Allaha A’yasaya segala kaum yahudi berhimpun pada suatu tempat ia berbicara hendak membunuh nabi Allaha A’yasaya. Maka nabi Allaha A’yasaya pun datang pada mereka itu maka kata nabi Allaha A’yasaya “Hai segala kaum yahudi, bahawa kamu di jadikan Allaha Taa’laya manusia dan sempurnakan akal kamu sebenarnya ia di sembah tiada harus menyembah yang lain daripadanya”. Maka segala kafir laknat Allaha itupun marah akan nabi Allaha A’yasaya A’layaha Al Salama maka hendak di bunuhnya akan nabi Allaha A’yasaya.

Maka nabi Allaha A’yasaya berjalanlah maka di perikutkannya oleh segala yahudi itu mengikut nabi Allaha A’yasaya bertemu dengan sebuah rumah. Maka masuklah nabi Allaha A’yasaya ke dalam rumah itu maka Jibril pun datang dengan firman Allaha Taa’laya menerbangkan nabi Allaha A’yasaya naik ke langit. Maka datanglah kepada empat lapis langit tiada lagi dapat retian oleh sebilah jarum pada kaki baju nabi Allaha. Maka dengan takdir Allaha Taa’laya maka yahudi yang dahulu itu naik ke rumah itu seorang temannya di rupakan Allaha Taa’laya dengan nabi Allaha A’yasaya. Maka segala yahudi yang banyak itu pun datanglah maka kata segala yahudi itu rumah inilah A’yasaya bersembunyi maka yahudi di lihatnya oleh segala orang yang serupa dengan nabi Allaha A’yasaya maka Sabarang itupun di tangkap mereka itulah.

Maka kata yahudi yang bernama Sabarang itu “Apa dosanya aku maka kamu tangkap ini” maka kata mereka itu “Bahawa kami hendak membunuh engkau supaya lepaslah kami daripada huru hara agamamu. Bahawa sentiasa engkau memberi kami masyghul maka kata Sabarang “Bukan aku ini A’yasaya, bahawa aku ini daripada kaum kamu juga. Namaku Sabarang”. Seorang pun tiada mendengar katanya beberapa pun ia mengatakan dirinya bukan aku A’yasaya tiada juga di dengarkannya orang katanya itu.

Maka di bunuhnya lalu di sulanya akan dia maka sukacitalah segala kaum yahudi maka pada hatinya telah matilah A’yasaya A’layaha Al Salama itu. Maka dengan seketika itu juga Sabarang itupun kembali seperti rupanya yang dahulu itu maka menyesallah segala yahudi itu oleh membunuh kaumnya itu. Maka telah di ketahuilah oleh segala yahudi nabi Allaha A’yasaya di lepaskan tuhan alam daripada kejahatan itu.    
                            
Sumber: Kitab Qoshosho Al Anabayaa                         

1 comment: