Basama Allaha Al Rohamana Al Rohayama
Bacalah dengan nama tuhan kamu yang menjadikan. Menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhan kamu yang keramat. Yang mengajarkan dengan kalam. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Al A'laqo

Qola Ana Solataya Wa Nasakaya Wa Mahayaya Wa Mamataya Lalaha Roba Al A'lamayana (162) Laa Sharoyaka Laha Wa Bazalaka Amarota Wa Anaa Awala Al Masalamayana (163) Al Anaa'ma

Wednesday, June 19, 2013

Kisah Nabi Allaha Yawasafa (Yusuf) A'layaha Al Salama

Basama Allaha Al Rahamana Al Rahayama

Adapun Yusuf anak nabi Yaaqub itu terlalu mahsyur wartanya dengan segala mukjizatnya dan nubuatnya maka barang siapa yang di tentukan Allaha Taa’laya akan seseorang dengan kelebihan dan kemuliaan nescaya mahsyurlah namanya dan wartanya pada segala alam seperti firman Allaha Taa’laya Nahana Naqosho A’layaka Ahasana Al Qoshosho Bamaa Awahayanaa Alayaka Hazaa Al Qoraana Wa Ana Kanata Mana Qobalaha Lamana Al Ghoafalawana ertinya bahawasanya kami hikayatkan kepadamu ya Mahamada dengan sebaik-baik hikayat pada barang yang kami turunkan wahaya kepadamu membawa Qoraana ini ertinya kami suruh ceritakan pada Jibril akan dikau ya Mahamada hikayat Yusuf. Jika tiada engkau mengetahui daripada hikayatnya yang dahulu kala itu sekalipun maka kami hikayatkan ia kepadamu ya Mahamada supaya kau ceritakan umatmu.

Adapun pada suatu cerita sebab di turunkan Allaha Taa’laya hikayat Yusuf kepada nabi kita Mahamada Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama sekali persetua datang segala pendita yahudi kepada nabi Allaha maka duduklah ia dalam majlis rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama di dalam antara mereka itu ada yang tahu akan hikayat Yusuf A’layaha Al Salama. Maka ceritalah ia kepada segala sahabat rasul Allaha maka adalah hikayatnya itu amat bersalahan daripada asal hikayat yang di ceritakan akan nabi Musa A’layaha Al Salama kepada datuk neneknya mereka itu. Maka sembah seorang sahabat “Ya rasul Allaha adakah di sebutkan Allaha Taa’laya di dalam kitab Taurat cerita Yusuf A’layaha Al Salama ini” maka sabda rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama “Inilah di sebutkan Allaha Taa’laya sedikit jua hikayatnya di dalam kitab Taurat tetapi terbanyak di hikayatkan Allaha Taa’laya kepadanya tatkala munajat ia ke bukit Thursina itu”.

Maka adalah pada ketika itu bercita di dalam hati nabi Allaha hendak mendengar hikayat yang sahih maka pada malamnya itu maka di turunkan Allaha Taa’laya ayat ini di bawa Jibril A’layaha Al Salama Basama Allaha Al Rahamana Al Rahayama Alif Lam Ra Talaka Ayaata Al Kataba Al Mabayana Anaa Nazalanaaha Qoraanaa A’rabayaa Laa’lakama Taa’qolawana ertinya Akulah Allaha Taa’laya yang amat tahu yang menurunkan Qoraana dengan bahasa A’rab supaya fahamkan segala maknanya hai segala yang berakal. Adapun erti Alif Lam Ra itu akulah tuhan yang bernama Allaha yang amat tahu akan segala sesuatu lagi yang amat mengetahui akan yang tersembunyi daripada segala yang tersembunyi dan pada suatu qaul sebab turun ayat telah berkata segala kafir daripada orang kaya di dalam negeri Makah akan nabi kita Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama “Apa Qoraana yang di baca Mahamada itu maka datang orang banyak berhimpun-himpun kepadanya akan mendengar akan dia. Mari kita pun berbuat seperti Qoraana yang di baca Mahamada itu maka kita baca akan dia pagi dan petang supaya segala makhluk mendengar akan dia maka tiadalah orang berhimpun kepada Mahamada itu lagi”.

Hataya maka di karangnya suatu kitab seperti karangan Qoraana di suruhnya hantarkan suatu jilid ke benua Yaman dan suatu jilid ke benua Sham dan suatu di bacanya pada Kaabah Allaha dengan di nyaringkannya suaranya pada membaca dia. Maka tiadalah seorang pun datang pada mendengar akan dia melainkan samanya kafir jua maka di turunkan Allaha Taa’laya surat Yusuf ini Nahana Naqosho A’layaka Ahasana Al Qoshosho Bamaa Awahayanaa Alayaka Hazaa Al Qoraana Wa Ana Kanata Mana Qobalaha Lamana Al Ghoafalayana ertinya kami turunkan kepadamu ya Mahamada Qoraana ini pada menyatakan hikayat Yusuf yang sebaik-baik cerita akan padamu.

Bahawasanya tiada seorang jua pun dapat mengarang suatu kitab seperti karangan Qoraana pada fashohatnya badhoa’tnya dan mahatashora perkataannya seperti firman Allaha Taa’laya Qola Lamana Ajatamaa’ta Al Anasa Wa Al Jana A’laya Ana Yaatawaa Ba Matsala Hazaa Al Qoraana Laa Yaatawata Banatsalaha Walawa Kaana Baa’dho Hama Labaa’dho Zhohayaraa ertinya kata olehmu ya Mahamada jikalau kiranya berhimpun segala manusia dan jin akan mengarang surat seperti Qoraana ini pada bilangannya dan fashohatnya pada hal mahatashora nya. Maka tiadalah dapat seseorang jua pun berbuat dia dan jikalau mereka itu berhimpun setengah mereka itu kepada setengahnya bertemu-temu belakang dari Masyrik ke Maghrib sekalipun tiada akan di peroleh mereka itu.

Adapun di ceritakan Maqoatala anak Sulaiman bahawasanya akan Yusuf itu terlalu kasih bapanya Yaaqub akan dia daripada segala anaknya yang lain. Adapun ranting zaitun yang kering-kering tatkala di beri Jibril A’layaha Al Salam tanam pada puteri Sara akan alamatnya beranak itu pun membuahlah lalu berdahan sepuluh cawangnya maka tatkala besarlah anak Yaaqub sepuluh orang itu maka di perbuat Yaaqub segala cawang zaitun akan tongkat segala anaknya. Maka tatkala besarlah Yusuf A’layaha Al Salama maka di ambilnya bapanya Yaaqub daripada saudaranya A’shoya dengan muslihatnya maka marahlah A’shoya akan nabi Allaha Yaaqub A’layaha Al Salama. Pada ketika itu adalah umur Yusuf lima tahun maka pergilah ia bermain-main kepada segala saudaranya maka di lihat Yusuf segala saudaranya bertongkat seorang suatu tongkat pada tangannya maka Yusuf berkata “Beri apalah akan daku suatu tongkat seperi tongkat kamu itu”. Maka kata segala saudaranya “Bahawa tongkat kami ini pun di beri bapa kami. Jika engkau berkehendak akan tongkat pintalah olehmu kepada bapamu”.

Setelah di dengar Yusuf kata segala saudaranya demikian itu maka iapun berlari-lari pergi kepada bapanya Yaaqub katanya “Hai bapaku, berilah akan daku suatu tongkat seperti tongkat segala saudaraku itu” maka kata Yaaqub “Nantilah bapa cari kayu yang baik sahaja kuberi jua akan dikau suatu tongkatseperti tongkat segala saudaramu itu”. Maka Yusuf pun menangis minta tongkat kepada bapanya katanya “Berilah akan daku suatu tongkat sekarang supaya aku pergi bermain-main dengan segala saudaraku” maka Yaaqub pun dukacitalah hatinya oleh mendengar kata Yusuf itu. maka Jibril pun dating kepada Yaaqub membawa suatu tongkat kayu syurga daripada zabarjad yang hijau maka katanya “Ya nabi Allaha, inilah tongkat kurnia Allaha Taa’laya akan anakmu Yusuf kayu dari dalam syurga. Berilah olehmu akan dia” maka nabi Yaaqub pun terlalu sukacitanya maka di ambilnya tongkat itu lalu di berikan akan Yusuf A’layaha Al Salama.

Maka di ambil Yusuf tongkat itu di permainnya maka kata Jibril “Hai Yusuf, hunjamkan olehmu tongkat ke bumi” maka di hunjamkan oleh Yusuf tongkatnya ke bumi dengan kudrat Allaha Taa’laya yang amat kuasa maka tongkat itupun bercawang empat, satu cawangnya kurma, kedua cawangnya delima, ketiga cawangnya buah bidara, keempat cawangnya anjir. Maka pada ketika itu jua berdaun dan berbuah terlalu amat lebat maka kata Jibril “Hai kanak-kanak, makanlah olehmu buah kayu itu” maka Yusuf pun terlalu amat sukacita lalu di makannya buah kayu itu. setelah kenyanglah ia maka di ambilnya tongkat itu maka tongkat itupun kembali seperti dahulukala maka Jibril pun naiklah ke langit.

Setelah itu maka pada suatu hari pergilah Yusuf bermain-main serta segala saudaranya setelah di rasainya dirinya lapar maka di perhunjamkan tongkatnya itu ke bumi. Maka tumbuhlah empat cawang daripada segala buah-buahan maka makanlah oleh Yusuf dan di ajaknya segala saudaranya itu. Akan hairanlah mereka itu melihat kemuliaan mukjizat tongkat Yusuf itu maka dengkilah mereka itu akan Yusuf dan berkata mereka itu sama sendirinya “Bahawa Yusuf ini di kasih oleh bapa kita daripada kita sekelian tetapi kiranya kita sekelian itupun anak juga kepadanya dan adalah bapa kita ini di dalam sesat yang amat nyata” maka berdendamlah hati mereka itu dengki akan Yusuf.

Bermula pada suatu qaul segala pendita tatkala sudahlah di peroleh Yusuf tongkat di dalam syurga itu maka pada suatu malam bermimpi Yusuf. Di dalam mimpinya bermain-main ia dengan segala saudaranya maka masing-masing mereka itu menghunjamkan tongkatnya ke bumi seperti segala saudaranya. Maka tiba-tiba pada rasa Yusuf tongkatnya itu bercawang empat cawing dan berbuah maka makanlah Yusuf dengan segala saudaranya itu. tiba-tiba dating angin yang amat keras lagi amat besar maka di terbangkannya oleh angin itu segala tongkat saudaranya ke laut dan tongkatnya tetap jua di bumi makin tinggi hingga sampai ke langit pada rasa Yusuf. Setelah itu maka iapun terkejut daripada tidurnya lalu gementar segala tubuhnya oleh di lihatnya taufan yang amat besar di dalam mimpi itu.

Maka nabi Yaaqub pun segera mendakap anaknya serta katanya “Apa mulanya maka engkau ketakutan itu” kerana Yusuf tiada pernah bercerai tidurnya daripada sisi bapanya. Maka kata Yusuf “Aku bermimpi” maka ujar Yaaqub “Hai cahaya mataku, apa jua mimpimu itu” maka di katakan Yusuf seperti mimpinya dan barang yang di lihatnya di dalam mimpinya itu. Kemudian maka di sampaikan oleh gundiknya Yaaqub segala mimpi Yusuf yang di ceritakannya kepada bapanya kepada segala saudara Yusuf. Maka pada suatu hari berkata mereka itu kepada Yusuf “Hai anak Rahil, sanya telah kulihat di dalam mimpimu itu yang ajaib-ajaib alamatnya lagi akan dating kepadamu. Dusta sekali engkau ini telah kamu dan kami sekelian ini jadi hambamu”. Maka pada ketika itulah juga pertama-tama dengki mereka itu akan Yusuf adalah tatkala itu umur Yusuf lima tahun.

Kata Wahaba tatkala Yusuf bermimpi melihat matahari dan bulan dengan sebelas bintang sujud kepadanya itu adalah umur tujuh tahun dan adalah mimpinya itu di ceritakan Allaha Taa’laya di dalam Qoraana demikian bunyinya Aza Qoala Yawasafa Laabayaha Yaa Abata Anaya Raayata Ahada A’shara Kawakabaa Wa Al Shamasa Wa Al Qomara Raayata Hama Laya Saajadayana. Tatkala berkata Yusuf akan bapanya Yaaqub “Hai bapaku, bahawasanya kulihat di dalam mimpiku sebelas bintang dan matahari dan bulan kulihat sekelian mereka itu sujud ia kepada aku”. Adapun kata Maqoatala adalah pada ketika malam Yusuf tidur di sisi bapanya maka tidurkannya Yusuf pada lambungnya kanan dan adalah malam Yusuf bermimpi itu malam Jumaat. Maka pada waktu dinihari terjagalah Yusuf daripada tidurnya dengan gementar segala tubuhnya maka segera di peluk oleh Yaaqub dan di dakapnya anaknya itu. Maka di ciumnya antara kedua matanya maka kata Yaaqub akan anaknya “Hai cahaya mataku, apa yang kau lihat di dalam tidurmu itu katakan apalah padaku”.

Maka sahut Yusuf “Hai bapaku, telah kulihat di dalam mimpiku segala pintu langit semuanya terbuka dan keluar cahaya daripadanya kepada segala bukit dan segala pohon kayu. Maka berombaklah segala laut dengan ombak yang akahari dan mengucap tasbih segala ikan di dalamnya dengan berbagai-bagai bahasanya dan tatkala itu rasanya aku memakai pakaian cahaya yang amat baik warnanya dan di dalam tanganku suatu anak kunci perbendaharaan muka bumi terpegang pada tanganku. Maka kulihat pula sebelas bintang dan matahari dan bulan turun dari langit sujud ia kepada aku lalu terjagalah aku”. Maka kata bapanya nabi Yaaqub “Hai cahaya mataku dan buah hatiku bahawa yang mimpimu itu adalah ia sebenarnya daripada tuhanmu maka jangan kau kata-katakan dia kalau di dengar oleh segala saudaramu akan mimpimu yang baik itu.

Bahawa syaitan itu bagi segala manusia seteru yang amat nyata dan demikian lagi telah di pilihnya adalah tuhanmu akan dikau dengan nubuah dan di ajarkan dikau segala takbir mimpi dan di sempurnakannya anugerahkan dikau dan segala anak cucu Yaaqub seperti di anugerahkannya atas nenek moyang dahulukala itu daripada Ibrahim dan Ishaq. Ana Rabaka A’layama Hakayama Bahawasanya tuhanmu jua tuhan yang amat tahu akan segala makhluknya lagi amat hakim pada segala perbuatannya kata Yaaqub akan anaknya seperti firman Allaha Taa’laya Qoala Yaa Banaya Laa Taqoshosho Rawayaaka A’laya Akhowataka Faya Kayadawaa Laka Kayadaa Ana Al Shayathoana Lalaanasaana A’dawa Mabayana ertinya kata Yaaqub janganlah kau ceritakan mimpimu itu seorang juapun kalau terdengar kepada saudaramu nescaya di upayakannya akan dikau dengan beberapa upaya. Bahawasanya syaitan itu seteru yang amat nyata bagi segala manusia”.

Adapun tatkala Yusuf berkata-kata dengan bapanya itu di dengar oleh gundiknya Yaaqub segala kata Yusuf itu maka berkata Yaaqub akan gundiknya “Janganlah kau katakana mimpi anakku Yusuf ini pada seorang jua pun dan pada segala saudaranya pun. Hataya kemudian dari itu maka oleh gundik Yaaqub di ceritakannya segala mimpi Yusuf itu dan kata bapanya itu pada segala anaknya. Setelah di ketahui oleh segala saudara Yusuf akan Yusuf menceritakan mimpinya pada bapanya itu maka makin sangatlah dengki mereka itu akan Yusuf dan bicaralah mereka itu sama sendirinya hendak membunuh Yusuf dan menceraikan Yusuf daripada bapanya Yaaqub.

Maka kata setengah mereka itu kepada setengahnya “Adalah kamu ketahui oleh mimpi Yusuf itu bahawa matahari dan bulan dan sebelas bintang sujud kepadanya itu. kehendak yang matahari itu bapa kita dan bulan itu ibu kita dan yang sebelas bintang itu kita sekelianlah ertinya. Ialah jadi tuan kita dan kita sekelian ini jadi hambanya. Bukankah daripada dusta yang demikian itu baik kita perceraikan ia daripada bapanya seperti firman Allaha Taa’laya Laqoda Kaana Faya Yawasafa Wa Akhowanaha Ayaata Lalasaalayana Bahawasanya telah adalah pada khabar Yusuf dan segala saudaranya itu ya Mahamada akan alamat nubuatmu jua maka ceritakan olehmu bagi segala mereka yang bertanyakan hikayatnya.

Aza Qoalawaa Layawasafa Wa Akhowaha Ahaba Alaya Abayanaa Maka hikayatkan olehmu ya Mahamada akan mereka itu tatkala berkata segala saudara Yusuf sama sendirinya “Bahawasanya Yusuf dan Bunyamin itu sangat di kasih bapa kitalah daripada kita sekelian. Bahawa kita sekelian ini saudara jua baginya bahawasanya bapa kita ini adalah ia di dalam sesat yang amat nyata. Mari kita bunuh akan Yusuf itu atau kita buangkan ia kepada bumi yang jauh supaya jadi samalah kasih bapa kita akan kita sekelian. Maka jadilah kita sekelian kemudian daripada membunuh dia itu daripada kaum yang sholeh”. Qoala Qoatala Mana Hama Laa Taqotalawaa Yawasafa Wa Al Qowaha Faya A’baabana Al Haba maka berkata setengah mereka itu kepada setengahnya iaitu Yahudi ialah yang tertuha daripada segala saudaranya itu “Janganlah kita bunuh akan Yusuf itu mari kita buangkan dia ke dalam telaga supaya di dapat orang akan dia. jika ada kamu kehendaki pada menceraikan Yusuf itu daripada bapanya apatah kita bunuh akan dia”.

Maka kata setengah daripada mereka itu akan Yahudi iaitu Sameon “Benar juga katamu itu tetapi akan Yusuf itu terlalu baik rupanya jika di dapat orang akan dia maka di katanya dirinya anak bapa kita Yaaqub nescaya di sungguhkan oranglah katanya itu. Maka di kembalikan orang ia kepada bapanya nescaya di ketahuinyalah oleh bapa kita segala pekerjaan kita akan Yusuf itu. Maka di sumpahnya akan kita nescaya di kabulkan Allaha Taa’laya sumpahnya kerana ia nabi”. Maka Yahudi pun amarah mendengar kata Sameon itu serta katanya “Jika kamu kehendaki juga pada membunuh Yusuf itu nescaya kuberi tahu bapamu kamu atau akulah akan lawan kamu”. Maka diamlah Sameon mendengar kata Yahudi maka berkata Lawi “Tatkala sudahlah kita buangkan Yusuf ke dalam telaga itu apa jua kita jawab tatkala di tanya akan kita di mana Yusuf itu oleh bapa kita”.

Sahut setengah daripada mereka itu iaitu Rubil “Tiadalah apa jawab kita lagi akan dia maka jika kita layat-layat daging Yusuf maka kita buangkanlah akan dia kepada bumi yang jauh atau ke dalam telaga kemudian maka kita bawa kain baju Yusuf yang berlumur dengan darah itu kepada bapa kita. Maka kita katakan bahawa Yusuf telah di makan harimau akan dia nescaya percayalah bapa kita akan kita sekelian”. Setelah di dengar mereka itu kata Rubil maka semuanya mereka itu membenarkan dia dan Yahudi jua yang berdiam dirinya tiada berkenan ia akan kata Rubil itu maka masing-masing mereka itu pun pulanglah ke rumahnya.

Setelah pada hari lain maka berhimpun pula mereka itu kepada tempat mereka itu berhimpun dahulu itu maka bicaralah mereka itu akan menjauhkan Yusuf daripada bapanya. Maka kata seorang daripada mereka itu “Mari kita bunuh akan Yusuf itu setelah itu kita buangkan ia kepada bumi yang tiada di lihat bapa kita”. Maka dengan takdir Allaha Taa’laya Yaaqub tidur maka mimpinya Yusuf berjalan pada suatu bukit maka dating sepuluh ekor serigala mengusir Yusuf maka di kelilingnya hendak menangkap Yusuf. Maka bumi pun belah maka dating seekor harimau maka di tangkapnya akan Yusuf maka di masukkannya pada bumi yang belah itu. Maka nabi Allaha Yaaqub pun terkejut daripada tidurnya di sangkanya sungguh seperti mimpinya maka anaknya Yusuf pun tiadalah di berinya bercerai daripada sisinya. Akan mimpinya itu di katakannya pada anaknya sekelian maka segala anaknya pun tiadalah kholi daripada membicarakan Yusuf oleh kerana di dengarnya kata bapanya Yusuf mimpinya di tangkap harimau itu.

Maka suatu masa segala anak Yaaqub yang sepuluh orang itu mesyuarat katanya “Apa upaya kita menjauhkan Yusuf itu daripada bapa kita” dan pada suatu cerita segala a’lama dan kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’nahama ajamaa’yana tatkala Yusuf menceritakan mimpinya itu akan bapanya dan berkata bapanya dengan dia maka di dengar oleh seorang perempuan di dalam rumah Yaaqub. Maka kata Yaaqub kepada perempuan “Hai Gholaama jangan kau ceritakan mimpi anakku ini kepada segala saudaranya kalau di upayakan oleh mereka itu akan anakku Yusuf ini dengan beberapa upayanya” maka sahut perempuan itu “Baiklah”. Kata setengah ahli al a’lama akan perempuan itu gundik Yaaqub pada suatu qaul gundik Yaaqub yang bernama Dalafaha.

Hataya kemudian dari itu maka di ceritakan oleh perempuan itu akan mimpi Yusuf itu pada segala saudaranya dan barang yang di kata Yaaqub akan Yusuf itupun semuanya di ceritakannya. Maka mereka itu pun amarahlah akan Yusuf dan besarlah urat zahir mereka itu dan gementarlah kulit mereka itu. Maka kata mereka itu “Adalah Yusuf hendak berbesar dirinya daripada kita oleh sangat di kasih oleh bapa kita akan dia”. Berkata seorang pula “Apa kehendak katanya itu adalah yang matahari itu bapa kita dan bulan itu ibu tiri kita dan segala bintang itu kita sekelianlah sujud akan dia”. Maka kata seorang daripada mereka itu adalah anak Rahil ini hendak jadi tuhan kita dan kita sekelian ini hambanya. Betapa ia takbur atas kita sekelian kerana adalah ia sangat di kasih bapa kita akan dia. maka kata Rubil sungguhlah seperti katamu itu betapa ia tiada takburlah di peroleh olehnya baju dan serban nenek kita Ibrahim makin sangat di besarkan dirinya daripada kita”. Hataya maka dengkilah mereka itu akan Yusuf dari kerana itulah berkata setenga hakama “Jangan percaya engkau akan pari yang membaca kitab dan jangan percaya engkau akan laki-laki yang muda kepada perempuan samanya muda dan jangan percaya engkau pada menggugur rahsiamu kepada perempuan”.

Kata Abana A’baasa datang seorang Yahudi kepada rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama katanya “Ya rasul Allaha, apa-apa nama segala bintang yang di lihat oleh Yusuf di dalam mimpinya” maka berdiam rasul Allaha seketika hingga dating Jibril kepadanya maka di katakan Jibril kepadanya rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama nama segala bintang itu. maka sabdanya rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama “Adapun nama segala bintang itu pertama Harayaana dan kedua Thoaraqo, ketiga Rayaana, keempat Zawa Al Kafatayana, kelima Qoraa’, keenam Watsaba, ketujuh A’mawa, kedelapan Qoalasa, kesembilan Shorawaa’, kesepuluh Mashobaha, kesebelas A’layaqo”. Mak kata Yahudi itu “Demi Allaha, inilah nama segala bintang yang tersebut di dalam kitab”. Nama demikianlah yang tersebut di dalam Kashaafa Al A’lawama.

Kata yang empunya cerita adalah di dalam cerita Yusuf ini dan barang yang berhubung dengan demikian itu oleh kerana sangat kasih Yaaqub akan Yusuf A’layaha Al Salama maka dengkilah segala saudaranya akan dia. hataya maka bicaralah ia segala saudara Yusuf sama sendirinya pada pekerjaan hendak menceraikan Yusuf daripada bapanya Yaaqub A’layaha Al Salama seperti yang di ceritakan Allaha Taa’laya di dalam Qoraana Aza Qoalawaa Layawasafa Wa Akhowaha Ahaba Alaya Abayanaa Manaa Wa Nahana A’shobata Ana Abaanaa Laghoya Dholaala Mabayana ertinya dan tatkala berkata segala saudara Yusuf sama sendirinya “Bahawa adalah Yusuf dan saudaranya Bunyamin itu sangat di kasih oleh bapa kita daripada kita sekelian dan adalah kita saudara kepadanya jua dan adalah bapa kita ini di dalam sesat yang amat nyata. Kata Abana A’baasa adapun erti A’shobata itu daripada sepuluh hingga dating kepada empat puluh yakni adalah mereka itu amat banyak dan Yusuf itu hanya dua bersaudara.

Aqotalawaa Yawasafa Awa Athorahawaha Aradhoa Yakhola Lakama Wajaha Abaya Kama Wa Nakawanawa Amayana Baa’daha Qowamaa Shoalahayana maka berkata seorang daripada mereka itu mari kita bunuh akan Yusuf itu kita buangkan kepada bumi yang jauh nescaya samalah kasih bapa kita akan kita dan adalah kita kemudian daripada membunuh Yusuf itu jadi kaum yang amat sholeh. Qoala Qoatala Mana Hama Laa Taqotalawaa Yawasafa Wa Al Qowaha Faya Ghoyaabata Al Jaba Yalataqothoha Baa’dho Al Sayaarata Ana Kanatama Faaa’layana maka kata setengah mereka itu iaitu Yahudi “Jangan kamu bunuh akan Yusuf itu kerana membunuh seorang nafsu itu dosanya yang amat besar. Jika kamu hendak menceraikan dia pun daripada bapanya marilah kita buangkan ia ke dalam telaga supaya di dapat setengah orang akan dia”. kata yang empunya cerita adalah Yahudi itu orang aqil ialah yang kasih akan Yusuf daripada mereka itu sekelian dan telah tersebut di dalam kitab Kashaafa namanya mereka itu pertama Rubil, kedua Sameon, ketiga Lawi, keempat Yahudi, kelima Laqim, keenam Naqoba, ketujuh Sajadah, kedelapan Rayawan, kesembilan Maa’d, kesepuluh Asan.

Hataya maka mereka itupun hendak membuangkan Yusuf ke dalam telaga maka datanglah mereka itu mendapatkan Yusuf lalu bermain-main mereka itu dengan dia di hadapan bapa mereka itu dan di ceritakan mereka itu kepada Yusuf peri kesukaan tempat bermain-main mereka itu memeliharakan kambing di tengah padang hampir suatu pihak bukit terlalu amat jernih airnya turun dari atas bukit. Di sanalah mereka itu bermain-main yang amat indah-indah dan kami bermain berlumba-lumba di tengah padang. Maka Yusuf pun amat sukacita mendengar kata mereka itu maka kata seorang lagi daripada mereka itu “Adalah di sana daripada buah-buahan yang amat banyak dan air yang mengalir daripada pihak bukit demikian-demikian kesukaan”.

Maka inginlah Yusuf hendak pergi bermain-main serta mereka itu maka kata Yusuf “Bawalah aku pergi bermain-main serta kamu ke sana” maka sahut mereka itu “Pintalah izin kepada bapa kita supaya kami bawa akan dikau bermain-main pada tempat itu”. maka kata Yusuf pada bapanya “Hai bapaku, berilah olehmu aku pergi bermain-main serta saudaraku ketengah padang supaya kulihat mereka itu berlumba-lumba” maka sahut Yaaqub “Tiada aku beri engkau pergi serta mereka itu kerana padang itu amat luas banyak binatang yang buas-buas di sana pada hal mereka itu bersuka-sukaan dengan permainan mereka itu nescaya lupalah mereka itu akan dikau”.

Qoalawaa Yaa Abaanaa Maalaka Laa Taamanaa A’laya Yawasafa Wa Anaa Laha Lanaashohawana maka kata mereka itu “Hai bapa kami suruhlah Yusuf itu pergi serta kami bermain-main pada tempat gembala lembu ke tengah padang supaya di lihat temasya makan buah-buahan di sana dan mandi ia pada air yang keluar di atas bukit itu. tiadakah percaya bapa akan kami yang amat patut memelihara Yusuf. Arasalaha Maa’naa Ghodaa Yarataa’ Wa Anaa Laha Lahafazhowana maka suruhkan ia pergi esok hari serta kami dan kamilah memelihara akan dia. Kata Sayadaya dan Mahaahada maka tatkala di lihat oleh Yusuf tiadalah di beri bapanya akan dia pergi serta segala saudaranya itu maka Yusuf pun menangislah di hadapan bapanya. Maka kata mereka itu “Hai bapa, berilah olehmu akan dia izin pergi serta kami. Tiadakah percaya engkau akan kami. Adalah kami akan memelihara saudara kami sekelian ini saudara kepadanya”.

Qoala Anaya Laya Hazananaya Ana Tazahabawaa Baha Wa Akhoafa Ana Yaakalaha Al Zaaba Wa Anatama A’naha Ghoafalawana maka sahut Yaaqub “Bahawasanya amat dukacitalah hatiku menyuruhkan dia pergi serta kamu sekelian. Takut akan dia di makan oleh harimau pada hal kamu lali dengan permainan kamu”. Kata Sayadaya maka mereka itu pun masing-masing kembali ke rumahnya kerana tiada di izinkan Yaaqub Yusuf pergi serta mereka itu pada sehari itu maka Yusuf pun menangislah dengan dukacitanya tiadalah mahu ia bermain seperti adat sedia kala dating kepada hari yang lain. Maka datanglah pula segala anak Yaaqub kepada bapanya dan Yusuf pun duduk di hadapan bapanya. Hataya telah di lihat Yusuf segala saudaranya dating itu maka sukacitalah hatinya serta berkata ia kepada bapanya “Hai bapaku, berilah aku pergi serta mereka itu. tiadakah bapa percaya akan saudaraku adalah mereka itu amat gagah berani”.

Qoalawaa Laana Akalaha Al Zaaba Wa Nahana A’shobata Anaa Aza Al Khoasarayana maka kata mereka itu “Hai bapa kami, tiadalah engkau percaya akan kami. Jikalau di makannya oleh harimau binatang yang buas akan saudara kami Yusuf ini nescaya adalah bagiku kerugian saudara pada kholi adalah kami amat banyak lagipun kamilah yang memelihara akan dia”. Setelah di dengar Yaaqub kata mereka itu maka lembutlah hatinya pada memberikan Yusuf pergi serta saudaranya maka Yaaqub serta perlahan-lahan ia mengeluarkan suaranya katanya “Hai anakku, kuberilah Yusuf pergi serta kamu tetapi hendaklah jangan kamu tinggalkan dia pada sesuatu tempat dan jangan kamu pelupai akan dia. bahawasanya kusumpah akan kamu dengan nama Allaha Taa’laya hendak jangan kamu kiranya lupai akan dia saudara kamu Yusuf itu dan pelihara oleh kamu akan dia dan bawa oleh kamu akan dia kepada aku dengan sejahteranya”.

Maka sahut mereka itu “Bahkan janganlah tuan hamba serahkan ia kepada kami. Esok hari kamilah yang memelihara akan saudara kami itu” maka kata Yaaqub “Demi Allaha, takutlah di makannya oleh binatang yang buas akan dia pada hal kamu lali dengan permainan kamu”. cerita daripada Naafaa’ ia mendengar daripada Abana A’mara katanya sabda rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama “Jangan kamu ajarkan manusia dengan berdusta maka berdustalah segala anak Yaaqub tiada di ketahui mereka itu harimau makan orang dari kerana adalah Sameon itu jika ia bertempik nescaya keluar anak di dalam perut ibunya perempuan yang bunting dan adalah Yahudi itu apabila ia bertempik nescaya putuslah tangkai hati segala binatang yang mendengar suaranya sebab itulah maka di beri Yaaqub Yusuf pergi serta mereka itu”. Telah di dengar oleh mereka itu kata bapanya takut akan Yusuf di makan oleh harimau maka ikutnyalah seperti kata bapa mereka itu di katanya “Bahawa Yusuf sudah di makan oleh harimau”.

Hataya maka tatkala lembutlah hati Yaaqub memberi anaknya Yusuf pergi serta mereka itu maka kata Yaaqub “Ambillah oleh kamu talam nenekmu Ishaq ke dalam rumahku. Talam itulah yang di hantarkan orang akan dia pada masa tatkalanya lagi kecil mengambil berkatlah aku dengan dia”. hataya maka di bawa oranglah talam itu hadapan Yaaqub maka lalu di basuhnya ikat pinggang Yusuf ke dalam telaga itu katanya “Inilah talam di hantarkan orang akan neneknya kamu Ishaq dalamnya”. Kemudian dari itu maka di suruhnya jemur ikat pinggang itu katanya “Kembalilah kamu dahulu, esok hari marilah kamu mengambil saudara kamu Yusuf ini hataya kembalilah mereka itu dengan sukacitanya.

Setelah dating kepada esok hari maka mereka itu pun datanglah dari pagi-pagi mendapatkan bapa mereka itu kerana mengambil Yusuf A’layaha Al Salama maka dapat mereka itu Yusuf lagi duduk di sisi bapanya Yaaqub dan di minyakinya kepala Yusuf dan di pakaikannya dan ikat pinggang dan memakai baju kamis di luar dan baju yang halus dari dalamnya dan di kenakannya kopiah atas kepala anaknya Yusuf maka terlalu amat elok rupanya. Setelah sudah memakai maka di tilik Yaaqub akan anaknya itu lalu ia menangis katanya “Pergilah engkau serta saudaramu” maka kata Yusuf “Inilah segala saudaraku pun sudahlah datang”.

Maka kata Yaaqub pada mereka itu “Hai segala anakku, berjanjilah kamu dengan daku hendaklah kamu bawa Yusuf ini kembali kepada aku dan jika ia lapar beri oleh kamu makan dan jika ia dahaga beri oleh kamu air akan dia. Inilah bekas makanannya dan tempat minum” lalu di unjukkan Yaaqub kepada tangan Shaajara dan suatu sumpit kulit dan suatu kendi berisi air maka di ambil oleh Shaajara akan dia. Maka kata Yaaqub “Bawalah saudara kamu ini dan aku pun pergi serta kamu menghantarkan dia. Hataya maka di sambut Sameonlah akan Yusuf lalu di tanggungnya ke atas bahunya maka berjalanlah mereka itu dan Yaaqub pun berjalan serta mereka itu sambil menangis hingga dating kepada suatu pohon kayu tempat perhentian orang.

Maka berhentilah Yaaqub lalu di ambilnya anaknya Yusuf itu serta di ciumnya antara kedua matanya maka katanya “Hai Yusuf, kuserahkanlah engkau kepada tuhanmu dan tuhan bapamu Ibrahim dan Ishaq dan ia jua tuhan yang sebaik-baik memeliharakan dikau”. Hataya setelah itu maka segeralah di ambil Sameon akan Yusuf lalu di bawanya berjalan dan Yaaqub pun tinggallah berdiri di bawah pohon kayu itu serta menangis adalah seolah-olah menyesal ia memberikan Yusuf pergi serta mereka itu. Maka tatkala sudahlah jauh segala anaknya maka Yaaqub pun kembalilah sambil menyapu air matanya hingga sampailah ke rumahnya.

Falamaa Zahabawaa Baha Wa Ajamaa’waa Ana Yajaa’lawaha Faya Ghoyaabata Al Jaba Wa Awahayanaa Alayaha Latanabata Hama Ba Amara Hama Hazaa Wa Hama Laa Yashaa’rawana maka tatkala di bawa mereka itu akan Yusuf ke tengah padang hingga tiadalah kelihatan bapa mereka itu maka berkehendaklah mereka itu akan membunuh Yusuf itu membuangkan akan dia ke dalam telaga kemudian daripada sudah di persakit mereka itu hatinya. Maka turunkan wahaya kepadanya kerana menentukan hatinya supaya di ketahuinya akan kesalahan pekerjaan bahawasanya adalah pada ketika itu jadi nabi. kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’naha tatkala di lihat mereka itu jauhlah Yaaqub daripada mereka itu maka di buangkan Sameon lah Yusuf dari atas bahunya serta katanya “Hai anak Rahil, janganlah engkau berjalan serta kami”. Maka berjalanlah mereka itu dengan bersegara dan Yusuf pun berjalanlah dari belakang mereka itu.

Hataya maka berseru-seru Yusuf kepada mereka itu katanya “Beri apalah akan daku air” maka tiada di beri mereka itu akan dia maka makin sangatlah mereka itu berjalan pantas-pantas dan di berikan mereka itu segala juadah yang di bekal Yaaqub akan anaknya Yusuf itu kepada anjing. Setelah sampai mereka itu kepada suatu perhentian maka berhentilah mereka itu di sana dan Yusuf pun sampailah kepada mereka itu. maka kata Yusuf “Kamu hendak di bunuhkah akan daku maka tiada kamu beri akan aku air dan tiada kamu nanti akan daku” maka di tamparnya oleh seorang daripada mereka itu akan Yusuf serta katanya “Jangan engkau berjalan dengan kami”. Maka kata Yusuf “Apalah salah aku pada kamu” maka di tampar oleh seorang pula akan dia serta katanya “Hai anak Rahil, minta tolonglah engkau kepada bulan dan matahari yang sujud kepadamu”.

Hataya maka tahulah Yusuf dirinya hendak di bunuh oleh mereka itu maka lalu ia menangis serta katanya “Jika kamu hendak bunuh pun aku beri apalah kepada aku air dahulu”. Maka kata mereka itu “Pinta olehmu air kepada bulan dan matahari dan sebelas bintang itu kerana ia sujud akan dikau” lalu di tampar seorang pula akan mulut Yusuf. Maka pergi ia kepada seorang saudaranya maka iapun menampar muka Yusuf juga akan dia hingga di kata Yusuf A’layaha Al Salama dengan suara yang nyaring serta ia menangis “Tiadakah di pesan oleh bapa kamu peliharakan akan Yusuf mengapa maka kamu perbuatkan daku demikian ini”. Maka Yusuf pun pergi kepada Yahudi maka kata Yahudi “Hai anak Yaaqub, hendak kamu bunuhkah akan Yusuf ini tiada sekali rahim di dalam hati kamu. Jikalau kamu hendak membunuh dia tiadalah aku serta kamu”.

Setelah di lihat mereka itu Yahuda kasihan akan Yusuf maka kata mereka itu hendak engkau kembalikanlah Yusuf kepada bapamu kemudian daripada sedikit perbuat akan dia yang demikian itu. bahawasanya sejahat-jahat perbuatanlah bangkit perbuat akan akan dia ini”. Maka kata Yahuda “Tiadakah sudah kita bicarakan hendak membuangkan dia ke dalam telaga. Mengapa maka kamu perbuat akan dia demikian ini”. Hataya maka di diamlah mereka itu dan muafakatlah mereka itu seperti bicara mereka itu hendak membuangkan Yusuf ke dalam telaga. Hataya maka berjalanlah mereka itu kepada tempat mereka itu gembala kambing dan Yusuf A’layaha Al Salama pun mengikut dari belakang mereka itu maka Yusuf berkata “Beri apalah akan daku air jika kamu hendak bunuh sekalipun akan daku” maka kata mereka itu “Hai anak Rahil, tiadakah sudah kami kata pintalah olehmu kepada bulan dan matahari kerana keduanya berbuat khidmat akan dikau”. Di tangislah Yusuf serta katanya “Hai bapaku, jika kau lihat kiranya akan anakmu di perbuat orang demikian ini nescaya dukacitalah hatimu”.

Hataya maka sampailah mereka itu kepada tempat gembala kambing maka di lihat oleh gembala kambing itu akan hal Yusuf sangat menangis serta dengan lapar dahaganya maka kata gembala kambing itu “Apa perbuatan ini tiada sekali kasihan kamu akan dia kanak-kanak ini” maka sahut mereka itu “Adalah ia ini dusta. Katanya kami sekelian ini hambanya” maka diamlah mereka itu kemudian dari itu maka mereka itupun berbicaralah akan membuangkan Yusuf ke dalam telaga. Maka kata Rubil “Mari kita bunuhlah akan Yusuf ini jika hidup ia nescaya di ketahui oleh bapa kita akan peri perbuatan kita ini akan dia” dan berkata seorang pula “Mari kita ikat akan dia pada leher lembu maka kita lepaskan pula lembu itu nescaya matilah ia di dalam padang ini. Maka kita katakan ia di makan oleh harimau” dan berkata seorang lagi “Jika demikian tiadalah kita peroleh darahnya jika kita bunuh akan dia maka kita ambil darahnya lumurkan pada kain bajunya dan kita katakan ia sudah mati di tangkap harimau nescaya tiadalah kita kena sumpah bapa kita”.

Setelah di dengar oleh Yahuda kata mereka itu demikian itu maka kata Yahuda “Demi Allaha, jika ada bicara kamu demikian itu akulah akan lawan kamu dan lagi akan kuceritakan segala perbuatan kamu itu kepada bapa kamu kerana kamu hendak membunuh nafas yang amat suci. Tiada dapat tiada akan seksa Allaha Taa’laya juga akan kita seperti di seksa akan Qabil oleh kerana membunuh Habil dan jika kamu kehendaki juga akan menceraikan daripada bapa kita marilah kita buangkan akan dia ke dalam telaga seperti bicara kita dahulu itu” seperti kata Wahaba abana Manabaha tatkala mereka itu berkata-kata itu maka Yusuf pun menangis dan di dengarnya segala perkataan mereka itu makin sangat ia menangis hingga bengkaklah kedua matanya serta dengan lapar dahaganya. Maka kata Rubil kepada Yahuda “Lihatlah olehmu akan anak Rahil ini takutlah ia akan mati” maka Yahuda pun kasihan melihat hal Yusuf itu lalu di panggilnya akan dia hampir ke sisinya katanya “Jangan engkau takut akulah yang menegahkan mereka itu daripada membunuh dikau”.

Hataya maka di cari mereka itulah telaga hingga bertemulah mereka itu dengan suatu telaga di tepi bukit hampir jalan orang pergi ke negeri Mesir dan adalah telaga itu di perbuat oleh Saama anak Nuh A’layaha Al Salama di namakan orang telaga itu Haba Al Ahabaara terlalu dalam telaga itu luas ke bawahnya dan sempit ke atasnya dan tiada kelihatan airnya daripada sangat dalamnya. Kata Abana A’baasa maka tatkala sudahlah mereka itu bertemu dengan telaga itu maka di hela mereka itu akan Yusuf A’layaha Al Salama hampir kepada telaga itu. Maka Yusuf pun menangis serta memandang kepada Yahuda katanya “Tiadakah takut kamu akan sumpah bapa kami akan dikau”. Maka tatkala itu airmatanya Yahuda mengalir sampai ke janggutnya oleh mendengar kata Yusuf itu katanya “Hai anak Yaaqub, kamu hendak bunuhkan nafas yang amat suci tiada sekali kasihan hati kamu akan dia” maka kata Sameon “Hai Yahuda, betapa pula engkau berkata demikian kerana sudah putus bicara kita dan lagi akan kita kembalilah ia ini kepada bapamu” maka Yahuda pun berdiam dirinya.

Kata Abana A’baasa dan Kaa’ba Al Ahabaara maka di buangkan mereka itu baju Yusuf daripada tubuhnya dan di ambil oleh mereka itulah kopiah dari atas kepala Yusuf maka lalu di ikat mereka itu kedua tangannya Yusuf kepada tengkuknya. Maka kata Yusuf “Jangan kamu ikat kedua tanganku supaya mudah aku minum air atau kubunuh binatang yang hendak membinasakan daku dan jangan kamu buangkan bajuku selapis ini. Jika aku matipun dapatlah ia akan kapanku”. Maka menangislah Yahuda mendengar kata Yusuf itu lalu katanya “Benarlah seperti kata Yusuf itu. Jangan kamu ikat kedua tangannya dan jangan kamu buangkan baju pada tubuhnya itu”. Kemudian seolah-olah menyesal Yahuda daripada masuk bicara dengan mereka itu maka diamlah ia hingga airmatanya juga bercucuran.

Kelakian maka di huraikan mereka itu pula ikatnya Yusuf dan hendak di buangkan mereka itu hamail yang tergantung pada leher Yusuf itu maka di tegahkan oleh Yahuda akan dia maka tiadalah jadi di ambil mereka itu ke atas dia. Adalah hamail itu baju yang amat halus daripada kain sutera dari dalam syurga di kurnia Allaha Taa’laya akan Ibrahim A’layaha Al Salama tatkala ia dalam api di buangkan oleh Namrut a’layaha laa’nata. Maka di lipat oleh Yaaqub lalu di buangkan dengan kain maka di gantungnya pada leher anaknya Yusuf A’layaha Al Salama terpelihara ia daripada bahaya dunia dengan berkatnya.

Arakian maka di ikat mereka itulah pinggang Yusuf dengan tali daripada kulit lembu lalu di perhulurkan mereka itu akan Yusuf ke dalam telaga itu maka Yusuf pun memberi salam kepada Yahuda. Setelah di jawab oleh Yahuda akan salam Yusuf itu maka Yusuf pun makin jauhlah ke dalam telaga itu. Setelah sampailah Yusuf pada sama tengah telaga itu maka di putuskan mereka itulah tali itu supaya mati Yusuf di dalamnya. Maka di titahkan Allaha Taa’laya Jibril A’layaha Al Salama menyambut Yusuf maka di keluarkan Jibril suatu batu putih dari dalam telaga itu hingga duduklah Yusuf di atasnya. Maka turunlah batu itu ke dalam telaga itu serta Yusuf A’layaha Al Salama maka kata Jibril “Hai Shodayaqo, jangan engkau takut bahawa tuhanmu ada yang memelihara akan dikau daripada kejahatan mereka itu. Akulah Jibril mendapatkan engkau dengan titah tuhanmu”.

Maka sukacitalah hati Yusuf mendengar kata Jibril itu di lihatnya amat terang di dalam telaga itu lalu di minumnya air di dalamnya hingga puaslah dahaganya. Maka datang Malaka Radhowaana di dalam syurga membawa sehelai baju lalu di pakaikan Jibril kepada Yusuf A’layaha Al Salama. Maka Jibril pun hendak naik ke langit maka dukacitalah hati Yusuf maka kata Jibril “Baca olehmu doa nescaya di tetapkan Allaha Taa’laya akan dikau di dalamnya dan di segerakannya akan dikau keluar daripadanya. Allahama Yaa Shoanaa’ Kala Mashonawaa’ Wa Yaa Jaabara Kala Kasayara Wa Yaa Matholaqo Kala Asayara Wa Yaa Mawanasa Kala Wahayada Wa Yaa Shoahaba Kala Ghorayaba Wa Yaa Qorayaba Kala Baa’yada Ajaa’la Laya Mana Amaraya Farahaa Wa Makhorajaa Anaka A’zayaza Hakayama Hai tuhanku yang menjadikan tiap-tiap segala kejadian dan yang membaiki tiap-tiap segala hati yang binasa dan yang melepaskan tiap-tiap yang di dalam penjara dan hai yang menjaga hati yang dukacita dan hai yang jadi taulan tiap-tiap pada orang yang dagang dan hai yang amat hampir daripada tiap-tiap yang jadikan olehmu oleh keluasan di dalam pekerjaanku ini dengan sentosa. Bahawasanya engkau jua tuhan yang amat mulia lagi penyayang bagi orang yang teraniaya”. Setelah sudah di ajarkan oleh Jibril A’layaha Al Salama akan Yusuf doa itu maka iapun naiklah ke langit dan senantiasalah di baca-baca Yusuf doa itu.

Kata Kaa’ba radhoya Allaha a’naha pada suatu riwayat “Kudengar adalah doa yang di ajarkan Jibril kepada Yusuf itu demikian bunyinya Yaa Shorayakho Al Masatashora Khoyana Wa Yaa Ghoyaatsa Al Masataghoyatsayana Wa Yaa Mafaraja Karaba Al Makarawabayana Qoda Taraya Makaanaya Wa Taa’laya Haalaya Laa Yakhofaya A’layaka Shaya Mana Amaraya Hai yang tempat mengadap segala orang yang mengadu dan hai yang menyampaikan pinta segala orang yang meminta dan meluaskan tempat yang picak lagi yang amat hampir. Sanya telah kulihat halku”.

Kata yang empunya cerita maka di turunkan Allaha Taa’laya suatu cahaya dari langit hingga jadi teranglah di dalam telaga itu dan turun segala malaikat akan teman Yusuf berkata-kata di dalamnya maka tiadalah Yusuf sunyi di dalam telaga itu seperti firman Allaha Taa’laya Wa Awahayanaa Alayaha Latanabana Hama Ba Amara Hama Hazaa Wa Hama Laa Yashaa’rawana ertinya telah kami turunkan wahaya kepada Yusuf dalam telaga ini dan kami ceritakan padanya dengan kebajikan adalah ia pada ketika itu jadi nabi. Kata Hasana adalah tatkala Yusuf di dalam telaga itu umurnya tujuh belas tahun kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’naha empat belas tahun umurnya dan lama ia di dalam penjara tujuh tahun dan menjadi raja Mesir delapan puluh tahun dan tatkalanya belum menjadi raja tiga belas tahun dan adalah lama umurnya seratus dua puluh tahun Wa Allaha Aa’lama.

Kata Abana A’baasa dan Sayadaya tatkala di buangkan oleh mereka itu Yusuf ke dalam telaga maka berhimpunlah mereka itu makan dan minum barang yang ada makanan yang di bawanya oleh mereka itu. Setelah itu berkata seorang daripada mereka itu “Apa bicara kita dan apa yang hendak kita katakan pada bapa kita akan perbuatan kita akan Yusuf itu”. Maka sahut seorang daripada mereka itu “Adalah bapa kita takut akan Yusuf di makan oleh harimau maka kata itulah kita katakan pada bapa kita” maka kata seorang daripada mereka itu pula “Jika di pinta oleh bapa kita manatah kain baju Yusuf bawalah kepadaku. Apa sahut kita”. Maka kata mereka itu “Mari kita ambil darah kambing maka kita lumurkan pada baju Yusuf dan kita katakan itulah baju Yusuf berlumur dengan darah”.

Hataya maka di benarkan mereka itulah seperti kata itu hataya maka di tangkap mereka itu seekor kambing lalu di sembelihnya akan dia. Setelah itu di ambilnya darah kambing itu lalu di lumurnya kepada baju Yusuf hingga lekatlah bulu kambing itu tiga helai pada darahnya. Arakian maka kembalilah mereka itu kepada bapa mereka itu seperti firman Allaha Taa’laya Wa Jaawa Abaa Hama A’shaa Yabakawana Qoalawaa Yaa Abaanaa Anaa Zahabanaa Nasatabaqo Wa Tarakanaa Yawasafa A’nada Mataa’naa Faakalaha Al Zahaba Wa Maa Anata Bamawamana Lanaa Wa Lawakanaa Shodaqoyana. Hataya maka datanglah mereka itu kepada bapa mereka itu pada waktu Isyak dengan tangisnya mereka itu. Maka kata Yaaqub “Manatah anakku Yusuf” maka sahut mereka itu “Hai bapaku, pergilah kami bermain-main panah dan berlumba-lumba maka kami tinggalkan Yusuf pada barang-barang apa kami maka tangkap oleh harimau akan dia tetapi tiada bapa kami percaya akan kami jika ada benar kata kami sekalipun”.

Kata Abana A’baasa dan Dhohaaka dan Majaahada dan Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’nahama dan tatkala hampirlah mereka itu ke rumah Yaaqub maka berteriaklah mereka itu dengan suaranya yang nyaring dan tangisnya mereka itu. Maka di dengar oleh Yaaqub suara mereka itu menangis dari jauh lalu di suruh anaknya Bunyamin naik ke atas bumbungan rumahnya melihat ke jalan orang datang siapa yang berteriak itu. Maka di dengarnya Bunyamin orang berteriak itu terlalu amat banyak dan di kenalnya di dalam banyak itu suara Sameon katanya “Wah wah telah datanglah kedukaan atas kami dan kecelaan dengan kehilangan saudara”. Maka Bunyamin pun segera ia turun memberi tahu bapanya katanya “Hai bapaku, kudengar suara Sameon katanya wah wah apakah mereka itu” maka berdebarlah rasa hati Yaaqub lalu katanya “Gerangan hal mereka itu”.

Kata Sayadaya adalah tempat mereka itu gembala kambing itu dengan rumah Yaaqub tiga mil dan pada suatu mil itu seribu langkah yang gahari dan tiga mil itu suatu persakho. Maka Yaaqub pun ternanti akan datang mereka itu hingga lampau waktu Maghrib. Setelah datanglah mereka itu kepada bapa mereka itu pada waktu Isyak serta dengan tangis mereka itu maka terkejutlah hati Yaaqub katanya “Manatah Yusuf” maka mereka itu “Hai bapa kami telah kedukaanlah kami dengan kehilangan saudara kami akan Yusuf itu sudahlah di tangkap oleh harimau”. Setelah di dengar Yaaqub kata mereka itu maka iapun mengharap lalu rebah pengsan tiada khabarkan dirinya. Kemudian maka katanya pula “Mana Yusuf” maka sahut Rubil “Yusuf sudah di tangkap oleh harimau” maka mengharap pula Yaaqub sekali lagi rebah lalu pengsan pula.

Setelah siuman ia daripada pengsannya maka kata Yaaqub “Jangan kamu mudahkan pekerjaan kamu ini” seperti firman Allaha Taa’laya Wa Jaawa A’laya Qomayashoha Badama Kazaba Qoala Bala Sawalata Lakama Anafasa Kama Amaraa Fashobara Jamayala Wa Allaha Al Masataa’ana A’laya Maa Tashofawana ertinya maka kata mereka itu “Bahawa inilah baju Yusuf” dusta kata mereka itu maka kata bapa mereka itu “Betapa kiranya kamu perbuatkan di dalam pekerjaan kamu ini. Baikkah sabar aku barang yang kamu perikan anakku Yusuf dengan di makan harimau itu. Bahawasanya Allaha Taa’laya jua yang menolong dia dengan barang yang kamu perikan itu”.

Setelah itu maka kata Yaaqub “Manatah baju anakku Yusuf itu” maka di unjukkan Yahuda kepada bapanya baju Yusuf itu maka di ambil Yaaqub lalu di tiliknya akan baju itu tiada carik. Maka katanya “Ajaib sekali aku tiada carik baju anakku ini. Bahawasanya tiada sekali-kali anakku di makan oleh harimau. Tiada harimau itu mahu makan anak segala nabi dan lagi pula di kenalnya oleh harimau itu tanda segala nabi itu barang yang tiada di kenalnya oleh segala manusia” lalu di lekapkan Yaaqub baju Yusuf itu kepada mukanya itu maka menangis pula ia serta katanya “Sabarlah aku atas barang yang di perikan mereka itu akan anakku”. Maka Bunyamin pun berteriak berguling-guling dirinya kerana bercinta akan saudaranya Yusuf itu maka di ambil oleh mak mudanya akan dia maka bertambah-tambah dukacita hati Yaaqub melihat hal Bunyamin itu lalu ia berpaling daripada mereka itu dengan dukacitanya.

Setelah hari siang maka datang pula segala anak Yaaqub kepadanya maka kata Yaaqub “Jika sungguh seperti katamu sekelian ini anakku Yusuf itu di makan oleh harimau maka tangkapkan oleh kamu akan harimau itu. Bawa kepada aku serta mayat Yusuf anakku jikalau tiada demikian nescaya kusumpah kamu supaya binasa kamu sebab anakku itu”. Kata empunya cerita maka keluarlah mereka itu daripada Yaaqub dengan dukacita mereka itu maka kata Sameon “Esok harilah kita pergi mencari harimau itu ke dalam hutan. Jikalau tiada kita peroleh nescaya di sumpah oleh bapa kitalah akan kita sekelian”. Maka kata Rubil “Adapun akan harimau itu kita peroleh jua dan akan mayat Yusuf itu di mana kita bawalah melainkan kita keluarkan ia dari dalam telaga kita bunuh akan dia kemudian maka kita bawalah mayatnya kepada bapa kita”. Maka sahut Yahuda “Demi Allaha, tiadalah kuberi Yusuf itu keluarkan dari dalam telaga. Tiadakah sudah berjanji kamu dengan daku tiadalah kita bunuh Yusuf itu maka sekarang betapa pula kamu berkata demikian”. Maka kata mereka itu “Benar seperti kata Yahuda itu” tetapi adalah hati mereka itu sekelian terlalu sangat dukacita.

Setelah sianglah hari maka mereka itupun pergilah mencari harimau dengan bersegera lalu di tangkapnya maka di bawanya kepada bapanya. Setelah di lihat Yaaqub harimau itu maka katanya “Inikah harimau yang makan anakku Yusuf itu” maka sahut mereka itu “Bahkan ialah yang amat buas menangkap kambing kami”. Maka kata Yaaqub “Uraikan oleh kamu ikat harimau itu jikalau ia makan anakku Yusuf nescaya larilah ia daripada aku”. Hataya maka di uraikan mereka itu ikat harimau itu di hadapan Yaaqub maka kata Yaaqub “Maha suci tuhanku, jikalau di kehendakinya nescaya berkata-katalah harimau itu dengan daku. Hai binatang engkaukah makan anakku Yusuf”. Maka sahut harimau itu dengan lidah yang fasih “Demi kemuliaanmu, tiada sekali-kali aku makan anakmu Yusuf itu. Betapa aku seekor harimau yang gharib datang dari Mesir hendak mengunjungi keluargaku maka tiba-tiba di tangkap oleh segala anakmu akan daku. Demi Allaha, tiada kami makan daging segala nabi”.

Setelah di dengar Yaaqub kata harimau itu maka katanya “Wah sedang harimau lagi kasih akan saudaranya betapa kiranya tiada kasih kamu akan saudara kamu”. Maka segala anak Yaaqub pun menundukkan kepalanya kerana malunya maka kata Rubil “Tiada kami dusta hai bapa kami tetapi jikalau ada benar kami sekalipun tiadalah percaya bapa akan kami”. Maka Yaaqub pun berpaling daripada mereka itu serta katanya “Wah amat dukacitalah hatiku dengan percintaan yang amat sangat” lalu ia menangis maka segala anak Yaaqub pun kembalilah ke rumahnya masing-masing.

Kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’naha sabda nabi Sholaya Allaha A'layaha Wa Salama “Tiada di anugerahkan Allaha Taa’laya pada tiap-tiap segala umat nabi yang lain daripada umatku melainkan di kata mereka itu wah wah di dalam dukacita mereka itu melainkan di suruhkan Allaha Taa’laya pada umatku mengatakan Anaa Lalaha Wa Anaa Alayaha Raajaa’wana. Adalah kami di lihat di dalam tiap-tiap segala perkataan mereka itu tatkalanya dukacita melainkan di kata mereka itu wah wah tiada seperti umatku.

Dan pada suatu riwayat telah di tanyai orang akan Yaaqub tatkala sudah di pegang saudaranya Bunyamin di dalam negeri Mesir “Apa sebab hilang penglihatan matamu ya nabi Allaha” maka sahutnya “Sebab bercintaku akan anakku Yusuf” dan lagi di tanyai orang akan dia “Apa sebab maka bongkok belakangmu” maka sahutnya “Sebab bercinta aku akan saudaranya Bunyamin”. Arakian maka senantiasalah Yaaqub dukacita dan menangis akan anaknya Yusuf A’layaha Al Salama hingga jadi butalah kedua matanya. Kata Abana A’baasa tatkala Yusuf di dalam telaga itu datang Yahuda adapun tiap-tiap hari membawa makanan akan Yusuf saudaranya di hulurnya ke dalam telaga itu tiga hari jua lamanya dan pada suatu riwayat lima hari lamanya.

Hataya maka datang suatu kafilah dari negeri Madayana hendak ke Mesir nama penghulu mereka itu Malaka abana Daa’ra berhenti mereka itu hampir telaga itu maka di suruhnya orang mengambil air ke dalam telaga itu maka di hulur orang itulah timba ke dalam telaga itu seperti firman Allaha Taa’laya Wa Jaata Sayaarata Faarasalawaa Wa Aradahama Faadalaya Dalawaha Qoala Yaa Basharaya Hazaa Gholaama Wa Asarawaha Badhoa’ta Wa Allaha A’layama Ba Maa Yaa’malawana dan tatkala itu datang orang berniaga dari negeri Madayana hendak ke negeri Mesir maka hulur mereka itu timba ke dalam telaga itu maka Yusuf pun berpaut pada tali timba itu. Setelah di lihat oleh mereka itu seorang kanak-kanak memegang tali timba mereka itu lalu di ambilnya akan Yusuf katanya “Hai penghulu kami, lihatlah olehmu kami dapat seorang kanak-kanak di dalam telaga ini” maka kata mereka itu “Inilah kanak-kanak di jual orang pada kami”. Bahawasanya Allaha Taa’laya jua tuhan yang amat tahu dengan barang yang di perikant oleh mereka itu akan dia.

Kata Kaa’ba dan Sayadaya maka mereka itupun berhimpunlah pada telaga itu kerana melihat rupa Yusuf terlalu amat elok seolah-olah bulan purnama bercahaya rupanya dan adalah pada ketika itu Yahuda pun datang hendak memberi makanan akan Yusuf. Maka di lihatnya banyak orang yang berhimpun pada telaga itu dan Yusuf pun ada serta mereka itu maka Yahuda pun segera kembali memberi tahu segala saudaranya. Maka datanglah mereka itu kepada Yusuf maka di lihat mereka itu Yusuf duduk di sisi Maalaka abana Daaa’ra maka kata mereka itu “Inilah budak yang lari kami tebus sahaya orang di jual temannya dan jika kamu hendak menebus dis bahawasanya kami juallah pada kamu”. Maka Rubil pun berkata kepada Yusuf dengan bahasa Ibrani “Mengakulah engkau hai Yusuf daripada sahaya kami jika tiada demikian nescaya kami bunuh akan dikau”. Maka kata Sameon “Hai Maalaka, ketahui olehmu inilah budak yang sudah kami tebus daripada tuannya lari ia daripada kami. Tebuslah olehmu akan dia”.

Maka kata Maalaka abana Daaa’ra “Berapa harganya” maka kata Sameon “Budak ini amat jahat tebuslah olehmu delapan belas dirham”. Setelah di dengar Maalaka abana Daaa’ra harganya amat murah itu terlalu amat sukacita hatinya menebus Yusuf dengan harga yang murah. Maka kata Maalaka abana Daaa’ra “Engkau ini sahaya mereka itukah” maka sahut Yusuf A’layaha Al Salama “Bahkan aku ini hamba Allaha” lalu iapun menangis dengan tangisnya yang amat sangat. Hataya maka di tebuslah oleh Maalaka abana Daaa’ra dengan delapan belas dirham dan kata setengah a’lama dengan dua puluh dirham jua. Hataya maka di ambil mereka itulah harga Yusuf lalu di bahagi-bahagi mereka itu seorang dua dirham dari kerana mereka itu sepuluh orang dan pada suatu riwayat bahawa akan Yahuda tiadalah mahu ia mengambil harga Yusuf itu maka di kembalikannya pula kepada Maalaka abana Daaa’ra yang dua dirham itu. Setelah sudah di jual mereka itu Yusuf kepada Maalaka abana Daaa’ra pun terlalu sangat sukacita hatinya.

Kata Abana A’baasa dan Kaa’ba dan Sayadaya adalah tatkala Yusuf duduk bersama-sama dengan bapanya suatu hari menilik ia di dalam cermin maka di lihatnya rupanya itu terlalu amat elok lagi bercahaya-cahaya maka katanya “Jikalau ada kiranya aku sahaya orang nescaya tiadalah dapat terhargakan diriku dari kerana itulah maka di beri Allaha Taa’laya akan daku di jual orang dengan harga yang murah itu kadar dua puluh dirham jua” seperti firman Allaha Taa’laya Wa Sharawaha Ba Tsamana Bakhosa Daraa Hama Maa’dawadata Wa Kaanawaa Fayaha Mana Al Zahadayana Dan di jual mereka itulah Yusuf dengan harga yang murah dengan delapan belas dirham jua dan adalah mereka itu daripada orang yang tiada gemar akan dia.

Kata Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha telah di kata mereka itu kepada Maalaka abana Daaa’ra “Adalah budak ini pelari lagi pencuri. Jangan kamu alpakan hendaklah kamu kawal akan dia. Jangan di beri berjalan ke sana ke mari”. Maka kata Maalaka abana Daaa’ra kepada Baharawara “Suratkan olehmu akan dia tanda sah jual beli kita dengan mereka itu dan pinta olehmu cap dan tapak tangan dan saksi maka tarikhlah olehmu akan dia”. Hataya maka di perbuat Baharawara lah seperti kata penghulunya dan pintanya bekas tapak tangan mereka itu dan di beri mereka itu akan dia.

Hataya setelah putuslah bicara mereka itu maka berjalanlah Maalaka abana Daaa’ra ke negeri Mesir maka di suruh Yusuf naik ke atas seekor unta. Setelah sampai mereka itu hampir kepada kubur Rahil bonda Yusuf A’layaha Al Salama tiadalah dapat di tahani oleh Yusuf dirinya duduk di atas unta. Maka melompat dari atas unta itu pergi berguling-guling di atas kubur ibunya serta katanya “Hai ibuku, buka apalah olehmu tutup mukamu dan angkatkan kepalamu lihatlah akan hal anakmu Yusuf beroleh kesukaran yang amat besar” serta ia menangis dengan suara yang amat nyaring. Kata Kaa’ba Al Ahabaara tatkala itu di dengar oleh Yusuf suatu suara “Sabarkan olehmu kehendak tuhanmu tiada jua yang sabar itu melainkan di balas oleh tuhannya akan dia dengan kebajikan yang amat besar”.

Hataya setelah di lihat oleh Maalaka abana Daaa’ra akan Yusuf tiada di atas untanya lalu ia berseru “Hai segala kamu telah tiadalah kulihat akan Yusuf serta kamu”. Hataya maka di carin mereka itulah akan dia maka di dapat mereka itu ia berguling-guling di atas suatu kubur serta dengan tangisnya. Maka kata seorang daripada mereka itu “Hai Ghulam, adalah engkau ini di kata tuanmu pelari maka tiada juga kami percaya akan dia”. Maka sahut Yusuf “Demi Allaha, tiada kulari daripada kamu. Bahawasanya telah kulihat kubur ibuku maka tiadalah dapat kutahani diriku daripadanya”. Hataya maka di tariknya akan tangan Yusuf di tamparnya mukanya katanya “Segeralah engkau naik ke atas unta ini. Marilah kita berjalan”. Pada suatu riwayat di kenakan mereka itu akan dia belenggu maka kata seorang daripada mereka itu “Adalah kulihat budak ini senantiasa menangis juga kerjanya. Siapa tahu kalau sungguh juga katanya itu”.

Hataya setelah Yusuf naik ke atas untanya maka berjalanlah ia serta mereka itu maka kata Yusuf “Hai tuhanku, engkau jua tuhan yang amat mengetahui akan hal ehwal hambamu”. Dengan takdir Allaha Taa’laya pada ketika itu juga naiklah suatu awan yang amat hitam mengandung hujan yang amat lebat serta angin yang amat keras lagi kelam kabut dengan guruh maka tiadalah seorang aman hingga jadi huru haralah mereka itu tiada berketahuan. Hataya maka berserulah Maalaka abana Daaa’ra “Siapa jua yang berbuat dosa di dalam antara kita ini hendaklah ia membawa taubat kepada Allaha Taa’laya” maka kata laki-laki yang menampar muka Yusuf itu “Akulah yang berdosa sekarang tadi kutampar muka Yusuf ini maka tiba-tiba datanglah ke atas bala yang demikian ini”. Maka kata Maalaka abana Daaa’ra “Segeralah engkau minta maaf kepadanya” maka laki-laki itupun minta maaflah kepada Yusuf A’layaha Al Salama serta di ciumnya akan tangan Yusuf itu.

Hataya maka minta doalah Yusuf kepada Allaha Taa’laya maka pada ketika itu juga jadi berhentilah hujan dan dengan angin yang amat besar itu dan cerahlah segala tepi langit dengan kemuliaan Yusuf A’layaha Al Salama. Hataya maka datanglah Maalaka abana Daaa’ra kepada Yusuf lalu di lepaskannya belenggu daripada kaki Yusuf itu dan suruhnya ia berjalan di hadapan. Hataya maka berjalanlah mereka itu ke negeri Mesir antara beberapa hari maka kata Maalaka abana Daaa’ra “Tiada juga aku sangka pada suatu tempat melainkan nyatalah kulihat berkat Yusuf ini dan kudengar tiap-tiap segala sesuatu memberi salam kepadanya pada tiap-tiap pagi dan petang dan lagi pula aku pandang suatu awan yang putih menaung atas kepalanya. Barang kemana ia berhenti maka berhentilah awan jika Yusuf berjalan maka awan itupun berjalanlah mengikut dia. Bahawasanya tiada pernah kulihat seorang juapun sepertinya”. Maka di permulia mereka itulah akan Yusuf A’layaha Al Salama.

Setelah sampai mereka itu ke negeri Mesir maka mandilah mereka itu di dalam sungai Nil. Maka kata Maalaka abana Daaa’ra “Hai rupa yang anat elok, marilah engkau mandi serta kami” maka Yusuf pun mandilah serta mereka itu maka lalu di gosok oleh Maalaka abana Daaa’ra akan Yusuf dan di limaunya kepalanya. Setelah sudah mandi maka di berinya memakai pakaian yang mulia-mulia dan yang baik-baik melainkan ikat pinggang jua daripada ikat pinggang Yusuf sendirinya dan bajunya itu di pakainya dari dalam dan baju yang di beri oleh Maalaka abana Daaa’ra tiada mahu ia tanggalkan dia.

Hataya maka di jajakan oleh Maalaka abana Daaa’ra akan Yusuf di dalam pasar Mesir terlalu amat elok rupanya. Segala rupanya Yusuf A’layaha Al Salama bercahaya-cahaya warna mukanya mengalahkan cahaya bulan dan matahari. Bahawa seolah-olah daging di dalam kulit Yusuf itu seperti warna api di dalam kaca yang amat putih. Setelah di lihat oleh segala saudagar dan segala orang banyak akan Yusuf maka tercenganglah mereka itu melihatkan elok rupa Yusuf A’layaha Al Salama itu. Maka bertanyalah saudagar di dalam Mesir itu katanya “Siapa budak ini dan anak siapa ia” maka kata mereka itu “Inilah budak yang di jual tuannya di dalam negeri Kanaa’na kepada Maalaka abana Daaa’ra”. Maka kata segala saudagar itu “Mahukah Maalaka abana Daaa’ra itu jual budak itu kepada kami” maka sahut mereka itu “Bahkan”.

Hataya maka Maalaka abana Daaa’ra pun masuklah ke dalam negeri Mesir Yusuf di suruhnya berjalan di belakang. Setelah di lihat oleh segala saudagar di dalam pasar itu maka tercenganglah mereka itu serta katanya “Siapa ini” maka sahut Maalaka abana Daaa’ra “Ialah sahayaku yang kutebus akan dia di dalam negeri Kanaa’na”. Hataya maka berhimpunlah mereka itu kecil besar, kaya dan miskin kerana hendak melihat rupa Yusuf A’layaha Al Salama maka kata segala saudagar yang besar-besar “Kau jualkah budak Abana Daaa’ra” “Bahkan kujualkan akan dia tetapi marilah kita berhimpun pada pintu Maalaka Rayaana di sanalah baik berniaga beranilah memutuskan harga budak ini” hataya maka haripun malamlah. Setelah datang keesokan harinya maka Maalaka abana Daaa’ra pun menghiasi Yusuf dengan pakaian yang keemasan terlalu sekali indah rupanya.

Hataya maka berjalanlah ia ke medan pengadapan Maalaka Rayaana abana Walayada abana A’rawaana abana Araasata abana Faaraana abana A’mara abana A’malaaqo abana Laawa abana Saama abana Nuh A’layaha Al Salama. Kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’naha di dalam setengah riwayat tiada mati Maalaka Rayaana hingga membawa iman ia kepada Yusuf A’layaha Al Salama. Maka tinggallah Yusuf serta Qoabawasa abana Mashoa’ba hataya maka Yusuf pun di suruh Maalaka abana Daaa’ra duduk di atas suatu kerusi yang amat indah. Maka berhimpunlah segala isi negeri Mesir penuh sesak oleh segala manusia kerana hendak melihat rupa Yusuf dan A’ziz Mesir pun datang serta segala saudagar yang banyak.Adalah yang memegang perbendaharaan Maalaka Rayaana namanya Qothofayara dan pada suatu qaul setengah a’lama namanya Thofayara anak Maalaka anak Zaa’wana terlalu amat kaya daripada segala saudagar di dalam negeri Mesir.

Hataya maka di tawar oleh Qothofayara akan Yusuf dengan dua puluh dinar dan dua perenggu kaus yang keemasan dan dua kayu kain putih. Kata Wahaba anak Manabaha maka di naik oleh segala saudagar masing-masing hingga sampai kepada setimbang dirinya daripada kasturi dan setimbang daripada perak dan setimbang daripada emas dan setimbang daripada permata yang besar-besar harganya dan setimbang daripada kain sutera. Hataya maka di tebusnyalah oleh Qothofayara seperti yang di belikan oleh mereka itu dan tiadalah siapa mahu melebih pada demikian itu.

Setelah sudah di bayar oleh Qothofayara harga Yusuf kepada Maalaka abana Daaa’ra maka sukacitalah hatinya lalu di bawanya pulang ke rumahnya seperti firman Allaha Taa’laya Wa Qoala Alazaya Ashataraaha Mana Mashora Laamaraataha Akaramaya Matsawaaha A’saya Ana Yanafaa’naa Awa Natakhozaha Waladaa Wa Kazalaka Makanaa Layawasafa Faya Al Aradho Wa Lanaa’lamaha Mana Taawayala Al Ahaadayatsa Wa Allaha Ghoalaba A’laya Amaraha Wa Lakana Akatsara Al Naasa Laa Yaa’lamawana Dan telah berkata yang menebus dia iaitu A’ziz Mesir kepada isterinya iaitu Zalayakhoa (Zulaikha) “Permulia olehmu akan orang muda ini mudah mudahan kalau ada jua memberi manafaat akan kita. Ambil akan dia seperti anak kepada kita kerana aku pun tiada beranak”. Seperti demikian itulah kami tetapkan hati Yusuf di dalam negeri Mesir dengan sukacitanya kemudian daripada sudah di rasainya dukacita dan telah kami ajar akan dia mengetahui takbir mimpi. Bermula Allaha Taa’laya jua tuhan yang amat mengetahui gholib atas pekerjaannya dan tetapi kebanyakan daripada segala manusia tiada di ketahui mereka itu adalah ia yang terlebih mulia kepada tuhannya.

Kata Kaa’ba Al Ahabaara maka tatkala sudah di tebus oleh A’ziz Mesir Yusuf kepada Maalaka abana Daaa’rapun pergi kepada Yusuf A’layaha Al Salama katanya “Hai rupa yang amat elok, ajaib sekali aku melihat rupa yang amat elok itu dan mendengar perkataanmu yang amat manis itu kerana sebab apa jua maka senantiasa engkau menangis dan selamanya itupun kami tanya kepadamu tiada jua engkau mahu berkata benar kepada kami. Demi Allaha, anak siapa engkau ini hai anakku”. Setelah Yusuf mendengar kata Maalaka abana Daaa’ra itu maka Yusuf pun menangis katanya “Hai Maalaka, sekarang kukatakan kepadamu bahawa akulah Yusuf anak Yaaqub anak Ishaq anak Ibrahim Kholil Allaha. Yang berjual aku itu segala saudaraku kerana dengkinya mereka itu akan daku sebab di kasih oleh bapaku Yaaqub akan daku. Maka mereka itulah yang membuangkan aku ke dalam telaga itu”.

Maka Maalaka abana Daaa’ra pun mengharap menabuh dadanya katanya “Demi Allaha, tiada sekali aku mengetahui akan dikau segala nabi baharulah sekarang kuketahui engkau anak cucu Kholil Al Rahman” lalu menangis lalu di kucupnya tangan Yusuf A’layaha Al Salama katanya “Apa bicaramu sekarang kerana sudah putus aku berjual akan dikau kepada A’ziz Mesir hai yang di permulia Allaha Taa’laya akan dikau”. Maka sahut Yusuf “Hai Maalaka, demi Allaha janganlah engkau ceritakan kepada orang bangsaku ini seseorang juapun kerana sudahlah berlaku dengan hukum Allaha atasku. Bahawasanya adalah engkau itu aku dan aku itu engkau kerana engkau pun daripada anak cucu Ibrahim jua”. Maka Maalaka pun menangis mendengar kata Yusuf itu lalu di ciumnya muka Yusuf katanya “Hai anakku, minta doa apalah engkau kepada tuhanmu supaya di anugerahi Allaha Taa’laya akan daku anak yang mempusakai hartaku dan halalkan harga dirimu itu kepada aku dengan beroleh berkat daripadamu”.

Maka sahut Yusuf “Bahkan di halalkan Allaha Taa’laya harta itu kepadamu kerana aku orang merdeka bukan sahaya kepadamu lagipun patutlah kita ambil hak segala kafir” lalu Yusuf pun minta doa akan Maalaka abana Daaa’ra dan adalah di sangka oleh segala manusia pada ketika itu menyesallah Maalaka abana Daaa’ra berjual Yusuf kerana di lihat mereka itu akan kelakuan Maalaka abana Daaa’ra dengan Yusuf itu keduanya sama menangis. Hataya maka Maalaka abana Daaa’ra pun kembalilah ke negeri Madayana kemudian daripada itu dengan berkat doa Yusuf maka di peroleh Maalaka abana Daaa’ra lah dua puluh empat orang anak laki-laki dan hartanya pun jadi ganda berganda daripada setahun kepada setahun makin banyak jua. Kata yang empunya cerita hingga dua belas kali hamil isteri Maalaka abana Daaa’ra maka di perolehnyalah anak dua puluh empat anak laki-laki dan ajaiblah ia akan mistajab doa Yusuf itu lagi umurnya pun amat lanjut.

Kata yang empunya cerita adalah Qothofayara itu tiada kepadanya anak dan tiada setubuh ia dengan isterinya Raaa’yala anak A’nakaa ibunya bernama Raqoayala dan adalah Qothofayara itu tahu ia akan ilmu firasat dari kerana itulah maka di katanya kepada isterinya “Permulia olehmu orang muda ini mudah mudahan memberi manafaat ia akan kita kerana kita pun tiada beranak. Ia inilah kita ambil akan anak kita” dan lagi pula seorang perempuan yang tahu akan ilmu firasat iaitu anak nabi Shuib tatkala di katanya kepada bapanya kemudian daripada sudah bertemu dengan Musa A’layaha Al Salama pada telaga itu iaitu Al Shaa Jawata “Hai bapaku, permulia olehmu laki-laki itu iaitu Musa A’layaha Al Salama dan ketika Abaya Bakara Al Shodayaqo radhoya Allaha a’naha tatkala sudah wafat rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama di katanya kepada A’mara bana Al Hathoba “Engkau yang lebih patut akan ganti rasul Allaha jadi khalifah”.

Kata ahli al kitab tatkala sampai umur Yusuf kepada tiga puluh tahun maka hendaklah di jadikan oleh Maalaka Rayaana akan Yusuf itu wazirnya seperti firman Allaha Taa’laya Wa Kazalaka Makanaa Layawasafa Faya Al Aradho. Kata Abana Masaa’wada maka tatkala sudah di lihat Zulaikha akan rupa Yusuf itu terlalu amat elok daripada segala manusia maka jatuhlah kasih di dalam hatinya akan Yusuf maka makin bertambahlah kasih Zulaikha akan Yusuf dengan kasih berahinya akan dia. Maka di lihat oleh Qothofayara akan Yusuf itu terlalu amat elok rupanya dan baik akalnya maka di sindir-sindirnya dengan perkatannya akan Yusuf “Engkaulah yang terlebih patut akan gantiku menjadi A’ziz Mesir ini”. Bahawasanya telah di anugerahkan Allaha Taa’laya akan Yusuf seperti kata Qothofayara itu ialah yang menjadi raja di dalam negeri Mesir itu.

Kata Abana A’baasa adalah Zulaikha itu perempuan yang amat elok daripada segala perempuan pada masa itu lagi bugar tiada pernah setubuh dengan laki-laki makin bertambah-tambahlah sangat berahinya akan Yusuf A’layaha Al Salama. Maka pada suatu hari berkata Zulaikha kepada Yusuf “Hai orang muda, anak jinkah engkau ini, anak parikah kerana kulihat rupamu ini daripada sehari kepada sehari maka makin bertambah-tambah sekali eloknya dan pada sangkaku adalah engkau ini daripada anak segala raja-raja jua”. Maka Yusuf pun tunduk tiada menyahut kata Zulaikha itu kemudian maka Yusuf menyahut Sabahaana Mana Badala Asamaha Alaya Al Harayata Baa’da Al A’bawadayata Wa Hawa Qoadara A’laya Ana Laa Yaradaha Alaya Al Harayata ertinya maha suci yang menggantikan pada nama merdeka itu dengan nama sahaya dan iaitu yang amat kuasa mengembalikan pada nama merdeka pula kemudian dari itu”. Maka kata Zulaikha kepada Yusuf “Amat elok sekali rupamu hai Yusuf dan amat merdu sekali suaramu dan tetapi perkataanmu itu tiada kami ketahui akan dia berkata-kata apalah engkau dengan bahasa Qibtiah”.

Kata Kaa’ba Al Ahabaara kemudian daripada itu berapa antaranya maka di suruh Zulaikha perbuat sebuah rumah akan tempat perhimpunan segala perempuan Qibtiah dan A’malaqoha mengadap dia maka di perbuat oranglah seperti kehendak Zulaikha itu. Setelah sudah rumah itu maka di hiasinya di dalam majlis itu daripada perhiasan yang indah-indah dan hamparinya daripada hamparan yang keemasan. Hataya maka di suruh Zulaikha bawa segala pakaian yang berbagai-bagai jenis pakaian yang mulia yang ada di dalam khazanahnya hendak di hiasi akan Yusuf A’layaha Al Salama dengan pakaian itu. Hataya setelah di bawa orang segala pakaian itu maka di pilih Zulaikha daripada segala pakaian itu di suruhnya pakai kepada Yusuf dan di suruhnya buka buangkan kain baju pada tubuh Yusuf itu.

Maka kata Yusuf pada Zulaikha “Adapun semuanya katamu itu kuturut akan dia tetapi yang kau suruh tanggalkan baju daripada tubuhku itu tiadalah mahu aku menanggalkan dia kerana baju itu di pakaikan oleh tuhanku tiada buruk baginya dan tiada lata ia adalah ia mengikut badanku jua. Apabila besar tubuhku maka besarlah ia pun dan tiada pernah kubasuh akan dia. Jikalau pada masa hari panas sekalipun”. Kata Kaa’ba Al Ahabaara adalah baju itu bercahaya-cahaya di pandang orang akan dia. Maka kata Zulaikha “Siapa tuhanmu yang amat bermulia akan dikau lain daripada aku hai Yusuf” maka sahut Yusuf A’layaha Al Salama “Adalah tuhanku itu tuhan yang menjadikan daku. Ialah tuhan tujuh petala langit dan tujun petala bumi dan barang yang antara keduanya itu lagi amat kuasa atas tiap-tiap sesuatu”. Kata Wahaba abana Manabaha adalah tubuh Yusuf itu gilang gemilang seperti cahaya pelita di dalam kaca yang amat putih. Apabila ia tertawa kelihatan manis sekali cahaya mukanya berkilat-kilat daripada giginya.

Setelah di dengar Zulaikha kata Yusuf itu maka katanya “Hai Yusuf, jika tiada pun mahu engkau memakai pakaianku ini berilah aku berbuat khidmatmu. Jikalau kiranya berbuat khidmat aku kepadamu nescaya makin bertambah-tambahlah cahaya mukamu dan hilanglah dukacita di dalam hatimu”. Maka kata Yusuf “Akulah yang terlebih patut berbuat khidmat kepadamu dengan kehendak tuhanku yang amat kuasa”. Maka kata Zulaikha “Adalah engkau memperikan tuhanmu yang amat kuasa lagi amat besar kebesarannya maka betapa dapat di jual orang akan dikau pada kami hai Yusuf”. Maka sahut Yusuf “Bahkan amat kuasa ia lagi amat besar kebesarannya ialah tuhan yang menjadikan dikau dan rupakan dikau dengan sebaik-baik rupa ini”.

Maka kata Zulaikha “Hai Yusuf, siapa ibubapamu dan di mana negerimu” maka sahut Yusuf “Adalah bapaku itu ada di dalam negeri Kanaa’na dan namanya Yaaqub dan akan nama ibu Rahil. Maka tatkala sudah mati ibuku adalah aku di dalam ribaan bapaku” basah bajunya dengan air matanya maka menangislah segala orang yang hadir melihat kelakuan keelokkan itu daripada belas hati mereka itu. Maka Zulaikha pun menangis katanya “Hai Yusuf, dengan bahasa apa jua engkau berkata-kata itu terlalu amat manis suaramu” maka sahut Yusuf “Inilah bahasa bapaku Yaaqub dan Ishaq dan Ibrahim. Jikalau kiranya tiada haram atasku mengajarkan dikau nescaya kuajarkan akan dikau ilmu tauhid tetapi adalah engkau itu kafir”.

Kata yang empunya cerita maka di tilik Zulaikha akan Yusuf berkata itu dengan tilik berahinya. Katanya “Memakailah engkau hai rupa yang amat elok” lalu di tanggalkan oleh Zulaikha pakaian yang pada tubuh Yusuf itu. Maka di pakaikannya daripada pakaian yang indah-indah melainkan baju dan ikat pinggang jua tiada mahu Yusuf menanggalkan dia daripada tubuhnya. Setelah sudah Yusuf memakai maka di suruh Zulaikha akan dia duduk di belakangnya maka katanya “Hai Yusuf, mengapa maka tiada mahu engkau menanggalkan bajumu itu dan tiada mahu engkau memakai baju kami. Tiada mahu engkau olehmu bajumu itu supaya kupakaikan baju yang keemasan ini” maka tiada di sahut Yusuf dengan sesuatu jua pun akan turut Zulaikha itu. Maka kata Zulaikha “Hai Yusuf, ada padaku suatu tanaman daripada segala bunga-bungaan yang serba jenis maka peliharakan olehmu akan dia” kata Yusuf “Bahkan biarlah aku memeliharakan dia”.

Hataya maka pergilah Yusuf ke dalam tanaman itu lalu di buangkan oleh Yusuf rumput di dalamnya. Maka sebagailah rumput tanaman itu hingga di peliharakan Allaha Taa’laya barang yang dalamnya dan makin bertambah lebat segala buah-buahan yang dalam tanaman itu daripada buah delima dan zaitun dan anggur dan kurma dan bagus sebagainya daripada segala buah-buahan dengan berkat kemuliaan Yusuf A’layaha Al Salama dan adapun apabila berhenti Yusuf daripada merumput itu maka berdirilah ia sembahyang. Adalah kerjaan itu di bahagi tiga, sebahagi ia sembahyang dan sebahagi ia merumput dan sebahagi ia menangis demikianlah kerjanya pada tiap-tiap hari dan apabila hangat panas matahari maka bernaunglah ia di bawah naung daun kayu itu. Maka hairanlah Zulaikha melihat kerjaan Yusuf terlalu amat baik.

Hataya maka daripada sehari kepada sehari makin bertambah-tambah jua berahi Zulaikha kepada Yusuf A’layaha Al Salama. Maka Yusuf pun merumput tanaman itu gilang gemilang cahaya pipinya oleh sinar matahari itu makin menambahi elok rupanya jua bercahaya-cahaya warna mukanya tetapi adalah berahi Zulaikha akan Yusuf itu terlalu sangat maka di sembunyinya melainkan di pandang oleh inang pengasuhnya tubuhnya jua makin sangat kurus dan lakunya bersalahan daripada sediakala. Maka kata inang pengasuhnya “Hai tuan puteri, adakah suatu penyakit pada tubuh tuan hamba kerana kulihat tiada seperti sediakala manakah tubuh yang halus jadi latalah ia dan manakah rambut yang ikal jadi kusutlah ia dan tubuh yang sederhana pun menjadi kurus. Oleh apalah maka jadi demikian ini katakanlah kepada ibu kiranya”.

Maka sahut Zulaikha “Ibuku sekaranglah kukatakan ia kepada ibuku. Bahawasanya tiada harus kusembunyikan barang yang di dalam hatiku melainkan kuceritakan ia kepada ibuku. Adapun akan penyakitku ini kerana berahiku melainkan kuceritakan Yusuflah tetapi adalah ia kepada aku hingga jadi berselisihlah dalam hatiku seperti kelompong tatkalanya sudah masak”. Maka kata inang pengasuhnya “Hai penghulu segala perempuan, mengapa selamanya ini tiada mahu tuan berkata benar kepada ibu. Sungguhpun tuan bersuami akan A’ziz Mesir itu tiada seperti adat orang berlaki isteri”. Maka sahut Zulaikha “Sebab pun selamanya tiada mahu aku berkata benar kepadamu kerana adalah kamu sekelian orang muda. Takut aku bahawasanya Yusuf berahi akan kamu kerana segala perdira aku ini baik-baik belaka rupanya. Siapa tahu kamu sekelian pun berahi akan dia seperti berahiku ini”. Maka inang pengasuhnya pun menebah dadanya sambil tertawa katanya “Wahai jika kami berahi akan dia sekalipun masakan ia mahu akan kami kerana kulihat akan Yusuf itu seperti orang menaruh dukacita di dalam hatinya lagi pun amat betul perangainya”.

Maka kata Zulaikha “Hai ibuku, adalah suatu bicaraku hendak kusuruh perbuat sebuah mahligai empat persegi daripada marjan yang merah dan hijau dan kuning, tiangnya daripada kayu cendana dan gaharu dan dindingnya daripada kaca yang berbagai-bagai warna”. Hataya maka di suruh inang segala utas-utas perbuat sebuah mahligai empat persegi seperti kehendak Zulaikha itu. Antara berapa hari di kerjakan orang maka istana itupun sudahlah. Maka di suruh Zulaika perbuat diwala mahligai itu daripada batu rawakhom dan adalah rupa dinding mahligai itu seperti cermin yang sudah terupam. Apabila kena sinar matahari gemerlapan rupanya di pandang orang dan adalah pegawainya daripada emas dan perak dan atapnya daripada gada yang di sendi dengan tulang gajah meta dan dindingnya daripada marjan dan yaakut yang berbagai warnanya dan di dalamnya suatu geta yang keemasan di dalam suatu bilik dindingnya daripada kaca. Maka di perbuatnya di atas geta itu suatu kubah daripada perak dan pintu bilik itu daripada emas. Maka di hamparinya di atas geta itu daripada hamparan zibaj yang amat halus di tambunnya pada penjuru bilik itu emas dan perak dan permata bertambun-tambun.

Hataya maka Zulaikha pun berhiaslah dengan pakaian yang indah-indah seperti perhiasan perempuan yang hendak kahwin rupanya. Maka duduklah ia di atas geta itu lalu di suruhnya panggil Yusuf A’layaha Al Salama maka Yusuf pun datang lalu duduk di hadapan Zulaikha. Setelah di lihatnya akan Yusuf lalu Zulaikha berbangkit menutup segala pintu mahligai dan adalah mahligai itu beberapa puluh dian dan pelita yang terpasang maka di timpanya oleh cahaya dian dan pendil itu pada dinding bilik. Maka kenalah sinar itu kepada tubuh Zulaikha maka makin bertambah-tambah rupa Zulaikha. Hataya maka duduklah Zulaikha di atas geta itu lalu di serunya akan Yusuf maka Yusuf pun datang hampir kepadanya.

Maka di lihat Zulaikha berhias memakai daripada pakaian yang indah-indah maka kata Yusuf “Kerana apa tuan hamba hias mahligai ini tiada kulihat A’ziz di dalamnya” maka sahut Zulaikha “Akan apa gunanya A’ziz itu kau sebut di sini. Bahawa adalah engkau terlebih patut daripadanya duduk sertaku di dalam mahligai ini dan di dalam perhiasan ini engkau kekasihku” seperti firman Allaha Taa’laya Wa Waawadataha Alataya Hawa Faya Bayanahaa A’na Nafasaha Wa Gholaqota Al Abawaaba Wa Qoalata Hayata Laka Qoala Maa’ada Allaha Anaha Rabaya Ahasana Matsawaaya Anaha Laa Yafalaha Al Zhoalamawana Tatkala di kehendaki Zulaikha akan Yusuf maka di tutupinya oleh Zulaikha segala pintu mahligai maka kata Zulaikha “Hai Yusuf marilah engkau hampir kepada aku kerana kita bersuka-sukaan”.

Maka sahut Yusuf “Berlindung aku kepada Allaha Taa’laya daripada demikian itu. Bahawa tuanku A’ziz tebus daku adalah janjinya hendak bermulia daku. Betapa kuberbuat khianat pada isi rumahnya. Tiadalah aku daripada orang yang setiawan bahawasanya tiada berbahagia orang yang berbuat baik kepadanya”. Kata Kaa’ba Al Ahabaara adalah makna hayata lagi dikata Zulaikha itu “Marilah engkau kepada aku kerana sudah berhias jabatlah olehmu tubuhku”. Setelah di dengar Yusuf kata Zulaikha itu baharulah ia tahu akan kehendak hati Zulaikha itu lalu gementar segala sendi tulangnya pada ketika itu seperti firman Allaha Taa’laya Wa Lamaa Balagho Ashadaha Atayanaaha Hakamaa Wa A’lamaa. Adapun Ashadaha itu antara delapan belas tahun hingga sampai kepada tiga puluh tahun dan adalah umur Yusuf pada ketika itu delapan belas tahun.

Setelah Yusuf mendengar Zulaikha maka sahutnya “Tiada mahu kumengikut kehendakmu itu kerana takut akan tuhan yang meluputkan daku daripada kejahatan segala saudaraku”. Kata yang empunya cerita di dalam Yusuf berkata-kata dengan Zulaikha itu sebagai di simpul rambut kepalanya dengan berapa simpul. Zulaikha pun berkata kepada Yusuf dengan perkataan yang lemah lembut dan haraplah ia di ikut oleh Yusuf seperti kehendaknya itu dari kerana sangat berahinya. Maka kata Zulaikha “Hai Yusuf terlalu elok kedua matamu itu. Tilik apalah olehmu akan daku” maka sahut Yusuf “Adalah kedua mataku ini terdahulu hancur ia di dalam kuburku”. Maka kata Zulaikha “Hai Yusuf amat elok segala antara keningmu” maka sahut Yusuf “Ialah yang pertama buruk di dalam kuburku”. Maka kata Zulaikha “Sebab apa maka amat elok rupamu itu. Bahawasanya ialah yang memberi binasa hatiku. Hai Yusuf, hingga jadi kuruslah tubuhku sebab berahi akan dikau” maka sahut Yusuf “Syaitanlah yang memberi was was akan dikau maka daripada demikian itu”.

Maka kata Zulaikha “Mari apalah engkau hampir kepada aku supaya sukacitalah di dalam hatiku” maka sahut Yusuf “A’ziz lah yang terlebih patut hampir kepadamu”. Maka kata Zulaikha “Jikalau mahu engkau bersenda gurau dengan daku biarlah aku di bunuh akan A’ziz Mesir itu” maka sahut Yusuf “Takut aku luput daripada pahala akhirat”. Maka kata Zulaikha “Hai Yusuf, hantarkan apalah tanganmu atas dadaku supaya hilang penyakit berahiku di dalam hatiku” maka sahut Yusuf “Takut aku kekang di dalam neraka”. Maka sahut Zulaikha “Jika mahu kiranya engkau menjabat tubuhku nescaya kuberilah akan dikau daripada emas dan perak yang ada pada aku itu maka belanjakanlah olehmu akan dia supaya di ampuni oleh tuhanmu yang di langit akan dikau” maka sahut Yusuf “Bahawasanya yang demikian itu terlebih banyaklah ia daripada tuhanku di dalam syurga lagi amat kekal adanya”. Maka kata Zulaikha “Telah sunyikan ia daripada segala manusia marilah engkau hampir kepadaku supaya nyaman hatiku dengan dia” maka sahut Yusuf “Siapa menutupi kecelaanku lain daripada tuhanku”.

Kata yang empunya cerita setelah di lihat Zulaikha tiada mahu Yusuf mengikut katanya maka iapun berbangkit lalu di tariknya tangan Yusuf naik ke atas geta duduk sertanya. Maka katanya “Perbuatlah olehmu seperti laki-laki atas perempuan” maka sahut Yusuf “Takut aku di perbuat Allaha Taa’laya dengan seksa yang amat pedih di dalam akhirat jua”. Kata Abana Masaa’wada sabda rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama adalah pada ketika itu di buangkan oleh Zulaikha segala pakaian hingga timbullah berahi di dalam hati Yusuf A’layaha Al Salama kerana melihat keelokkan rupa Zulaikha itu seperti firman Allaha Taa’laya Wa Laqoda Hamata Baha Wa Hama Bahaa Lawalaa Ana Raaya Barahaana Rabaha Kazalaka Lanashorafa A’naha Al Sawaa Wa Al Fahashaa Anaha Mana A’baadanaa Al Makholashoyana Telah di cita oleh Zulaikha akan Yusuf dan cita oleh Yusuf pula akan Zulaikha dengan jimak. Jikalau tiada di lihat tanda daripada tuhannya nescaya di perbuatnyalah yang demikian itu maka kami palingkan ia daripada berbuat khianat akan tuannya dan akan kejahatan zina dan adalah ia daripada hamba kami yang amat ikhlas akan kebesarannya kudrat kami.

Kata Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha jikalau di kerjakannya oleh Yusuf perbuatan zina itu nescaya gugurlah ia pada pangkat nubuatnya tetapi bahawasanya adalah ia daripada orang yang takut akan Allaha Taa’laya dan sangat ikhlas daripada kebesarannya tuhan alam sekelian dan yakin ia akan kemuliaan negeri akhirat maka terpeliharalah ia daripada kejahatan zina. Kata Sheikh Najama Al Dayana Rahamata Allaha A’layaha ialah yang empunya kitab tafsir Kashaf tersebut di dalamnya dari kerana bahawasanya adalah Yusuf itu amat tulus hatinya akan keadaan zat Allaha Taa’laya dan akan seksanya dan ialah yang sebenar-benar anbia lagi anak segala nabi yang turun temurun daripada seorang nabi kepada seorang nabi maka terpeliharalah ia daripada kejahatan zina. Kata Wahaba dan Maqoatala adalah tanda yang di lihat oleh Yusuf daripada tuhannya itu bahawa di lihat rupa bapanya Yaaqub dan kata setengah a’lama di lihatnya segala rupa saudaranya.

Kata Abana A’baasa telah di lihat Yusuf tersurat pada tangannya Asama Al Aa’zhoma maka tatkala di lihatnya akan tanda itu lalu iapun segera bangkit lari ke pintu hendak keluar seperti firman Allaha Taa’laya Wa Asatabaqoa Al Baaba Wa Qodata Qomayashoha Mana Dabara Wa Al Fayaa Sayadahaa Ladaya Al Baaba Dan berdahulu-dahuluanlah keduanya seorang hendak membuka pintu dan seorang hendak mengatup dia maka terdahululah Yusuf daripada Zulaikha maka lalu di pegangnya oleh Zulaikha baju Yusuf daripada pihak belakangnya maka jadi cariklah baju Yusuf dari belakangnya. Maka pada ketika itu berdampaklah keduanya dengan A’ziz Mesir hendak masuk ke dalam mahligainya. Maka kata Zulaikha pada suaminya Qothofayara seperti firman Allaha Taa’laya menceritakan akan dia kepada nabi Mahamada Qoalata Maa Jazaa Mana Araada Baahalaka Sawaa Alaa Ana Yasajana Awa A’zaaba Alayama ertinya kata Zulaikha akan suaminya “Apa balasnya orang yang hendak berbuat khianat pada isi rumahmu itu melainkan di penjarakan akan dia atau di seksa dengan seksa yang amat pedih”.

Maka berkata Yusuf “Tiada aku menghendaki dia dan tetapi adalah ia jua yang menghendaki daku dan di suruhnya panggil akan daku. Adakah pernah kau lihat selama aku diam di dalam Mesir ini aku berbuat kerja jahat”. Hataya maka marahlah Qothofayara akan Yusuf lalu di hunusnya pedang hendak membunuh Yusuf katanya “Apa kebenaranmu hai Yusuf engkau katakan tiada salahmu itu” maka sahut Yusuf seperti firman Allaha Taa’laya Qoala Haya Raawa Datanaya A’na Nafasaya Wa Shahada Shaahada Mana Ahalahaa Ana Kaana Qomayashoha Qoda Mana Qobala Fashodaqota Wa Hawa Mana Al Kaazabayana ertinya kata Yusuf “Apa jua yang hendaki daku tanya olehmu kepada yang di dalam rumahnya. Ialaha yang jadi saksi bagiku”. Maka kata Qothofayara “Siapa yang di dalam rumah itu” maka sahut Yusuf “Seorang kanak-kanak yang di dalam buaiannya”.

Hataya maka ajaiblah Qothofayara mendengar kata Yusuf itu lalu di suruhnya bawa kanak-kanak itu ke hadapan Qothofayara. Maka Qothofayara berkata kepada kanak-kanak itu “Hai Gholaama, bahawa engkau di dirikan Yusuf akan jadi saksi antara Yusuf dengan Zulaikha”. Hataya setelah di dengar oleh kanak-kanak itu kata Qothofayara maka di buangkan oleh kanak-kanak itu susu ibunya daripada mulut katanya “Jika carik baju Yusuf dari hadapannya Zulaikha dan berdustalah Yusuf dan jika carik baju Yusuf dari belakang benarlah Yusuf dan berdustalah Zulaikha”. Maka tatkala di dengar oleh Qothofayara kata kanak-kanak itu maka tiadalah jadi di bunuhnya akan Yusuf serta ia menggelengkan kepalanya kerana hairannya kanak-kanak yang tiada patut berkata-kata tiba-tiba tahu berkata-kata dengan lidahnya yang fasih.

Kata Abana A’baasa adalah akan kanak-kanak yang berkata-kata itu empat orang, suatu anak saudara Zulaikha jadi saksi Yusuf A’layaha Al Salama. Kedua Maasathoha anak Firaun, ketiga sahabat Jarayaja seorang rahib, keempat A’yasaya anak Mariam A’layaha Al Salama.

Falamaa Raaya Qomayashoha Qoda Mana Dabara Qoala Anaha Mana Kayada Kana Ana Kayada Kana A’zhoyama Maka tatkala di lihat Qothofayara baju Yusuf carik dari belakangnya maka berpalinglah ia kepada Zulaikha katanya “Yaa Rasa, sekali lagi membunuh Yusuf dengan upayamu jua. Bahawasanya adalah upaya perempuan itu amat besar tipunya dan dayanya”. Maka kata Qothofayara kepada Yusuf seperti firman Allaha Taa’laya Yawasafa Aa’radho A’na Hazaa Wa Asataghofaraya Lazanabaka Anaka Kanata Mana Al Khoathoyana “Hai Yusuf berpalinglah engkau daripada perkataan ini. Jangan kau katakan pada seorang juapun” dan katanya “Hai Zulaikha, minta ampunlah kepada aku daripada dosamu itu. Bahawasanya adalah engkau daripada orang yang berdosa”.

Hataya sudah Qothofayara berkata demikian itu maka ia keluarlah daripada tempat itu maka datang pula Zulaika kepada Yusuf katanya “Sebagaimana kuperbuat akan dikau hai Yusuf. Jikalau tiada mahu engkau menurut kataku nescaya kusuruh bunuh akan dikau pada A’ziz”. Maka sahut Yusuf A’layaha Al Salama “Tiadakah kau lihat betapa di luputkan Allaha Taa’laya akan daku daripada kejahatanmu. Naik saksi atasku kanak-kanak yang baharu jadi”. Kata Kaa’ba dan Sayadaya maka di kehendaki Zulaikha pula akan Yusuf sekali lagi di suruhnya panggil ke mahligainya maka tiada mahu Yusuf mengikut katanya.

Maka kata Zulaikha “Hai Yusuf, jikalau tiada mahu engkau mengikut kataku nescaya kusuruh penjarakan akan dikau pada A’ziz maka jadilah engkau itu daripada orang yang terhina”. Tatkala di dengar oleh Yusuf kata Zulaikha demikian itu maka katanyan”Hai tuhanku, penjara itu bahawasanya terbaiklah ia kepadaku daripada di serunya oleh Zulaikha akan daku kepadanya”. Maka di kabulkan Allaha Taa’laya pinta Yusuf A’layaha Al Salama dan peliharanya akan dia daripada berbuat kerja yang fasik. Bahawasanya ia jua tuhan yang amat memeliharakan bagi barang siapa yang di kehendakinya.

Al kisah peri menyatakan segala perempuan yang bersiat jari tangannya. Kata Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha maka tatkala di dengar oleh segala perempuan daripada isteri Qibtiah dan A’malaqoha akan perbuatan Zulaikha berahi akan hambanya Yusuf itu. Maka di cerca oleh mereka itulah akan dia dan kata mereka itu “Adalah isteri A’ziz Mesir berahi akan hambanya lain daripada suaminya A’ziz Mesir itu. Bahawa kita lihatlah apa kesudahannya demikian itu”. Maka segala kata mereka itu pun terdengar kepada Zulaikha seperti firman Allaha Taa’laya Wa Qoala Nasawata Faya Al Madayanata Amaraata Al A’zayaza Taraawada Fataahaa A’na Nafasaha Qoda Shaghofahaa Habaa Anaa Lanaraahaa Faya Dholaala Mabayana Dan berkatalah segala perempuan itu sama sendirinya daripada perempuan isi negeri itu “Bahawa adalah perempuan A’ziz itu berahi akan hambanya Yusuf belahlah hatinya daripada sangat berahinya akan dia. Kita lihatlah apa sudahnya yang amat nyata”.

Telah di dengar Zulaikha akan katanya mereka itu lalu di suruhnya panggil mereka itu sekeliannya seperti firman Allaha Taa’laya Falamaa Samaa’ta Bamakara Hana Arasalata Alayahana Wa Aa’tadata Lahana Matakaa Wa Atata Kala Waahadata Manahana Sakayanaa Wa Qoalata Akhoraja A’laya Hana Falamaa Raayanaha Akabaranaha Wa Qothoa’na Ayadaya Hana Wa Qolana Haasha Lalaha Maa Hazaa Basharaa Ana Hazaa Alaa Malaka Karayama Maka tatkala di dengar oleh Zulaikha kata segala perempuan itu maka lalu di suruhnya panggil mereka itu kepada majlis maka di berinya akan mereka itu seorang sebiji limau manis dan sebilah sakayana. Maka mereka itupun masing-masing mengupas limau manis hendak di makannya maka kata Zulaikha kepada Yusuf “Keluarlah engkau kepada mereka itu”. Maka Yusuf pun keluarlah maka mereka itupun memandang kepada Yusuf maka tatakala di lihatnya oleh segala perempuan itu rupa Yusuf A’layaha Al Salama maka kata mereka itu “Haasha Lalaha Kajawaala Allaha Taa’laya Bukannya ia ini manusia melainkan malaikat yang amat mulia jua itu” maka tersiatlah tangannya mereka itu sekelian.

Kata Abana A’baasa adalah adat mereka itu di dalam negeri Mesir apabila hendak berjamu segala jamunya makan pertama di berinya mereka itu akan jamunya makan limau manis dengan air madu. Maka tatkala mereka itu di dalam mengupas limau manis itu kata Zulaikha “Hai Yusuf, keluarlah engkau kepada mereka itu dengan suka tertawa atas mereka itu” maka Yusuf keluar serta ia tersenyum. Maka tatkala di lihat mereka itu akan rupa Yusuf itu maka lupalah mereka itu akan dirinya hingga tersiatlah jari mereka itu dan mata mereka itu masih memandang kepada Yusuf jua hingga berdarahlah tangan mereka itu dan kata mereka itu jua “Kajawaala Allaha bukannya ia ini manusia melainkan malaikat yang amat mulia jua”.

Maka kata Zulaikha mendapatkan kata mereka itu “Adalah kamu cerca akan daku betapa sekarang kamu lihat rupa Yusuf itu” maka sahut mereka itu “Sungguhlah seperti katamu hai penghulu kami. Tiadalah dapat kami permudahkan hatimu pada mengasih dia”. Maka terpeliharalah Zulaikha daripada kata mereka itu dari kerana inilah kehendak Zulaikha daripada yang demikian itu kerana mendapat kata mereka itu jua seperti firman Allaha Taa’laya Qoalata Fazalakana Alazaya Lamatananaya Fayaha Wa Laqoda Raawadataha A’na Nafasaha Faasataa’shoma Wa Lana Lama Yafaa’la Maa Amaraha Layasajanana Wa Layakawanaa Mana Al Shoaghorayana ertinya kata Zulaikha pada mendapat kata mereka “Itulah sahayaku yang kamu cerca akan daku sangat kasih akan dia” maka sahut mereka itu “Tiadalah kami mudahkan hatimu hai penghulu kami terlalu elok sekali rupa Yusuf ini”.

Arakian setelah di dengar Qothofayara akan perbuatan Zulaikha demikian maka lalulah ia katanya “Jikalau tiada daku penjarakan akan Yusuf ini nescaya besarlah pekerjaannya tiada dapat tiada beroleh kecelaanlah aku dengn dia dan adalah ia pada ketika itu daripada orang yang hina”. Maka tatkala di dengar Yusuf kata Qothofayara itu maka sembahyanglah ia “Ya tuhanku, bahawasanya kasihlah ia aku di masukkan orang akan daku ke dalam penjara daripada akan di serunya akan daku kepadanya” firman Allaha Taa’laya Qoala Raba Al Sajana Ahaba Alaya Mamaa Yadaa’wa Nanaya Alayaha Wa Alaa Tashorafa A’naya Kayada Hana Ashoba Alaya Hana Wa Akana Mana Al Jaahalayana Maka sembah Yusuf “Hai tuhanku, penjara itu terbaik kepadaku daripada di serunya akan daku kepadanya. Jikalau tiada kau penjarakan akan daku pun palingkanlah olehmu akan daku daripada mengikut katanya dan jika kuikut katanya nescaya adalah aku daripada orang yang jahil.

Kata Wahaba dan Maqoatayala tatkala sudah kembali segala perempuan yang bersiat tangannya itu ke rumahnya maka di panggil Zulaikha akan Yusuf A’layaha Al Salama katanya “Hai Yusuf, mahukah engkau mengikut kataku atau mahukah kuseksa di dalam penjara serta segala orang yang di dalamnya”. Maka Yusuf tunduk seketika kemudian sahutnya “Mahulah aku masuk ke dalam penjara daripada aku mengikut katamu”. Setelah di dengar Zulaikha kata Yusuf itu maka iapun terlalu amat marah akan Yusuf lalu ia berkata kepada Qothofayara “Hai A’ziz, telah kita tebus seorang kanak-kanak yang tiada memberi manafaat pada kita. Suatu juapun telah kusuruh akan dia menunggu tanamanku pada suatu pekerjaan tiada mahu di ikutnya kataku dan tiada mahu makan segala makanan kita melainkan kerjanya duduk berdiri dan sujud jua kerjanya. Tiada ia makan dan minum hingga kuruslah tubuhnya baiklah A’ziz suruh penjarakan akan dia”.

Maka kata Qothofayara “Benarlah katamu itu” lalu di suruh bawa Yusuf ke dalam penjara seperti firman Allaha Faasatajaaba Laha Rabaha Fashorafa A’naha Kayada Hana Anaha Al Samayaa’ Al A’layama. Tsama Badaa Lahama Mana Baa’da Maa Raawaa Al Ayaata Layasajananaha Hataya Hayana Maka di kabulkan Allaha Taa’laya doa Yusuf dan di palingkannya daripada upaya mereka itu. Bahawasanya ia tuhan yang amat mendengar pinta hambanya lagi amat tahu akan ehwal mereka itu. Kelakian maka Yusuf pun di bawa oranglah ke dalam penjara maka di suruh oleh Zulaikha orang pergi pada penghulu penjara itu mengatakan “Hendaklah jangan kau berkata-kata dengan Yusuf itu dan kenakan oleh kamu rantai dan belenggu akan dia dan dudukkan oleh kamu akan dia pada tempat yang picak”. Hataya maka mereka itu di perbuatlah seperti suruh Zulaikha dan di hantarnya pada tiap-tiap hari sebuah roti dan suatu bekas air akan Yusuf A’layaha Al Salama.

Hataya maka warit yang demikian itupun kedengaranlah kepada Qothofayara akan Yusuf di kenakan orang rantai dan belenggu akan dia maka marahlah Qothofayara akan Zulaikha lalu di suruhnya lepaskan Yusuf daripada rantai dan belenggunya. Maka di lepas oranglah akan dia dan di suruh Qothofayara “Dudukkan Yusuf pada tempat yang luas dan hampari olehmu dengan hamparan yang mulia. Jikalau jangan kiranya takut akan jauh hati Zulaikha nescaya kusuruh kepaskan Yusuf dari dalam penjara itu”.

Hataya maka Jibril A’layaha Al Salama pun datang kepada Yusuf dengan titah Allaha Taa’laya maka di kenal Yusuf akan dia itu Jibril. Maka katanya “Hai saudaraku orang memberi takut, apa sebabnya maka datang engkau kepada tempat orang yang berdosa ini” maka sahut Jibril “Hai anak orang yang amat suci, bahawasanya tuhanmu berkirim salam kepadamu. Firmannya telah kuanugerahi akan dikau ilmu dan hikmat dan mengetahui akan takbir mimpi maka sabarkan olehmu atas qodha Allaha Taa’laya. Firmannya adalah bapakau itu daripada orang yang shidiq”. Setelah sudah Jibril mengajarkan Yusuf takbir mimpi itu maka ia naiklah ke langit hataya maka Yusuf pun tahulah akan takbir mimpi dan ilmu dan hikmat yang amat sempurna. Maka Qothofayara pun sebagai jua menyuruhkan orang menghantarkan makanan akan Yusuf A’layaha Al Salama ke dalam penjara maka makanlah Yusuf serta mereka itu maka amat kasihlah segala orang yang di dalam isi penjara itu akan Yusuf A’layaha Al Salama.

Kisah tatkala di masukkan orang Saaqoya dan Habaaza ke dalam penjara itu dengan surat Maalaka Al Rayaana abana Walayada seperti firman Allaha Taa’laya Wa Dakhola Maa’ha Al Sajana Fatayaana Qoala Ahada Hamaa Anaya Araanaya Aa’shora Khomaraa Wa Qoala Al Akhora Anaya Araanaya Ahamala Fawaqo Raasaya Khobazaa Taakala Al Thoyara Manaha Nabaanaa Ba Taawayalaha Anaa Naraaka Mana Al Mahasanayana. Qoala Laa Yaataya Kamaa Thoa’ama Tarazaqoa Naha Alaa Nabataa Takamaa Ba Taawayalaha Qobala Ana Yaataya Kamaa Zalakamaa Mamaa A’lamanaya Rabaya Anaya Tarakata Malata Qowama Laa Yawamanawana Ba Allaha Wa Hama Ba Al Akhorata Hana Kaafarawana ertinya maka di masukkan oranglah Yusuf ke dalam penjara serta dua orang laki-laki yang muda masuk sertanya. Maka kata salah seorang daripada keduanya kepada Yusuf “Telah kulihat di dalam mimpiku seolah-olah adalah aku berbuat tuak” dan kata yang kedua “Bahawasanya telah kulihat di dalam mimpiku seolah-olah kujunjung suatu tabak berisi roti atas kepalaku. Tiba-tiba di sambarnya oleh burung akan dia. Ceritai olehmu akan daku apa takbirnya hai orang yang muda muka yang amat elok”.

Maka sahut Yusuf kepada keduanya “Tiada jua datang atas kamu kedua sesuatu makanan yang kamu makan akan dia melainkan kuberi tahu akan kamu dahulu daripada datang takbirnya atas kamu kedua barang yang di anugerahkan Allaha Taa’laya akan daku dengan wahaya dan ilham. Bahawasanya kulihat beberapa kaum tiada percaya mereka itu akan Allaha Taa’laya mereka itu kafir akan dia di dalam akhirat”. Wa Atabaa’ta Malata Abaaya Abaraahayama Wa Asahaqo Wa Yaa’qowaba Maa Kaana Lanaa Ana Nasharaka Ba Allaha Mana Shaya Zalaka Mana Fadhola Allaha A’layanaa Wa A’laya Al Naasa Wa Lakana Akatsara Al Naasa Laa Yashakarawana “Dan telah kuikutlah agama bapa Ibrahim dan Ishaq dan Yaaqub. Tiada segianya bagi kami menyengutukan Allaha Taa’laya dengan sesuatu juapun demikian itulah yang dianugerahkan Allaha Taa’laya akan kami dan atas segala manusia dan tetapi kebanyakan daripada mereka itu tiada syukur akan segala nikmatnya”.

Yaa Shoahabaya Al Sajana Arabaaba Matafaraqowana Khoyara Ama Allaha Al Waahada Al Qohaara. Maa Taa’badawana Mana Dawanaha Alaa Asamaa Samayatamawahaa Anatama Wa Abaawa Kamaa Maa Anazala Allaha Bahaa Mana Salathoana Ana Al Hakama Alaa Allaha Amara Alaa Taa’badawaa Alaa Ayaaha Zalaka Al Dayana Al Qoyama Wa Lakana Akatsara Al Naasa Laa Yaa’lamawana “Hai yang sama dengan daku di dalam penjara bahawasanya tuhan yang terbilang-bilang itukah baik atau Allaha Sabahaanaha Wa Taa’laya tuhan yang esa keesaannya pada zatnya dan segala sifatnya dan segala afa’alnya lagi amat qohar itukah baik. Bahawasanya ia jua tuhan yang kamu sembah tiada lain daripadanya maka adalah berhala yang kamu sembah itu nama yang kamu namakan akan dia dengan sangka kamu itu jua maka kamu ikutlah sangka ibubapa kamu yang dahulu kala itu tiada di turunkan Allaha Taa’laya atas kamu hujah dengan dia tiada ada hukum pekerjaan segala hamba itu melainkan bagi Allaha Taa’laya jua”.

Yaa Shoahabaya Al Sajana Amaa Ahada Kamaa Fayasaqoya Rabaha Khomaraa Wa Amaa Al Akhora Fayasholaba Fataakala Al Thoyara Mana Raasaha Qodhoya Al Amara Alazaya Fayaha Tasatafatayaana. Wa Qoala Lalazaya Zhona Anaha Naaja Mana Hamaa Azakaranaya A’nada Rabaka Faanasaaha Al Shayathoana Zakara Rabaha Falabatsa Faya Al Sajana Badhoa’ Sanayana Hai yang sama dengan daku di dalam penjara adapun akan Saaqoya itu lagi akan kembali engkau pada pekerjaanmu memegang minuman raja seperti adatmu dahulu jua lagi di tambahi raja kemuliaan akan dikau dan adapun akan Khobaaza itu lagi akan di sulakan orang akan dikau maka di pagut oleh burunglah kepalamu”. Kata Khobaaza “Berdustalah aku mimpiku itu” maka sahut Yusuf “Putuslah hukum barang yang telah kukatakan ia atas kamu kedua itu”. Kemudian maka kata Yusuf kepada Saaqoya “Persembahkan olehmu kepada Maalaka Rayaana adalah aku niayai oleh oranglah akan daku ke dalam penjara dengan tiada dosaku”. Hataya maka di lupakan oleh syaitan akan Saaqoya daripada menyampaikan pesan Yusuf kepada Maalaka Rayaana itu maka adalah umur Yusuf di dalam penjara tujuh tahun.

Kata Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha adalah Saaqoya itu Sharahayaa dan Khobaaza itu namanya Sharahayaa. Pada suatu hari muafakat Saaqoya dengan Khobaaza hendak meracun Maalaka Rayaana hataya maka di angkatnya persantapan raja yang sudah di bubuhnya racun di dalamnya ke hadapan Maalaka Rayaana. Maka Maalaka Rayaana pun hendak makanlah akan makanan itu maka sembah Saaqoya “Jangan tuanku santap makanan itu kerana ada dalamnya racun di bubuh oleh Khobaaza akan dia”. Setelah Maalaka Rayaana mendengar sembah Saaqoya itu maka tiadalah jadi di makannya akan makanan itu maka titah Maalaka Rayaana “Dusta engkau ini” maka sembah Saaqoya “Sungguh tuanku jika tiada percaya tuanku berilah makanan itu kepada anjing”. Hataya maka di suruh Maalaka Rayaana beri makanan itu kepada anjing maka pada ketika itu jua anjing itupun matilah.

Hataya maka murkalah Maalaka Rayaana akan keduanya lalu di suruhnya masukkan keduanya ke dalam penjara. Maka Saaqoya pun bermimpi pada malam itu lalu di ceritakannya kepada segala orang isi penjara itu maka kata mereka itu “Adalah kepada kami seorang laki-laki terlalu amat elok rupanya baharu di masukkan orang ke dalam penjara. Ialah yang amat tahu akan takbir mimpi”. Hataya maka Saaqoya pun pergi kepada Yusuf maka di lihatnya Khobaaza pun ada hadir di sana maka kata Saaqoya “Hai orang muda yang amat elok, adalah aku bermimpi semalam itu tetapi setengahnya itu lupalah aku akan dia. Takbirkan olehmu hai orang muda yang amat elok”. Maka sahut Yusuf “Katakanlah olehmu barang yang kau ingat akan dia itu” maka kata Saaqoya “Telah kulihat di dalam mimpiku seolah-olah adalah aku di dalam suatu tanaman yang ada di dalamnya banyak pohon anggur sekadar inilah yang kuingat hai orang muda”.

Maka kata Yusuf “Tiadakah kau ambil tiga ranting buah anggur itu maka kau perah di dalam suatu bekas maka adalah kau lihat seolah-olah raja pun ada duduk di atas geta di dalam tanaman itu jua. Maka lalu kau unjukkan piala itu kepada tangan raja maka ambil raja lalu di minumnya akan dia maka sukacitalah yang demikian itu”. Maka kata Saaqoya “Demi Allaha, tiadalah bersalahan mimpiku itu seperti yang kau katakan itu maka takbirkan olehmu akan dia”. Maka kata Khobaaza kepada Yusuf “Hai orang muda, aku pun bermimpi pada suatu malam seperti demikian jua” maka sahut Yusuf “Katalah olehmu akan dia”. Maka kata Khobaaza “Seolah-olah kulihat di dalam mimpiku adalah bermasak santapan raja di dalam tiga buah ganahawara maka pada suatu ganahawara merah warnanya maka kedua ganahawara kuning warnanya pada ketiga buah ganahawara hitam warnanya. Maka seolah-olah kujunjung roti itu kepada raja tiba-tiba seekor burung lalu di sambarnya di atas kepalaku serta katanya “Hai Khobaaza akulah burung dari atas langit”. Maka adalah pada ketika itu banyak segala manusia melihat kepadanya. Inilah mimpiku hai orang muda yang amat elok”.Maka kata Yusuf “Sejahat-jahat mimpi yang kau lihat itu” maka lalu Yusuf pun memberi nasihat akan mereka itu seperti yang di ceritakan akan Allaha Taa’laya di dalam Qoraana yang maha mulia itu.

Hataya setelah itu maka kata Yusuf kepada Saaqoya “Adapun tanaman yang kau lihat itulah perbendaharaan raja lagi akan di serahkan raja ia kepadamu dan yang kau perah anggur pada suatu bekas itu iaitu tetaplah engkau pada jabatanmu memegang persantapan raja seperti yang dahulu lagi jadi penghulu perbandaharaan dan raja tiga hari lagi di keluarkan oranglah akan dikau dan di persalin rajalah akan dikau dengan pakaian yang mulia dan di serahkannya perbandaharaan raja di dalam tanganmu dan adapun akan Khobaaza itu adalah ia diam tiga hari di dalam penjara maka pada hari yang keempat di keluarkan oranglah akan dikau dan di cincang oleh oranglah batang lehermu kemudian di sulakan orang pula kepalamu dan ketika itu di lihat oleh segala manusialah akan dikau dan pagut burunglah kepalamu demikian itu takbirnya”.

Maka kata Khobaaza “Berdustalah aku tiada aku melihat sesuatu jua pun di dalam tidurku. Jangan apalah sempena daku akan dengan kejahatan”maka kata Yusuf A’layaha Al Salama “Qodhoya Al Amara Alazaya Fayaha Tasatafatayaana Maka benar dan jika berdusta pun kamu kedua demikian itulah qodha Allaha Taa’laya atas kamu kedua demikian itulah”. Maka apabila di dengar Saaqoya kata Yusuf itu maka katanya “Hai orang yang amat elok rupa, jikalau ada engkau mengetahui akan takbir mimpi nescaya tiadalah engkau di masukkan orang ke dalam penjara”. Maka sahut Yusuf “Bahkan hai Saaqoya adalah aku teraniaya di penjarakan oleh Qothofayara akan daku tiada berdosa melainkan dengan di suruh isterinya jua. Maka ceritakan olehmu kepada tuanmu Maalaka Rayaana akan peri ehwalku ini”. Maka kata Saaqoya “Bahkan lagi akan kupersembahkan pada Maalaka Rayaana seperti katamu ini hingga di keluarkan oranglah akan dikau di dalam penjara ini”.

Hataya tatkala datang kepada hari yang keempat maka di keluarkan oranglah Saaqoya dan Khobaaza di dalam penjara lalu di persalin raja akan Saaqoya dan di jadikan ia penghulu orang memegang perbendaharaan raja. Adapun akan Khobaaza itu di suruh raja pancung batang lehernya maka di sulakan oranglah kepalanya pada pintu juga. Kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’naha tatkala itu maka Jibril A’layaha Al Salama datang kepada Yusuf katanya “Hai Shodayaqo, siapa menjadikan dikau” maka sahut Yusuf “Tuhanku”. “Dan siapa menjadikan sebaik-baik rupanya yang amat elok itu” maka sahut Yusuf “Bahkan tuhanku” maka kata Jibril “Siapa yang mengeluarkan dikau di dalam telaga Jaba” maka sahut Yusuf A’layaha Al Salama “Tuhanku juga”. Maka kata Jibril “Siapa menyuruhkan kanak-kanak menjadi saksi pada tatkala engkau hendak di bunuh oleh Qothofayara akan dikau” maka sahut Yusuf “Tuhanku juga”.

Maka kata Jibril “Jikalau demikian betapa juga engkau minta tolong kepada makhluk lain daripadanya. Tiadakah kau ketahui tatkala di buangkan orang bapamu Ibrahim ke dalam api Namrut adakah ia minta tolong kepada seorang juapun lain pada tuhannya Allaha Sabahaanaha Wa Taa’laya demikian katanya “Hasabaya Allaha Wa Naa’ma Al Wakayala. Maka betapa engkau minta tolong kepada Saaqoya suruh sampaikan kepada Maalaka Rayaana dan adalah keduanya kafir. Mungkirkah engkau akan segala nikmat tuhanmu firmannya jikalau kiranya tiada tilikku dan rahmatku akan bapamu Ibrahim dan Ishaq dan Yaaqub nescaya kugugurkan ia daripada martabat segala nabi dan pangkat mursalin”.

Hataya setelah di dengar Yusuf kata Jibril A’layaha Al Salama demikian itu maka iapun mengharap dengan sekali harap lalu rebah pengsan tiada khabarkan dirinya beberapa sahut hingga terkejutlah segala isi penjara habis datang melihat hal Yusuf itu. Antara berapa saat lamanya maka Yusuf siumanlah daripada pengsan lalu ia menangis dengan tangis yang amat sangat tiada berhenti memohonkan ampun dan rahmat kepada tuhannya katanya “Al Amana Al Amana”. Setelah di lihat mereka itu Yusuf amat dukacitanya dan menangis tiada mahu ia berkata-kata dengan segala manusia dan tiada makan dan minum maka mereka itu pun turut dukacita dan menangis sertanya pada tiada di ketahui oleh mereka itu akan sebabnya. Antara berapa hari yang demikian itu hingga seperti matilah kelakuan Yusuf A’layaha Al Salama. Kata Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha adalah yang demikian itu tujuh hari dan kata Majaahada dan Maqoatala rahamata Allaha A’laya Hamaa sepuluh hari.

Hataya maka Jibril pun turun kepada Yusuf A’layaha Al Salama maka kata Jibril “Hai Shodayaqo, bahawa tuhanmu itu berkirim salam kepadamu firmannya “Telahku ampun dosa hambaku Yusuf dan lagi akan kukeluarkan ia dari dalam penjara kemudian daripada tujuh tahun dan lagi akan kupertemukan ia dengan bapanya Yaaqub dan saudaranya sekelian””. Setelah di dengar Yusuf firman Allaha Taa’laya demikian itu maka iapun sujud kepada tuhannya dan baharulah ia sukacita. Maka di lihat oleh segala isi penjara itu Yusuf sukacita dan mahulah ia berkata-kata dengan mereka itu maka mereka itupun sukacita sertanya. Kata Abana A’baasa kemudian daripada itu dan maka sukacitalah Yusuf A’layaha Al Salama di dalam penjara itu tiadalah merasai dukacita kesukaran hingga di keluarkan Allaha Taa’laya dari dalam penjara itu.

Al kisah pada menyatakan Maalaka Rayaana tatkala bermimpi seperti firman Allaha Taa’laya Wa Qoala Al Malaka Anaya Araya Sabaa’ Baqoraata Samaana Yaa Kalahana Sabaa’ A’jaafa Wa Sabaa’ Sanabalaata Khodhora Wa Akhora Yaa Basaata Yaa Ayahaa Al Malaa Afatawa Naya Faya Rawayaaya Ana Kanatama Lalarawayaa Taa’barawana Maka tatkala Maalaka Rayaana pada segala ahli al takbir “Bahawasanya kulihat di dalam mimpiku tujuh ekor lembu yang tambun di makan oleh tujuh ekor lembu yang kurus dan tujuh tangkai gandum yang hijau belitnya oleh tujuh tangkai gandum yang kering hingga di alahkannya akan dia. Hai balatenteraku takbirkan olehmu akan mimpiku itu jika ada kamu daripada orang yang mengetahui takbir mimpi”. Maka sembah mereka itu seperti firman Allaha Taa’laya Qoalawaa Adhoghoafa Ahalaama Wa Maa Nahana Ba Taawayala Al Ahalaama Ba A’alamayana Maka sembah mereka itu “Tiada kami ketahui akan takbir mimpi raja itu. Inilah yang sia-sia lagi di cita-cita di dalamnya”.

Wa Qoala Alazaya Najaa Mana Hamaa Wa Adakara Baa’da Amataa Anaa Anaba Kama Ba Taawayalaha Faarasalawana. Yawasafa Ayahaa Al Shodayaqo Afatanaa Faya Sabaa’ Baqoraata Samaana Yaa Kalahana Sabaa’ A’jaafa Wa Sabaa’ Sanabalaata Khodhora Wa Akhora Yaa Basaaata Laa’laya Arajaa’ Alaya Al Naasa Laa’lahama Yaa’lamawana Setelah di dengar Saaqoya mimpi Maalaka Rayaana itu maka baharulah ia ingat akan pesan Yusuf padanya tatkala di dalam penjara itu. Maka sembahnya “Hai raja, adalah orang yang terlebih tahu akan takbir mimpi raja itu maka ujar Maalaka Rayaana “Segeralah engkau pergi kepadanya”. Hataya maka Saaqoya pun pergilah mendapatkan Yusuf ke dalam penjara maka katanya “Hai orang yang shidiq, takbirkan olehmu mimpi raja telah di lihatnya tujuh ekor lembu yang tambun di makan oleh tujuh ekor lembu yang kurus dan tujuh tangkai gandum yang hijau di belitnya oleh tujuh tangkai gandum yang kering hingga di alahkannya akan dia. Kata olehmu takbir supaya kembali aku mengadap raja dan aku ceritakan ia di hadapan segala balatenteranya.

Qoala Tazaraa’wana Sabaa’ Sanayana Daabaa Famaa Hashodatama Fazarawaha Faya Sanabalaha Alaa Qolayalaa Mamaa Tahashonawana. Tsama Yaataya Mana Baa’da Zalaka A’ama Fayaha Baghoatsa Al Naasa Wa Fayaha Yaa’shorawana Maka kata Yusuf “Hendaklah kamu perbuat huma dan bendang tujuh tahun dengan sehabis-habis usaha kamu mengerjakan dia. Apabila kamu ketam maka kamu taruh akan dia dengan tangkainya supaya jangan ia buruk melainkan sedikit juga yang kamu makan akan dia. Kemudian daripada itu tujuh tahun itu tiadalah turun hujan atas kamu tujuh tahun pula lamanya dan tiadalah jadi pada ketika itu segala perhumaan kamu di dalam tujuh tahun itu”. Telah sudah Yusuf A’layaha Al Salama mengatakan takbir mimpi raja kepada Saaqoya maka Saaqoya pun kembalilah kepada raja.

Kata Abana Masaa’wada radhoya Allaha a’naha adapun tatkala nabi Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama menceritakan hikayat Yusuf A’layaha Al Salama ini maka sabdanya “Bahawasanya ajaib sekali aku khabar saudaraku Yusuf di ampuni Allaha baginya. Jikalau kiranya di tanyai orang kepada aku akan takbir mimpi raja itu nescaya tiadalah kutakbirkan akan dia hingga di keluarkan orang akan daku dari dalam penjara dan lagi pula ajaiblah aku akan sabarnya dan kemuliaannya”. Tatkala datang pesuruh raja memanggil dia maka katanya “Kembalilah engkau dahulu kepada raja hendaklah di periksai oleh raja segala perempuan tersiat tangan mereka itu. Akukah yang salah itu atau Zulaikha yang salah”. Jikalau kiranya aku di suruhkan orang keluar dari dalam penjara itu nescaya bersegeralah aku keluar daripadanya kerana lamanya masa di dalam penjara itu dan kujadikanlah diriku segera keluar daripadanya”.

Kata Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha dan lain daripadanya pun segala a’lama tatkala sudah Maalaka Rayaana bermimpi itu maka dukacitalah hatinya lalu di suruhnya panggil segala ahli al takbir maka di ceritakan oleh Maalaka Rayaana lah mimpinya itu kepada mereka itu. Maka tiadalah seorang juapun daripada mereka itu tahu takbir mimpi raja itu maka sembah mereka itu “Inilah mimpi yang sia-sia lagi jahat-jahat. Kami tiada tahu akan takbirnya”. Maka bahawasanya di hilangkan Allaha Taa’laya pengetahuan mereka itu maka Maalaka Rayaana pun murkalah akan mereka itu katanya “Sia-sialah aku memberi sara akan kamu sekelian. Mimpiku sekian tiada dapat kamu takbirkan akan dia”.

Maka tatkala itu di dengar oleh Saaqoya titah raja itu maka pada ketika itulah ia teringat akan Yusuf maka sembahnya “Ya tuanku, ada seorang laki-laki muda teruna terlalu amat elok rupanya. Adalah ia sekarang di dalam penjara ialah yang tahu akan takbir mimpi itu”. Setelah di dengar Maalaka Rayaana kata Saaqoya itu mama katanya “Apakah dosanya di penjarakan orang akan dia siapa itu” maka sembah Saaqoya “Iaitu Yusuf anak Yaaqub adalah ia minta maklumkan ke bawah duli syah alam katanya adalah aku di aniaya oleh Qothofayara. Maka lalu lupalah aku memberi tahu syah alam selama ini”. Maka kata Maalaka Rayaana “Segeralah engkau pergi kepadanya itu”. Kata Abana A’baasa adalah lama antara Yusuf berpesan pada Saaqoya dengan tatkala berdatang sembah Saaqoya kepada Maalaka Rayaana itu tujuh tahun dan tujuh bulan dan tujuh hari lamanya seperti firman Allaha Taa’laya Falabatsa Faya Al Sajana Badhoa’ Sanayana.

Hataya maka Saaqoya pun pergilah kepada Yusuf A’layaha Al Salama ke dalam penjara di lihatnya Yusuf duduk serta mereka itu. Maka tercenganglah Saaqoya melihat dia kerana di lihatnya berubahlah tubuh Yusuf dan berjanggut dan bermisai seperti umur laki-laki tiga puluh tahun. Maka kata Saaqoya “Engkaukah Yusuf Shodayaqo yang metakbirkan mimpiku pada masa dahulu itu” maka sahut Yusuf “Bahkan akulah Yusuf anak Yaaqub yang metakbirkan mimpimu itu”. Maka Saaqoya pun minta maaf kepada Yusuf A’layaha Al Salama katanya “Hai Shodayaqo, maafkan olehmu akan daku. Telah lupalah aku selama ini menyampaikan amanatmu kepada raja” maka kata Yusuf “Hai Saaqoya, sanya telah di luputkan Allaha Taa’laya akan daku daripadanya. Sekarang apa pula kehendakmu datang kepada kami ini”. Maka sahut Saaqoya “Bahawa datang aku kepadamu ini bertanyakan takbir mimpi raja dan adalah mimpi oleh raja itu demikian maka tiada siapa mengetahui ia akan takbirnya daripada segala ahli al takbir”. Maka sahut Yusuf “Hendaklah kamu perbuat huma dan bendang di dalam tujuh tahun ini kemudian daripada tujuh tahun itu pula tiadalah turun hujan atas kamu dan tiada jadi segala tumbuh-tumbuhan di dalam bumi ini. Inilah takbir mimpi raja kamu”.

Hataya maka Saaqoya pun kembalilah mengadap raja lalu di persembahkanlah seperti barang yang di kata Yusuf itu. Maka titah Maalaka Rayaana “Bawalah ia kepada aku supaya minta ikhlas aku kepadanya dan berkata-kata aku dengan dia”. Maka Saaqoya pun pergi kepada Yusuf katanya “Bahawasanya engkau di panggil raja kerana hendak berkata-kata ia dengan dikau dan minta ikhlas ia kepada mu”. Maka sahut Yusuf “Tiada aku mahu keluar dari dalam penjara ini hingga di periksai oleh raja antara aku dan antara orang yang tersiat tangan mereka itu. Akukah yang salah atau Zulaikha kah yang salah”. Kata Kaa’ba Al Ahabaara dan Sayadaya pada ketika itu berkata Jibril A’layaha Al Salama “Engkau pun sedikit lagi mengikut kata Zulaikha itu” maka sahut Yusuf seperti firman Allaha Taa’laya Wa Maa Abaraya Nafasaya Ana Al Nafasa Laa Maarata Ba Al Sawaa “Tiada aku menyucikan diriku. Bahawasanya yang nafsu itu amat menyuruh dengan kejahatan melainkan barang yang di kasihi oleh tuhanku jua”.

Kata yang empunya cerita setelah di dengar oleh Saaqoya kata Yusuf itu maka iapun kembalilah mengadap raja lalu di sampaikan seperti kata Yusuf itu maka titah Maalaka Rayaana “Bawalah kepada aku segala perempuan yang siat jari tangannya”. Hataya maka di himpunkan oranglah segala perempuan itu mengadap Maalaka Rayaana dan Zulaikha pun datang serta mereka itu. Setelah di lihat Maalaka Rayaana mereka itu datang sekeliannya maka katanya “Apa halmu tatkala itu maka jadi tersiat segala jari tangannya kamu”. Sembah mereka itu “Kerana kami lihat rupa Yusuflah maka jadi tersiat jari tangan kami demikian ehwalnya” lalu di ceritakan segala perempuan itulah seperti kelakuan Zulaikha dengan Yusuf itu pada masa dahulu kala. Maka kata Maalaka Rayaana “Jikalau demikian benarlah Yusuf dan jahatlah Zulaikha. Mengapa orang yang benar di penjarakan”.

Hataya maka takutlah Zulaikha mendengar kata Maalaka Rayaana itu maka sembahnya “Hai raja, bahawasanya benarlah Yusuf itu dan akulah yang salah yang berbuat aniaya akan dia. Telah kukehendaki akan dia bagi diriku dan adalah ia daripada orang yang benar”. Hataya setelah di dengar Maalaka Rayaana akan ikrar Zulaikha demikian itu dan membawa a’zarlah ia dengan dia maka kata Maalaka Rayaana kepada Saaqoya “Pergilah engkau bawa Yusuf itu kepada aku supaya minta ikhlas aku kepadanya”. Setelah sudah Saaqoya pergilah kepada Yusuf A’layaha Al Salama maka Zulaikha pun berdatang sembah kepada Maalaka Rayaana katanya “Hai syah alam, adakah kau ampuni segala dosa kami yang telah lalu itu”.

Maka titah Maalaka Rayaana “Bahkan telah lalulah pekerjaan itu. Sekarang mahukah engkau kahwinkan dengan Yusuf itu” maka sembah Zulaikha “Mohonlah hambamu kerana hambamu pun sudah tuha lagi pun tiadalah ia mahu akan daku selang muda belia lagi ia tiada mahu akan daku. Istimewa pula sudah tuha ini tetapi suatu geta kusuruh perbuat di dalam tanaman itu seperti rupa lembu. Baik di suruh raja ambil akan dia akan tempat kedudukan Yusuf tatkalanya keluar di dalam penjara”. Maka Maalaka Rayaana pun tersenyum mendengar kata Zulaikha itu lalu di suruhkan ambil geta itu ke dalam tanaman Zulaikha.

Kata Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha adalah cerita ini amat lanjut. Adapun Zulaikha itu maka di ambil maka di sebut orang akan dia Zulaikha kerana terlalu sangat elok rupanya. Adalah ia daripada kaum A’maalayaqo (A’malek) wazir yang amat besar di dalam negeri Mesir lagi amat kaya bapanya itu. Maka tatkala sampai umur Zulaikha kepada empat belas tahun maka pada suatu malam bermimpi Zulaikha di lihatnya seorang laki-laki terlalu amat elok rupanya bercahaya-cahaya warna mukanya. Maka kata Zulaikha “Siapa engkau” maka sahutnya “Akulah suamimu” lalu terjagalah Zulaikha daripada tidurnya maka menangislah Zulaikha dukacitanya tiada mahu makan dan minum.

Hataya maka di tanya ibubapanya akan dia “Apa halmu demikian ini hai anakku. Tiada mahu makan dan minum dan tiada mahu berkata-kata. Apa sebabnya demikian ini”. Maka sahut Zulaikha “Hai ibuku, telah bermimpi aku seolah-olah kulihat seorang laki-laki terlalu elok rupanya. Maka kataku siapa engkau maka sahutnya akulah suamimu lalu terkejutlah aku daripada tidurku. Dari kerana itlah maka aku dukacita yang amat sangat tiadaku ketahui akan tempatnya”. Maka kata A’nakaa bapa Raaa’yala “Hai anakku, janganlah engkau dukacita. Apabila kaulihat akan dia sekali lagi di dalam tidurmu hendaklah kau tanyai siapa engkau dan di mana negerimu”.

Hataya berapa antara lamanya maka bermimpi pula Zulaikha pada suatu malam seolah di lihatnya seorang laki-laki seperti dahulu juga. Maka katanya “Siapa namamu dan di mana negerimu hai muka yang amat elok” maka sahut laki-laki itu “Aku A’ziz Mesir”. Maka Zulaikha pun terkejutlah daripada tidurnya lalu ia menangis. Setelah hari siang maka di katakannyalah mimpinya itu kepada bapanya maka di kata A’nakaa “Hai anakku, siapa laki-laki itu” maka sahut Zulaikha “Adalah di katanya dirinya itu A’ziz Mesir tetapi rupanya tiada seperti yang kulihat itu”. Maka di kata A’nakaa “Hai anakku janganlah kaukata demikian itu. Bahawasanya adalah ia wazir yang amat kaya lagi amat besar martabatnya. Patutlah ia jadi suamimu”.

Hataya maka di suruh oleh A’nakaa seorang perempuan kepada A’ziz Mesir mengatakan “Seorang anaknya bernama Raaa’yala patutlah ia akan jadi isteri A’ziz. Jika kabul kiranya A’ziz nescaya kami suruh hantarkan ia kepada raja”. Hataya maka perempuan itupun pergi mendapatkan A’ziz Mesir lalu di katakannyalah seperti kata A’nakaa itu. Setelah di dengar oleh A’ziz Mesir maka iapun terlalu amat sukacita mendengar kata perempuan itu lalu di hantarkan Zulaikha serta di hiasi daripada pakaian yang indah-indah dan lain berpetera emas pula dan di suruh pergi terlalu banyak. Kata Kaa’ba Al Ahabaara tatkala di hantar oleh A’nakaa anaknya kepada A’ziz maka di lihatnya oleh Zulaikha rupa Qothofayara itu tiada seperti yang di lihatnya di dalam mimpinya itu. Maka dukacitalah di dalam hatinya dan adalah Qothofayara itu akan suatu penyakit maka tiadalah dapat ia perempuan.


Kata yang empunya cerita antara berapa lamanya maka Yusuf A’layaha Al Salama pun datang ke negeri Mesir di bawa Maalaka abana Daaa’ra. Maka di tebus oleh Qothofayara akan dia seperti yang sudah di ceritakan akan Allaha Taa’laya di dalam Qoraana yang maha mulia. Kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’naha adalah Zulaikha jadi isteri Qothofayara itu maka dukacitalah hatinya dan tatkala di lihatnya pula akan rupa Yusuf A’layaha Al Salama maka teringatlah ia akan rupa yang di lihatnya di dalam mimpinya itu tiada bersalahan. Maka iapun terlalu amat sukacita melihat rupa Yusuf itu maka berahilah Zulaikha akan Yusuf seolah-olah belah hatinya daripada sangat berahinya itu. Lalu di suruhnya perbuat sebuah geta di dalam tamannya seperti rupa lembu dan di atasnya suatu kubah daripada emas yang bertatahkan permata yang besar harganya dan adalah pegawainya daripada cendana dan gaharu bersendi dengan kayu orong dan gada yang terlalu sangat indah-indah perbuatan kerana barang kehendak di perbuat Zulaikha itu di turut oleh Qothofayara akan dia.

Maka di taruh di atas geta itu pelbagai rupa pakaian yang indah-indah maka kata Zulaikha pada Yusuf “Pakailah olehmu barang yang berkenan kepadamu daripada segala pakaian itu”. Maka tiada di pakai oleh Yusuf melainkan di kerjanya tanaman itu jua maka tatakala sudah di masukkan oleh Qothofayara akan Yusuf ke dalam penjara lima tahun lamanya maka Qothofayara pun matilah. Duduklah Zulaikha serta sahayanya tiadalah ada upayanya hendak mengeluarkan Yusuf di dalam penjara itu lalu di suruhnya orang pergi kepada Yusuf A’layaha Al Salama “Mahukah engkau di keluarkan di dalam penjara supaya kupohonkan engkau kepada Maalaka Rayaana”. Maka sahut Yusuf “Tiadalah aku keluar daripadanya melainkan hingga di keluarkan Allaha Taa’laya akan daku daripadanya.

Arakian tatkala di dengar Maalaka Rayaana sembah Zulaikha itu maka lalu di suruhnya orang pergi mengambil geta itu ke dalam taman Zulaikha. Hataya maka di usung oranglah geta itu ke hadapan Maalaka Rayaana dengan seratus orang mengusung dia. Setelah di lihat Maalaka Rayaana akan rupa geta itu maka amat hairanlah ia melihat perbuatannya yang indah-indah. Hataya maka di suruh Maalaka Rayaana bawa geta itu menyambut Yusuf A’layaha Al Salama. Maka Yusuf pun di mandikan orang setelah sudah mandi maka di kenakan orang persalin daripada Maalaka Rayaana daripada pakaian yang keemasan. Maka Yusuf pun duduklah di atas geta itu di usung oleh segala manusia akan dia. Setelah ia sampai ke pintu penjara maka di suruh oleh Yusuf tutup pintu penjara itu demikian bunyinya “Inilah kubur segala orang yang hidup dan inilah tempat dukacita dan tempat pencuba bagi orang yang benar dan tempat beroleh sentosa segala seteru”.

Maka tatkala sampailah Yusuf ke pintu Maalaka Rayaana maka di bacanya ini Hasabaya Rabaya Mana Al Baaghoya Wa Hasabaya Rabaya Mana Kholaqoha A’za Jaaraha Wa Jala Tsanaawaha Wa Laa Alaha Ghoyaraha “Padalah bagiku tuhanku daripada duniaku dan padalah bagiku tuhanku daripada kejadian yang amat mulia itu hampirlah ia kepadanya dan kebesarannya itu puji baginya dan tiada tuhan yang lain daripadanya”. Maka tatkala hampir Yusuf kepada Maalaka Rayaana maka di bacanya doa ini Allahama Anaya Asaalaka Khoyaraka Wa Khoyaraha Wa Aa’waza Baka Mana Sharaha Wa Shara Ghoyaraha “Hai tuhanku, kupohonkan kepadamu kebajikan dan berlindung aku kepadamu daripada kejahatan yang lain daripadanya”.

Maka tatkala di lihat Yusuf akan Maalaka Rayaana maka iapun memberi salam kepadanya dengan bahasa Ibrani maka di sahut oleh Maalaka Rayaana pun dengan bahasa itu jua serta katanya “Apa itu” maka sahut Yusuf “Inilah bahasa ibubapaku”. Maka minta doalah Yusuf akan Maalaka Rayaana dengan bahasa A’rab maka katanya “Apa itu” maka sahut Yusuf “Dengan bahasa bapa tuhaku Ismail A’layaha Al Salama. Kata Wahaba abana Manabaha rahamata Allaha a’layaha adalah berkata-kata Maalaka Rayaana dengan Yusuf tujuh puluh bahasa maka tiap-tiap kali Maalaka Rayaana berkata dengan Yusuf di sahutnya seperti yang dikatakan Maalaka kepadanya itu jua.

Maka kata Maalaka Rayaana “Ajaib sekali akan orang muda ini sedikit umurnya seribu bahasa habis di ketahuinya dan adalah pada ketika itu umur Yusuf tiga puluh tahun maka hairanlah raja Mesir melihatkan akalnya dan ilmunya padahal tiada banyak negeri yang lain. Maka jatuhlah hati Maalaka Rayaana kasih akan Yusuf A’layaha Al Salama maka katanya “Hai Yusuf, kasihlah aku hendak mendengar takbir mimpiku”. Kata Kaa’ba Al Ahabaara tersebut di dalam suatu riwayat telah berkata Yusuf kepada pesuruh raja “Tiada aku mahu keluar di dalam penjara hingga di keluarkan oleh raja segala orang isi penjara ini sertaku”. Maka di sampaikan oleh Saaqoya seperti kata Yusuf itu keoada Maalaka Rayaana “Jangankan segala isi penjara itu di pinta oleh Yusuf jikalau setengah kerajaanku ini sekalipun nescaya kuberi akan dia”.

Kata Mashonafa rahamata Allaha a’layaha telah kami ulangi pula perkataannya seperti yang di ceritakan Allaha Taa’laya di dalam Qoraana yang amat besar Laqowalaha Taa’laya Wa Qoala Al Malaka Atawanaya Baha Falamaa Jaaha Al Rasawala Qoala Arajaa’ Alaya Rabaka Fasalaha Maa Baala Al Nasawata Alataya Qothoa’na Ayadaya Hana Ana Rabaya Ba Kayada Hana A’layama. Qoala Maa Khothoba Kana Aza Raawadatana Yawasafa A’na Nafasaha Qolana Haasha Lalaha Maa A’lamanaa A’layaha Mana Sawaa Qoalata Amaraata Al A’zayaza Al Ana Hashohasho Al Haqo Anaa Raawadataha A’na Nafasaha Wa Anaha Al Shoadaqoyana. Zalaka Layaa’lama Anaya Lama Akhonaha Ba Al Ghoyaba Wa Ana Allaha Laa Yahadaya Kayada Al Khoanayana. Wa Maa Abaraya Nafasaya Ana Al Nafasa Laa Maarata Ba Al Sawaa Alaa Maa Rahayama.

Maka Maalaka Rayaana kemudian daripada sudah di dengarnya kata Saaqoya itu maka kata Maalaka Rayaana “Bawalah oleh kamu Yusuf itu kepada aku”. Maka tatkala datang penyuruh raja kepada Yusuf A’layaha Al Salama kerana mengeluarkan dia di dalam penjara maka kata Yusuf “Kembalilah kamu kepada Maalaka Rayaana hendak di periksai oleh raja kepada segala perempuan yang tersiat tangan mereka itu. Apa hal mereka itu maka tersiat segala jari tangan mereka itu. Bahawasanya tuhanku jua tuhan yang amat tahu akan fitnah segala perempuan itu”. Maka di tanya oleh raja Mesir kepada segala perempuan “Apa perbuatan kamu pada masa itu akan Yusuf tatkala berahi kamu akan dia” maka berkata Zulaikha “Khoasha Allaha tiadakah kamu ketahui kejahatan Yusuf di dalamnya”. Maka sembah mereka itu “Sekarang telah nyatalah kebenaran Yusuf dan salah Zulaikha” maka sembah Zulaikha “Akulah yang salah menghendaki dia kepada diriku dan adalah Yusuf itu daripada orang yang benar”.

Maka kata Maalaka Rayaana pada Saaqoya “Pergilah engkau kepada Yusuf kata olehmu seperti kata Zulaikha itu”. Setelah datang kepada Yusuf lalu di ceritakannya seperti kata Zulaikha itu maka kata Yusuf “Seperti demikian itulah yang kukehendaki pun supaya di ketahui raja bahawasanya tiada aku perbuat khianat akan Qothofayara tetapi di tunjuk Allaha Taa’laya bagi orang yang khianat itu dan tiada aku menyucikan diriku daripada gelincir. Bahawasanya yang nafsu itu menyuruhkan dengan kejahatan melainkan barang siapa yang di kehendaki oleh tuhanku. Bahawasanya tuhanku itu amat mengampuni lagi mengasihani”.

Wa Qoala Al Malaka Atawanaya Baha Asatakholashoha Lanafasaya Falamaa Kalamaha Qoala Anaka Al Yawama Ladayanaa Makayana Amayana. Qoala Ajaa’lanaya A’laya Khozaana Al Aradho Anaya Hafayazho A’layama. Wa Kazalaka Makanaa Layawasafa Faya Al Aradho Yatabawaa Manahaa Hayatsa Yashaa Nashoyaba Ba Rahamatanaa Mana Nashaa Wa Laa Nadhoyaa’ Ajara Al Mahasanayana. Wa Laajara Al Akhorata Khoyara Lalazayana Amanawaa Wa Kaanawaa Yataqowana. Maka kata raja Mesir kepada Saaqoya “Bawalah Yusuf itu kepada aku supaya aku berkata-kata dengan dia dan minta ikhlas aku kepadanya”. Maka tatkala datang Yusuf A’layaha Al Salama kepada Maalaka Rayaana berkata kepada Yusuf “Adalah engkau sekarang daripada orang yang beroleh kemuliaan dan martabat yang amat besar”. Maka sahut Yusuf “Jadikan olehmu akan daku memegang perbendaharaanmu. Bahawasanya aku amat tahu mengiringi dia”.

Seperti demikian itulah kami anugerahi akan Yusuf kerajaannya di dalam bumi Mesir maka di perintahkannyalah barang yang di kehendakinya dan kami anugerahi akan dia dengan beroleh untung dan rahmat bagi barang siapa yang kami kehendaki beroleh untung di dalam dunia dan tiada kami mensiakan bagi barang siapa berbuat kebajikan pada kami dan tetapi pahala di dalam negeri itu lebih baik daripada pahala di dalam dunia ini akan balas segala orang yang percaya akan kami dan yang berbuat kebajikan mereka itu pada kami.

Kata Abana A’baasa kudengar sabda rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama “Jikalau tiada dikata oleh saudaraku Yusuf “Jadikan olehmu akan daku memegang pada bendaharaan isi bumi Mesir ini” nescaya di rajakan Maalaka Rayaana akan dia pada ketika itu jua dan tetapi adalah yang demikian itu atau kemudian daripada tahun itu jadi rajalah Yusuf A’layaha Al Salama”.

Kata Wahaba tatkala sudah Maalaka Rayaana duduk bersama Yusuf di atas geta seperti rupa lembu itu maka berkata-katalah keduanya dengan bahasa yang berlainan. Maka kata Maalaka Rayaana “Apa namamu hai laki-laki yang amat elok rupa, tiada pernah kulihat seorang juapun seperti rupamu ini” maka sahut Yusuf A’layaha Al Salama “Akulah Yusuf anak Yaaqub anak Ishaq anak Ibrahim Kholil Allaha”. Maka kata Maalaka Rayaana “Apa sebabnya engkau datang ke negeri kami ini hai Yusuf” maka di ceritakan Yusuf lah akan segala perihal ehwalnya daripada tatkala di buangkan oleh segala saudaranya ke dalam telaga Jaba itu dan peri mengatakan di jual mereka itu kepada Maalaka abana Daaa’ra dan tatkala di bawa Maalaka abana Daaa’ra ke negeri Mesir. Maka di tebus oleh Qothofayara akan dia dan perinya di sakit oleh Zulaikha kerana berahinya ia akan dia itu maka selama Yusuf menceritakan hal dirinya kepada Maalaka Rayaana itu serta ia menangis sebagailah ada air matanya. Setelah di dengar Maalaka Rayaana khabar Yusuf itu maka iapun terlalulah amat kasihan akan Yusuf A’layaha Al Salama.

Setelah itu maka kata Maalaka Rayaana “Hai Yusuf, telah bermimpi aku mengenderai kuda maka kulihat tujuh ekor lembu yang tambun ada baginya tiap-tiap seekor lembu itu beberapa tanduk. Maka datang pula seekor lembu lalu di tanduknya akan dia dan di buangkannya kepada tanduk seekor lembu maka adalah aku daripada tanduk seekor lembu kepada tanduk seekor lembu di dalam antara itu. Tiba-tiba kulihat datang tujuh ekor lembu yang kurus kempis lalu di tanduknya lembu yang tambun itu hingga di alahkannyalah akan dia. Kemudian maka terbanglah segala lembu yang kurus itu tiga ekor pada pihak Masyrik dan tiga ekor pada pihak Maghrib dan seekor tinggal pada tempatnya itu jua. Maka tiba-tiba kulihat pula tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai tangkai gandum yang kering lalu berbelah-belah ia hingga di alahkannyalah akan gandum yang hijau itu. Demikian hai Yusuf”.

Maka kata Yusuf “Tiadakah di lihat oleh raja air sungai itu kering” maka sahut Maalaka Rayaana “Bahkan kulihat tanahnya di dalam sungai itu lumpur yang hitam daripada sangat keringnya. Hai yang amat tahu akan takbirnya, takbirkan apalah olehmu akan mimpiku itu” maka kata Yusuf “Hai raja, adapun yang di lihat raja tujuh ekor lembu yang tambun itu menunjukkan tahun yang murah dan tujuh ekor lembu yang kurus itu menunjukkan tahun yang mahal. Tiada jadi tumbuh-tumbuhan hingga picaklah muka bumi ini dengan kelaparan. Adapun yang kau lihat tujuh tangkai gandum yang kering itu iaitu menunjukkan tanda alamat makmurnya jua yang demikian itu dan adapun yang di lihat raja air sungai Nil kering itu alamat tiada turun hujan tujuh tahun lamanya”.

Maka kata Maalaka Rayaana “Jikalau seperti katamu ini apa juga pekerjaan kita” maka sahut Yusuf “Hendaklah di suruh raja segala manusia berhuma dan bendang di dalam tujuh tahun ini. Apabila masak di ketam dengan tangkainya lambat buruk”. Maka kata Maalaka Rayaana “Siapa dapat berbuat demikian itu” maka sahut Yusuf “Kepada barang siapa yang kau kehendaki suruhlah olehmu akan dia”. Maka kata Maalaka Rayaana “Engkaulah yang dapat mengerjakan dia” hataya maka kata Yusuf pada ketika itu “Jadikan olehmu aku memegang perbendaharaanmu. Akulah yang amat tahu mengirai dia”. Kata Kaa’ba Al Ahabaara maka pada ketika itu jua di hunus Maalaka Rayaana cincinnya daripada jarinya lalu di masukkannya kepada jari Yusuf A’layaha Al Salama maka kata Maalaka Rayaana “Hai segala tenteraku, inilah A’ziz Mesir akan gantiku. Hendaklah kamu ikut barang katanya dan permulia oleh kamu akan dia”. Maalaka Rayaana pun masuklah agama Asalama serta Yusuf A’layaha Al Salama kerana di lihatnya kemuliaan Yusuf dan sangatlah di permulianya akan Yusuf A’layaha Al Salama maka Yusuf pun sukacitalah daripada demikian itu.

Kata Abana A’baasa apabila sudah Yusuf jadi A’ziz Mesir maka jadi Asalamalah segala isi negeri Mesir itu dan Maalaka Rayaana pun serta mereka itu di dalam agama Asalama. Hataya maka di persalin Maalaka Rayaana akan Yusuf A’layaha Al Salama dengan pakaian yang kemuliaan kemudian daripada itu maka A’ziz Mesir pun menyuruh orang berbuat suatu kubah daripada kain di baja yang keemasan maka duduklah ia di dalam himat itu mengajar segala manusia berhuma dan bendang bertanam jagung dan kacang dan kadali. Hataya maka A’ziz pun berjalan pada tiap-tiap hari menatapi pekerjaan mereka itu dan memberi sara akan mereka itu dan segala laskar. Apabila masak padi mereka itu di suruhnya taruh dengan tangkainya dan di suruhnya perbuat beratus jelapang akan bekas gandum dan sayur dan kacang dan jagung masing-masing dengan jelapangnya demikian lagi pada segala wazir yang besar-besar pun masing-masing dengan jelapangnya jua di suruh A’ziz perbuat maka di patuhlah mereka itu dengan makanan melainkan sedikit jua yang di makan mereka itu.

Genaplah tujuh tahun maka tiadalah turun hujan atas mereka itu. Setelah datanglah kepada tahun yang kemarau itu maka tiadalah jadi perhumaan mereka itu dan tiadalah tumbuh-tumbuhan mereka itu di dalam bumi. Maka suruh A’ziz menegahkanlah mereka itu berhuma dan bertanam tanaman di dalam itupun di kerjakan mereka itu juga. Maka tiadalah jadi seperti adatnya dan tiadalah berbuat segala perhumaan mereka itu maka tiadalah di peroleh mereka itu suatu juapun dan tiadalah memberi manafaat akan mereka itu segala tanam tanaman mereka itu.

Kata yang empunya cerita pada tahun yang pertama di makan mereka itulah barang yang ada dalam rumah mereka itu hingga habislah pada tahun itu dan pada tahun yang kedua setengah tiadalah kepada mereka itu makanan. Maka mengadap mereka itu kepada Maalaka Rayaana sembah mereka itu “Tiadalah pada kami makanan hai raja” maka kata Maalaka Rayaana “Pergilah kamu kepada A’ziz pada ialah bendaharaan makanan”. Hataya maka pergilah mereka itu kepada A’ziz sembah mereka itu “Tiadalah makanan pada kami hai A’ziz” maka di jual A’ziz Mesirlah makanan pada mereka itu dan setengah di berinya setara akan mereka itu. Di dalam tahun yang ketiga di beli mereka itu kepada A’ziz gandum dengan dinar dan dirham dan setengah di tukar mereka itu makanan hidup-hidupannya mereka itu daripada lembu dan kambing dan unta hingga habislah harta mereka itu berhimpun kepada A’ziz Mesir.

Hataya maka pada tahun yang keempat di jual mereka itu segala permata yang besar-besar harganya dan segala yang berdusun maka di jual mereka itulah dusunnya akan pembeli makan mereka itu dan setengah segala yang tiada di dalam diri mereka itu maka tubuh sendirinya mereka itulah jadi hamba kepada A’ziz Mesir. Maka jadilah mereka itu sahaya kepada A’ziz dan pada tahun yang kelima di jual mereka itulah sahaya mereka itu daripada laki-laki dan perempuan tetapi terbanyak daripada mereka itu berjual dirinya kepada A’ziz Mesir A’layaha Al Salama melainkan sedikit jua mereka itu tiada berjual dirinya dan terbanyaklah pada tahun yang keenam itu di jual anak mereka itu dan diri mereka itu hingga datang kepada yang ketujuh. Hataya maka di beri A’zizlah mereka itu sekelian makan tadahan pagi dan petang hingga jadilah sekelian mereka itu milik bagi A’ziz A’layaha Al Salama.

Kata Abana A’baasa radhoya Allaha a’naha adalah Zulaikha pada tahun yang keempat itu habislah segala hambanya sahaya berjual diri kepada Yusuf A’layaha Al Salama kerana makanan maka datanglah kesukaraan makanan atas Zulaikha hingga jadilah ia seperti kebanyakan mereka itu mencari makan sendirinya. Segala hartanya dan hamba sahayanya habis beroleh akan A’ziz Mesir A’layaha Al Salama dan adalah segala harta mereka itu dan segala hamba sahayanya mereka itu dan hidupannya mereka itu sekelian di suruh A’ziz hantarkan pada katab-katab dan di taruhnya pada suatu tempat berpuluh jelapang berisi segala harta mereka itu.

Kata yang empunya cerita maka tinggallah Zulaikha seorang dirinya dan bapanya A’nakaa pun sudah tuha tiadalah upaya lagi kepadanya maka Zulaikha sangat hendak bertemu dengan A’ziz Mesir. Maka pada suatu hari di nanti oleh Zulaikha akan A’ziz Mesir pada tepi jalan orang maka pada hari itu A’ziz Mesir pun berjalanlah kerana suatu hajatnya dengan alat senjatanya beberapa ratus laskar mengiringkan dia. Setelah di lihat Zulaikha akan A’ziz Mesir berjalan di dalam pasar maka ia berseru-seru katanya Sabahaana Mana Aa’za Al A’bada Ba Al Thoa’ta Wa Azala Al Malaka Ba Al Maa’shoyata Sabahaana Mana Jaa’la Al A’bayada Malawakaa Wa Jaa’la Al Malawaka A’bayadaa ertinya barang siapa bermulia hambanya yang berbuat taat dan menghinakan segala raja-raja yang berbuat derhaka. Maha suci barang siapa menjadikan hamba itu dengan beroleh kerajaan dan menjadikan segala raja kemuliaan.

Maka di terbang oleh angin kata Zulaikha itu kepada A’ziz pun berhenti kerana mendengar suara itu. Katanya “Dengarkan oleh kamu suara apa itu aku dengar seperti suara perempuan yang berseru-seru itu”. Maka tiba-tiba Zulaikha datang hampir A’ziz Mesir serta katanya Laa Alaha Alaa Allaha Wahadaha Laa Sharayaka Laha Wa Ashahada Ana Abaraahayama Rasawala Allaha Wa Anaka Awalaada Al Nabaya Abana Yaa’qowaba Bana Asahaqo Bana Abaraahayama Kholayala Allaha. Tercenganglah A’ziz Mesir melihat Zulaikha itu tiada di kenalnya akan dia maka kata A’ziz Mesir “Siapa engkau hai hamba Allaha” maka sahut Zulaikha “Tiadakah kau kenal akan daku”. Maka kata A’ziz Mesir “Tiada kukenal apa kesukaranmu” maka kata Zulaikha “Hai A’ziz, akulah daripada A’malaqoha yang Qothofayara penghulumu dahulu itu. Tiadakah kau kenal akan daku”.

Hataya maka baharulah di kenal Yusuf akan dia maka katanya “Apa halmu sekarang” maka sahut Zulaikha “Hai Amayara Al Mawamanayana, amat kesukaranlah aku kerana makanan. Bahawasanya habislah segala hartaku dan sahayaku jadi hambamu berjual dirinya mereka itu kepadamu”. Setelah di dengar A’ziz Mesir kata Zulaikha demikian itu maka katanya “Kembalilah engkau lagi akan kukembalikan segala hartamu itu kepadamu lagi kutambahi pula dengan yang lain daripada itu”. Hataya maka di suruh A’ziz Mesir sukat makanan akan Zulaikha serta kembalikan kepadanya segala hartanya dan segala hamba sahayanya.

Kisah pada menyatakan kahwin Yusuf dengan Zulaikha. Kata Abana A’baasa dan Kaa’ba Al Ahabaara radhoya Allaha a’naha maka tatkala Yusuf sudah bertemu dengan Zulaikha itu maka di hantarkan oranglah segala hamba sahaya dan segala hartanya dan beberapa makanan yang amat baik maka mengucap syukurlah Zulaikha akan Allaha Taa’laya. Pada suatu hari datanglah Jibril A’layaha Al Salama kepada A’ziz katanya “Hai Shodayaqo, bahawa tuhanmu berkirim salam kepadamu. Firmannya hendaklah kamu sambut Zulaikha itu kerumahmu telah kukahwinkan ia dengan dikau di atas langit”. Setelah di dengar Yusuf firmannya Allaha Taa’laya itu maka katanya “Ya Jibril, bahawa firman tuhanku itu telah kujunjungkan tetapi adalah ia sudah kena penyakit rupanya pun tiadalah seperti dahulu kala”. Maka kata Jibril “Ya nabi, bahawasanya tuhanmu kuasa menjadikan rupa yang amat elok. Pergilah engkau kepadanya adalah ia daripada perempuan yang mukmin”.

Setelah kata Jibril demikian itu maka sukacitalah hati A’ziz mendengar kata Jibril itu maka Yusuf A’layaha Al Salama pun pergilah mendapatkan Maalaka Rayaana lalu ceritakanlah seperti kata Jibril dengan firman Allaha Taa’laya mengahwinkan dia dengan Zulaikha itu. Maka sukacitalah hati Maalaka Rayaana mendengar dia katanya “Sebaik-baik pekerjaanlah yang demikian itu lalu di suruhnya himpunkan segala orang besar-besar dan segala wazir maka di perjamunya makan minum bersuka-sukaan dua tiga hari. Setelah itu maka di suruh Maalaka Rayaana A’ziz Mesir menyambut Zulaikha bawa ke rumahnya.

Hataya A’ziz Mesir pun pergilah menyambut puteri Zulaikha adalah pada ketika itu ia tengah berdiri berbuat ibadat akan Allaha Taa’laya. Maka kata A’ziz “Hai yang dikasihi tuhannya, telah di kahwinkan Allaha Taa’laya aku dengan dikau di atas langit. Sekarang marilah kita kembali ke rumah kita”. Hataya apabila di dengar Zulaikha kata A’ziz Mesir itu maka katanya “Tiada mahu aku akan dia kerana aku sudah tuha lagi penyakit. Bahawasanya sukalah aku berbuat ibadat kepada tuhanku”. Arakian maka pada ketika itu datanglah Jibril A’layaha Al Salama lalu di sapunya muka Zulaikha dengan daun Shajarata Al Manatahaya hingga jadilah rupanya berlebih elok daripada dahulukala bercahaya-cahaya gilang gemilang berseri-seri di pandang orang dan penyakit matanya pun hilanglah pada ketika itu jua. Setelah di rasainya oleh Zulaikha berubah tabiat tubuhnya kembali seperti pada masanya dahulukala maka iapun sujud kepada Allaha Taa’laya kemudian iapun berdiri berbuat ibadat akan Allaha Taa’laya.

Kata Abana A’baasa adalah ibadat orang dahulukala itu serakaat suatu salam atau dua rakaat suatu salam berdiri mereka itu lama daripada duduk dan sujud. Maka tatkala berdiri Zulaikha berbuat ibadat kepada Allaha Taa’laya itu dan A’ziz duduk di belakangnya menantikan ia duduk memberi salam maka di lihat A’ziz Mesir Zulaikha itu terlalu amat elok rupa bercahaya-cahaya gilang gemilang makin kena sinar dian dan tanglung itu makan bercahaya berkilat-kilat rupanya. Maka tiadalah dapat di tahani A’ziz hatinya daripada sangat berahinya lalu di tariknya oleh A’ziz baju Zulaikha dari belakangnya maka lalu terduduklah Zulaikha serta katanya “Marilah kita kembali ke rumah kita. Di sana pun boleh jua berbuat ibadat akan tuhan kita”.

Maka kata Jibril A’layaha Al Salama kepada Yusuf “Inilah balasnya Zulaikha menarik bajumu dari belakang pada masa dahulukala itu. Sekarang tariklah olehmu akan dia pula” maka A’ziz suka mendengar kata Jibril itu lalu di tarik A’ziz tangan puteri Zulaikha di bawanya naik ke atas usungan maka di usunglah orang keduanya kembali ke mahligai A’ziz Mesir. Hataya maka sukacitalah hati keduanya hingga di kata puteri Zulaikha “Demi Allaha tuhan yang menjadikan agamaku di dalam agama yang sebenarnya tiada seorang juapun menyentuh tubuhku lain daripada Qothofayara tiada di perolehnya seperti adat orang laki isteri”. Maka kata A’ziz “Adalah engkau hendak memasukkan aku ke dalam neraka maka di palingkan oleh tuhanku akan daku daripada api neraka kepada syurga” maka sahut puteri Zulaikha “Demi sebenarnya engkau ini nabi. Jangan apalah kau cercakan daku daripada pekerjaan yang dahulu itu. Bahawasanya adalah rupamu itu menghilangkan akal segala manusia siapa dapat sabarkan hatinya daripada demikian itu”.

Maka A’ziz pun suka tertawa mendengar kata puteri Zulaikha maka memuji Allaha Sabahaanaha Wa Taa’laya dengan katanya Fa Al Hamada Lalaha Alazaya Shorafa A’naka Al Faahashata Wa Jamaa’ Bayanaya Wa Bayanaka Wa Jaa’laka Nabayaa Matabaa’ Al Dayana Abaaka Al Marasalayana A’laya Hama Al Sholaata Wa Salaama ertinya kupuji bagi Allaha tuhan yang memeliharakan antara aku dan antaramu daripada berbuat derhaka kepadanya dan telah di jadikan Allaha Taa’laya kepada aku di dalam agama bapamu yang mursalin atas mereka itu rahmat dan sejahtera di dalam dunia dan akhirat.

Kata yang empunya cerita kemudian daripada itu maka di anugerahkan Allaha Taa’laya akan A’ziz Mesir sepuluh anak lima kali beranak kemudian maka di perolehnya seorang laki-laki. Kata A’bada Allaha abana A’baasa radhoya Allaha a’nahamaa tiga orang jua anak Yusuf A’layaha Al Salama seorang laki-laki dua perempuan itulah yang mashohihnya. Kata Kaa’ba Al Ahabaara kemudian itu datanglah manusia ke negeri Mesir berpasuk-pasukan kerana membeli makanan kepada A’ziz Mesir dan di lihat rupa A’ziz Mesir terlalu amat elok rupanya daripada manusia dan ajaiblah mereka itu akan peri keelokkan A’ziz itu dan kata mereka itu “Adalah perangai A’ziz ini tiada seperti adat perangai segala raja-raja yang dahulukala. Hanya sanya perangai ini seperti segala anbia Allaha dan sholihin atau seperti perangai segala malaikat yang amat mulia”. Bermula adapun sebab di kata mereka itu adalah A’ziz itu qonaa’ta tiada pernah ia makan kenyang dan sentiasa hari ini ia puasa.

Kata yang empunya cerita pada suatu hari makan A’ziz bersama dengan Maalaka Rayaana maka di lihat oleh Maalaka Rayaana makan Yusuf A’layaha Al Salama tujuh suatu jua dengan suap tiga biji jari maka kata Maalaka Rayaana “Tiadalah engkau makan seperti makan yang amat kenyang” maka sahut A’ziz A’layaha Al Salama “Makanlah raja padahal segala hamba Allaha ini kelaparan tida segianya kita makan kenyang melainkan kerana memberi kuat anggota jua”. Demikianlah kata Yusuf memberi nasihat akan Maalaka Rayaana itu. Apabila berjalan A’ziz di dalam pasar Mesir pada masa kelaparan mahal segala makanan itu barang siapa memandang muka nescaya tiadalah berkehendak mereka itu akan makanan pada hari itu dan jika di lihat orang akan dia pada ketika petang hari maka tiadalah berkehendak akan makan pada malam itu. Demikianlah kelebihan mukjizat Yusuf A’layaha Al Salama dan lagi beberapa mukjizatnya Yusuf lain daripada itupun maka Maalaka Rayaana pun terlalu amat kasihnya akan A’ziz Mesir hingga di kenakan mahkota kerajaan di atas kepala Yusuf A’layaha Al Salama.

Sumber: Kitab Qoshosho Al Anabayaa


No comments:

Post a Comment