Basama Allaha Al Rohamana Al Rohayama
Bacalah dengan nama tuhan kamu yang menjadikan. Menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhan kamu yang keramat. Yang mengajarkan dengan kalam. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Al A'laqo

Qola Ana Solataya Wa Nasakaya Wa Mahayaya Wa Mamataya Lalaha Roba Al A'lamayana (162) Laa Sharoyaka Laha Wa Bazalaka Amarota Wa Anaa Awala Al Masalamayana (163) Al Anaa'ma

Sunday, November 3, 2013

Rasul Allaha Membuka Pintu Kota Musuh

Basama Allaha Al Rahamana Al Rahayama

Al kisah fasal kaum Asalama melingkar masuk ke dalam kota raja Barasa Ghowala. Sebermula tersebutlah pula kisah kaum kafir celaka itu lepas daripada mereka itu masuk ke dalam kota berniat hati mereka itu hendak melawan kaum Asalama dari dalam kota. Maka mereka itu bersiap pula ada yang berdiri jaga di atas kota, ada yang berdiri di dalam kota. Setelah itu demi di lihat oleh kaum Asalama akan hal kaum kafir itu menanti hendak melawan maka kaum Asalama pun masing-masing naik ke atas kudanya di pacu hampir dekat dengan tepi kota itu.

Maka kaum kafir celaka itupun di hujani di atas kaum Asalama itu dengan panahnya dan batu ali-ali dan tombak lembing tiadalah terkira-kira banyaknya panah itu dan batu ali-ali di gugurkan ke atas kaum Asalama itu. Di dalam hal perkelahian itu seratus daripada hulubalang Asalama sudah syahid di tepi kota itu dengan tiada terbalaskan akan perbuatan kafir celaka itu dan yang lain daripada kaum Asalama itu melihat akan kaumnya sudah mati maka sekeliannya pun balik pergi mengadap rasul Allaha di sembahkan segala hal ehwal yang telah jadi itu.

Serta rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama mendengar akan hal itu sangatlah susah hati baginda itu seraya bersabda “Ya tuan-tuan sekelian, siapa daripada kita ini yang gagah perkasa yang boleh perapat pergi dekat dengan pintu kota itu melawan berperang dengan kaum kafir itu”. Maka sembah A’amara “Ya rasul Allaha, beri apalah izin kepada hamba supaya hamba seorang pergi siasat hal kedudukan kota itu” maka rasul Allaha pun menyuruh A’amara radhoya Allaha a’naha. Maka A’amara pun di pakai baju zirah besi di pakai senjatanya naik ke atas kudanya maka ia pergi serta hampir dekat dengan kota itu.

Maka kaum kafir celaka itu yang duduk di atas kota di hujani dengan anak panah dan batu ali-ali ke atas A’amara radhoya Allaha a’naha maka A’amara radhoya Allaha a’naha pun menangkis-nangkis dengan perisainya sambil di tangkis sambil ia merapat dengan tepi kota itu. Di lihat akan parit kota itu lebarnya tiga puluh hasta dan dalamnya tiada dapat di kirakan maka ia menyebut nama Allaha Taa’laya lalu ia kertakkan kudanya menyuruh melompat parit itu. Maka bertempiklah kudanya itu lalu di lompatnya maka terlepas ia dengan kudanya ke seberang parit itu pergilah hampir pintu kota itu. Di gerak-gerakkan akan pintu itu tiadalah tergerak kerana sangat kuat perbuatannya itu lalu ia menyeberang balik datang mendapat rasul Allaha di sembahkan kepada rasul Allaha.

Demi di dengar oleh Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha akan perkataan A’amara radhoya Allaha a’naha maka iapun pinta izin kepada rasul Allaha lalu ia pergi. Demikian juga tiada boleh di gerakkan pintu kota itu maka ia balik pula mengadap rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama. Kemudian pergi pula A’mara bana Maa’da Karaba demikian juga tiada dapat di pecahkan pintu kota kemudian balik ia mengadap rasul Allaha. Maka rasul Allaha tunduk melihat-lihat akan bumi lepas seketika di angkat kepalanya yang maha mulia itu seraya di pandang kepada Salayamaana Faarasa katanya “Ya Salayamaana, bawa olehmu pakaianku dan senjataku bahawa aku pakai akan dia”.

Demi di dengar oleh segala sahabat-sahabat akan hal Sayadana rasul Allaha itu masing-masing berbisik-bisik sama sendiri berkata-kata “Wahai mengapa junjungan kita pinta pakaiannya dan senjatanya itu. Apa hendak di kerjakan ke negeri mana baginda itu hendak pergi melingkar itu tiadalah kita ketahui”. Di dalam tuan-tuan itu duduk bermesyuarat maka ujar Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha katanya “Ya rasul Allaha, beri apalah tahu kepada hamba kemana tuan hamba hendak pergi melingkar itu”. Maka sabda rasul Allaha “Ya A’laya, hamba hendak pergi pecahkan pintu kota itu. Marilah engkau bersama-sama aku”.

Setelah itu maka Salayamaana Faarasa pun bawa pakaian dan senjata di beri kepada rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama di pakai oleh rasul Allaha. Setelah sudah di pakai maka di naik kudanya di iringi oleh Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha dan Sayadana Khoalada bana Waalada dan A’ramaya bana Dayaana dan A’mara bana Maa’da Karaba. Serta rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama sampai dekat dengan parit itu kaum kafir itu di tarikkan titi yang di rentangkan itu maka rasul Allaha dengan empat sahabat pun tiadalah boleh menyeberang parit. Maka kaum kafir itupun di lepaskan anak panahnya ke atas rasul Allaha dan keatas keempat sahabat itu dengan kuasa Allaha Taa’laya tiada suatu anak panah itupun dekat pada tubuh yang maha mulia itu dan tubuh keempat sahabat itu.

Di dalam hal yang demikian maka ikan di dalam parit kota itupun habis timbul serta bermain-main di hadapan rasul Allaha itu sangatlah ramai ikan-ikan itu melompat di dalam air itu seperti bunyinya seumpama orang membaca selawat di atas nabi Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama. Maka kaum kafir yang di atas kota itu berhentilah daripada memanah itu duduk melihat akan ikan-ikan itu duduk bermain-main di dalam air itu. Maka rasul Allaha pun di hamparkan kainnya yang di selimut itu di atas air dengan kuasa Allaha Taa’laya kain itu menjadi seperti sebuah perahu maka cukup dengan alatnya.

Itupun di lihat oleh kaum kafir itu bertambah-tambah hairan takjub melihat akan mukjizat rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama dan keempat sahabat itupun naiklah ke dalam perahu itu. Segala ikan-ikan itupun mengiring di kanan kiri rasul Allaha pada perahu itu hingga sampai ke seberang sana parit itu maka rasul Allaha dan keempat sahabat pun naiklah ke darat berjalan pergi menuju ke pintu kota itu. Demi di lihat oleh segala kafir akan mukjizat rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama maka masing-masing berkata-kata sama sendirinya “Bahawa sungguhnya Mahamada itu orang habatan. Dengan habatannya itu dapat ia menyeberang parit ini dan segala ikan-ikan di dalam air pun habis mendengar katanya”. Maka masing-masing pun bersiap hendak lari daripada atas kota itu.

Di dalam hal yang demikian itu maka rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama pun menyebut nama Allaha Taa’laya di pegang akan pintu kota itu seraya bersabda “Hai pintu, buka olehmu dengan hukum Allaha” maka pintu itupun terbukalah maka rasul Allaha dengan keempat sahabat pun masuklah ke dalam kota itu. Serta kaum kafir itu melihat akan rasul Allaha sudah masuk ke dalam kota lalu mereka itu larilah pergi maklumkan kepada raja Barasa Ghowala. Maka Barasa Ghowala pun terkejut maka ia pun menyuruh segala pahlawan dan hulubalangnya pergi menempuh dan mengadangkan keempat pahlawan Asalama itu.

Maka dengan tiada lengah lagi maka masing-masing pun berlari-larilah datang seperti ombak mengalun mengadangkan Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha. Maka Sayadana A’laya pun di hunus Zawa Al Faqoranya di sebut nama Allaha Taa’laya lalu menempuh masuk ke dalam kaum kafir yang berkuda itu di bunuhnya akan kaum kafir itu tiadalah menaruh belas kasihan lagi mati mereka itu bertimbun-timbun. Maka Sayadana Khoalada bana Waalada radhoya Allaha a’naha pun demikian juga di tempuh masuk ke dalam kaum kafir itu di bunuh akan mereka itu. Maka A’mara bana Maa’da Karaba pun di tempuh masuk ke dalam kaum kafir itu di palukan dengan cokmarnya akan kaum kafir itu tiadalah terhisab lagi banyaknya mampus mereka itu. Maka A’ramaya bana Dayaana pun di hunus pedangnya di sebut nama Allaha Taa’laya di serbu masuk ke dalam kaum kafir itu di tetak akan mereka itu dengan dua belah tangannya tiadalah dapat di katakan lagi di amuk oleh A’ramaya bana Dayaana itu.

Demi di lihat oleh raja Barasa Ghowala akan sangat keras amuk A’ramaya bana Dayaana di suruh hulubalangnya dan laskarnya berbanyak-banyak tempuh masuk ke hadapan A’ramaya bana Dayaana itu. Di tampil oleh kaum kafir ke hadapan A’ramaya bana Dayaana itu beberapa banyak di bunuh oleh A’ramaya bana Dayaana akan kaum kafir itu tiada juga mereka itu mahu undur kerana takut akan rajanya. Di dalam hal itu maka A’ramaya bana Dayaana pun terkena tangkap di tangkap oleh kaum kafir akan dia di bawa berjalan pergi menuju ke tempat raja Barasa Ghowala berdiri.

Demi di lihat oleh Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha berseru-seru katanya kepada A’mara bana Maa’da Karaba “Hai A’mara, segeralah kamu pergi mengikut akan A’ramaya bana Dayaana itu”. Maka A’mara bana Maa’da Karaba pun berlari-lari pergi ke tepi parit kota itu berseru-seru katanya kepada a’badawanya “Bawa olehmu akan kuda aku yang bernama Qoshaa itu segeralah mari ke seberang sini” lalu a’badawanya pun di naik ke atas kuda itu di kertakkan pergi dekat dengan tepi parit itu di suruh kudanya itu melompat maka kuda itupun melompat ke seberang parit itu.

Setelah sudah di lompatnya maka A’mara bana Maa’da Karaba pun naik ke atas kuda itu di suruh kudanya itu di kertakkan maka kuda itupun larilah seperti angin pergi masuk ke dalam kaum kafir yang membawa A’ramaya bana Dayaana itu. Maka terkejutlah kaum kafir itu masing-masing menghilangkan dirinya kerana takut akan cokmar A’mara bana Maa’da Karaba itu maka A’mara bana Maa’da Karaba pun di angkat cokmarnya di palukan kepada kaum kafir itu dengan sekali palu tujuh puluh kaum kafir itu mati. Kemudian di palu pula berturut-turut ada yang kena ada yang tiada kena kepada kaum kafir itu kerana kaum kafir itu berlari-lari ke sana ke mari di turut oleh A’mara bana Maa’da Karaba hingga sampai kepada tempat A’ramaya bana Dayaana itu.

Serta sampai dekat hendak di palunya kepada kaum kafir yang duduk berkeliling A’ramaya bana Dayaana itu maka mereka itupun lari pecah belah di tinggalkan A’ramaya bana Dayaana dengan ikatnya. Maka A’mara bana Maa’da Karaba pun di uraikan ikatan tangan kaki A’ramaya bana Dayaana di bawa berjalan balik sampai ke tengah jalan. Di lihat oleh A’mara bana Maa’da Karaba dan A’ramaya bana Dayaana akan hal raja Barasa Ghowala serta dengan hulubalangnya ada mengeliling akan rasul Allaha di lihatnya rasul Allaha ada berdiri sama tengah bangkai kafir celaka itu seperti pagar berkeliling rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama segala senjata kafir itu mengenai di atas bangkai-bangkai itu.

Maka A’mara bana Maa’da Karaba dan A’ramaya bana Dayaana pun menyebut nama Allaha di serbu masuk ke dalam kaum kafir itu di palunya dengan cokmarnya dan A’ramaya bana Dayaana pun membunuh akan kafir-kafir celaka itu dengan dua belah tangannya. Di dalam seketika bertambun-tambun pula mati kaum kafir itu dengan sebab dhorab amuk keduanya itu. Maka pecahlah segala kaum kafir itu di usir akan kaum kafir hingga sampai pada tempat Sayadana Khoalada bana Waalada radhoya Allaha a’naha berperang itu.

Di lihat pula Sayadana Khoalada bana Waalada itu beroleh banyak luka di tubuhnya kira-kira tiga puluh luka yang kecil-kecil maka di bantunya pula akan Sayadana Khoalada bana Waalada itu. Maka jadi berbunuh-bunuhanlah yang amat besar pula pada tempat itu. Demi di lihat oleh rasul Allaha akan hal kaum kafir itu tiada mahu undur maka rasul Allaha pun di ambil segenggam pasir dengan tangannya yang maha mulia itu di sebut nama Allaha Taa’laya di semburkan hala kaum kafir itu serta di semburkannya. Maka kaum kafir itupun merasai sakitlah tubuh badannya lalu menjerit-jerit seraya berkata “Apakah pula bala ini mengenai tubuh kita seperti di hiris dengan pisau” tiadalah dapat di tahani lagi maka masing-masing pun memecahkan dirinya lari cerai berai. Maka A’mara bana Maa’da Karaba dan A’ramaya bana Dayaana dan Sayadana Khoalada bana Waalada pun baliklah mendapat rasul Allaha.

Maka sabda rasul Allaha kepada A’mara bana Maa’da Karaba dan A’ramaya bana Dayaana “Pergilah tuan-tuan kedua melihat di mana ada A’laya itu” maka keduanya pun pergilah mencari Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha. Di lihatnya baginda itu ada di tengah kaum kafir itu duduk mengamuk demi di lihatnya akan hal Sayadana A’laya maka A’mara bana Maa’da Karaba dan A’ramaya bana Dayaana pun menyebut nama Allaha maka keduanya pun menyerbu masuk ke dalam kaum kafir itu. Kemudian Sayadana Khoalada bana Waalada radhoya Allaha a’naha pun datang pula membantu Sayadana A’laya maka jadi keempat pahlawan itu melawan bertetak pedangnya dengan kaum kafir itu. Barang ke mana di tempuhnya oleh Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha menjadi porak pariklah kaum kafir itu tiada selamat adanya.

Maka A’mara bana Maa’da Karaba pun di kertakkan kudanya serta di gerbangkan rambutnya di pegang akan cokmarnya berlari-lari ke sana ke mari mengusir-usir kaum kafir itu seperti harimau garang lakunya dan Sayadana Khoalada bana Waalada radhoya Allaha a’naha itu di hunus pedangnya yang bernama Sayafa Allaha itu menerbang ia seperti burung melayang-layang masuk ke dalam kaum kafir itu di cantas kepala kafir itu berguling-guling ke bumi seperti anak kati dan A’ramaya bana Dayaana itu di pacu kudanya pantas seperti angin masuk ke dalam kaum kafir itu di tetak dengan dua belah tangannya. Demikianlah hal keempat pahlawan itu membunuh kaum kafir itu tiadalah terhisab banyaknya bertambun-tambun seperti busut rupanya dari kerana sebab sangat amuk keempat pahlawan itu. Maka kaum kafir itupun habis pecah belah lari tiada berketahuan perginya.

Kemudian Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha dan A’mara bana Maa’da Karaba dan Sayadana Khoalada bana Khoalada radhoya Allaha a’naha dan A’ramaya bana Dayaana pun balik marilah mengadap rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama. Kata Rabayaa’ radhoya Allaha a’naha bahawa adalah kaum kafir yang mati di bunuh oleh pahlawan itu banyaknya lima ribu orang hulubalang raja Barasa Ghowala itu. Telah sudah selesai segala kaum kafir itu lari maka rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama duduklah pada suatu tempat bermesyuarat dengan keempat sahabat-sahabat itu.

Di dalam hal yang demikian maka kaum Asalama yang duduk di luar kota itu seorang dengan seorang berkata-kata “Wahai bahawa adalah junjungan kita itu lamalah sudah baginda itu masuk ke dalam kota. Apalah halnya pun tiadalah kita ketahui sangatlah susah hati kita ini kerana kita tiada boleh khabar daripada baginda itu”. Maka segala sahabat-sahabat pun duduklah dengan ke masygulan yang amat sangat. Di dalam hal yang demikian itu maka Iblis A’layaha Laa’nata pun merupakan dirinya seperti rupa Sayadana Khoalada bana Waalada berdiri ia di tepi parit kota itu dengan tangisnya berseru-seru katanya “Yaa Akhowaana Al Masalamayana, adapun junjungan kita rasul Allaha sudah kembali ke rahmat Allaha Taa’laya”  sambil ia berkata sambil ia menangis serta menghempas-hempaskan dirinya.

Serta kaum Asalama mendengar seru Iblis itu masing-masing pun menangislah dan meratap pelbagai-bagai jenis ratapnya mereka itu. Ada setengah berkata-kata “Wahai sekian lamanya itu tiada jadi barang suatu apa-apa ke atas junjungan kita itu maka pada hari ini telah sudah di lakukan kudrat Allaha Taa’laya ke atasnya. Telah putuslah hari kita ini dan siapalah kita hendak harap lagi nasib kitalah” dan kata setengah “Wahai dengan sebab berbuat dosakah maka telah jadi hal yang demikian itu ke atas kita ini. Jika demikian terlebih baik kita berangkat balik ke desa kita. Jika kita duduk pun tiadalah menjadi gunanya yang kita harap itu sudah lenyap dari dalam dunia ini”.

Di dalam hal itu maka rasul Allaha pun berkata kepada Sayadana A’laya “Marilah kita pergi melihat akan kaum Asalama yang duduk di luar kota itu. Apalah mereka itu”. Maka rasul Allaha serta dengan keempat sahabat itupun pergilah ke tepi parit kota itu di lihat akan kaum Asalama ada duduk dengan kemasygulan serta dengan tangisnya. Demi di lihat oleh Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha akan kaum Asalama itu duduk dengan kemasygulan berseru-seru Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha katanya “Yaa Akhowaana Al Masalamayana, apalah mulanya sebab tuan-tuan ini duduk menangis apa kesusahan tuan-tuan sekelian ini”. Maka sahut mereka itu katanya “Ya A’laya, bahawa adalah Sayadana Khoalada bana Waalada datang memberi tahu kepada hamba sekelian di katakannya junjungan kita itu sudah pulang ke rahmat Allaha Taa’laya sebab itulah maka kami sekelian menangis mengenangkan untung nasib kami”.

Maka rasul Allaha bertanya kepada Sayadana Khoalada bana Waalada radhoya Allaha a’naha “Sungguhkah tuan hamba berkata perkataan yang demikian itu maka kaum Asalama sudah menaruh kemasygulan” maka ujar Sayadana Khoalada bana Waalada katanya “Ya rasul Allaha, demi Allaha sekali-kali tiada hamba berkata perkataan yang demikian itu dan lagipun perkataan yang demikian itu sekali-kali nanti tiada di keluar daripada mulut hamba”. Maka sabda rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama “Ya A’laya, pada fikiranku sekali-kali Khoalada tiada berkata perkataan itu maka Iblis A’layaha Laa’nata itu juga merupakan seperti rupa Khoalada. Ia yang berkata perkataan itu tiadalah syak lagi”.


Setelah itu maka segala sahabat-sahabat pun barulah merasai suka hatinya serta mendengar suara rasul Allaha Sholaya Allaha A’layaha Wa Salama bersabda yang demikian itu. Maka rasul Allaha pun di suruh kepada Sayadana A’laya meletakkan titian dan segala kaum Asalama yang di seberang parit itu menitilah ke seberang sini maka di kerjakan oleh Sayadana A’laya radhoya Allaha a’naha. Maka segala kaum Asalama pun marilah masuk ke dalam kota mengadap rasul Allaha serta memuji-muji akan Allaha Taa’laya dan rasulnya setelah duduklah sekelian bersama-sama rasul Allaha di dalam kota itu adanya Wa Allaha Aa’lama.

Sumber : Hikayat A'mara Amayara Dhomaraya 
Di rumikan : Mahamada Bana A'bada Allaha 

No comments:

Post a Comment