Basama Allaha Al Rohamana Al Rohayama
Bacalah dengan nama tuhan kamu yang menjadikan. Menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhan kamu yang keramat. Yang mengajarkan dengan kalam. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Al A'laqo

Qola Ana Solataya Wa Nasakaya Wa Mahayaya Wa Mamataya Lalaha Roba Al A'lamayana (162) Laa Sharoyaka Laha Wa Bazalaka Amarota Wa Anaa Awala Al Masalamayana (163) Al Anaa'ma

Sunday, January 23, 2011

Asal Hulubalang Bentan

Sebermula perkataan Hang Tuah anak Hang Mahamawada di sungai Duyung dan segala orang yang duduk di sungai Duyung mendengar warta demikian itu apabila Hang Mahamawada mendengar khabar demikian itu maka kata Hang Mahamawada pada isterinya yang bernama Dang Merdu itu “Ayuh tuan baiklah kita pergi ke Bentan supaya mudah kita mencari makan lagi negeri besar baiklah kita pindah pergi tiga beranak”. Maka di sahutlah oleh Dang Merdu “Benarlah seperti kata tuan itu”. Maka pada malam itu Hang Mahamawada bermimpi bulan turun dari langit maka cahayanya penuh di atas kepala. Hang Mahamawada pun terkejut lalu bangun daripada tidur lalu di riba anaknya Hang Tuah maka diangkatnya di ciumnya seluruh tubuh anaknya itu. Setelah sudah haripun sianglah maka segala mimpinya itu semuanya di katakan pada anaknya dan isterinya. Setelah itu didengar ibu Hang Tuah kata suaminya itu maka segera di langir dan di mandikan anaknya itu. Maka di beri berkain dan berbaju serba putih maka diberinya makan nasi kunyit dan telur hitam dan memberi orang akan orang tua dan suruh baca doa selamat. Setelah sudah dipeluk dan cium anaknya itu maka kata Hang Mahamawada pada isterinya itu “Adapun anak kita ini peliharakan baik2 jangan di beri bermain2 ke jauh kerana ia sangat nakal hendak suruh mengaji maalim pun tiada lagi itupun tiada tahu bahasa sekarang. Baiklah kita pindah ke Bentan maka demikian marilah berlengkap dan bersampan”. Maka Hang Mahamawada pun berlengkaplah dengan sebuah lading setelah sudah maka Hang Mahamawada pun pindahlah ke Bentan. Maka iapun berbuat rumah hampir kampung Bendahara Paduka Raja. Maka Hang Mahamawada pun berkedai menjual makan makanan di kedainya itu.

Sebermula Hang Tuah pun besarlah serta ia ketahuilah hal ibu bapanya itu. Adapun akan hal anaknya Hang Tuah dan bapaknya Hang Mahamawada itu kerjaan sehari2 mengambil kayu api juga. Maka Hang Tuah pun memegang sebilah kapak akan pemelah kayu api duduk di hadapan kedai ibunya. Sediakala adapun apabila Hang Mahamawada datang menjual makan makanan maka iapun pergi mengadap Bendahara berhambakan dirinya. Jika ia hendak ke mana2 pun ia bermohon pada Bendahara maka ia pergi dengan dengan demikian maka Hang Tuah pun ketahuilah bahasa maka amarnya pun datanglah sepuluh tahun. Maka iapun bersahabat sama2 budak2 sama besar dengan dia itu maka seorang bernama Hang Jebat dan seorang bernama Hang Kasturi dan seorang bernama Hang Lakayara dan seorang bernama Hang Lakayawa. Tuah pun berkasih kasihan kelima bersahabat itu jika ia pergi barang ke mana pun tiadalah bercerai jika makan minum main pun bersama2 juga seperti orang bersaudara.

Setelah kata Hang Tuah “Hai saudaraku keempat kita ini lima bersaudara dapatlah melayarkan sebuah perahu lading supaya kita pergi merantau barang kemana mencari makan”. Maka kata Hang Jebat dan Hang Kasturi “Mengapatah maka tiada boleh kita kelima melayarkan sebuah perahu”. Maka sahut Hang Tuah “Baiklah jika demikian maka perahu bapak beta ada sebuah lading lengkap dengan layarnya datang kita turun dengan beras bekal sepuluh gantang pada seorang”. Maka sahut Hang Jebat dan Hang Kasturi “Marilah kita pulang berlengkap” maka masing2 pun kembali kerumahnya memberitahu ibu bapaknya. Maka kata ibu bapaknya “Baiklah mana bicaramu kelima bersaudara itu yang kehendak bapak pun demikianlah”. Maka segala ibu bapaknya pun demikianlah maka segala ibu bapaknya pun berlengkap beras bekal akan akan anaknya maka Hang Tuah pun di beri oleh bapaknya sebilah keris dan sebilah pedang dan Hang Jebat dan Hang Kasturi dan Hang Lakayara dan Hang Lakayawa pun demikian juga di beri oleh ibu bapanya.

Setelah sudah lengkap maka kelima bersahabat pun bermohonlah pada ibu bapaknya lalu naik ke perahu berlayar ke pulau Langgi. Antara berapa lamanya maka di lihat oleh Hang Tuah dari jauh ada kelihatan tiga buah perahu berlayar maka ketiganya itu menuju perahu Hang Tuah. Maka kata Hang Tuah “Hai handaiku keempat ingat2 kita perahu musuh rupanya yang kelihatan itu datang tiga buah”. Maka dilihat oleh keempatnya itu benarlah seperti kata Hang Tuah itu maka kata Hang Jebat “Nyatalah perahu musuh lakunya berapa bicara kita?. Maka di sahut oleh Hang Kasturi “Apatah kita yang kehendaki yang kita cari pun hendak bertemu dengan musuh juga” maka sahut Hang Lakayara dan Hang Lakayawa “Mengapa pula begitu, marilah kita tumbangkan sehingga mati sudahlah”. Maka kata Hang Tuah seraya tersenyum “Hai saudaraku, pada bicara hamba baik juga kita berperang di atas pulau kerana perahu kita kecil, tewas juga kita kerana ia tiga buah serta dengan besarnya dan senjatanya pun banyak dan orangnya pun banyak. Sukar juga kita melawankan dia”. Maka kata Hang Kasturi “Yang mana benar kepada saudara hamba segeralah kita kerjakan kerana perahu itu makin hampir”.

Maka oleh Hang Tuah di palingkan perahunya itu menuju pulau. Setelah dilihat oleh musuh itu ada sebuah perahu lading, lima orang budak2 belaka lari mengusir pulau itu. Maka segera di suruhnya dengan sampan di sangkanya orang lari. Setelah hampir maka di lihat budak2 lima orang sebaya kelimanya itu baik rupanya maka Hang Tuah pun sampai ke darat. Maka orang yang mengikut itupun terlalu suka katanya “Sekali ini dapatlah oleh kita budak2 ini akan tuannya kita”. Maka sampan ketiga buah itupun sampailah lalu naik ke pulau itu hendak menangkap budak2 kelima itu. Maka Hang Jebat dan Hang Kasturi dan Hang Lakayara dan Hang Lakayawa pun sudah hadirlah berdiri di tepi pantai itu menantikan musuh itu datang.

Maka orang tiga buah sampan itupun berdahulu2an naik itu datang berlari2 hendak menangkap. Maka Hang Tuah kelima bersaudara itupun sudah memegang tiga2 bilah seligi pada seorang apabila hampirlah musuh itu kehadapan Hang Tuah maka ditetak oleh Hang Tuah kena pehanya lau terduduk tiada dapat bangkit lagi. Maka ditikam oleh Hang Jebat kena seorang lagi lalu lari ke perahunya mengambil sumpitnya dan seligi. Maka di sumpitnya akan Hang Tuah dan Hang Jebat kelima itu seperti hujan yang lebat. Maka segala musuh itupun bersorak katanya “Bunuhlah budak celaka tiada kasih akan ibu bapaknya”. Maka kata seorang lagi “Jangan dibunuh” maka kata seorang lagi “Hai budak2 baiklah engkau menyembah menyerahkan dirimu supaya engkau tiada kubunuh”. Maka kata Hang Jebat sambil menangkis seligi dan anak panah yang seperti hujan datangnya itu katanya “Ceh mengapa aku menyembah engkau sekelian, engkaulah menyembah aku supaya aku ampun dosamu” serta ditikamnya oleh Hang Tuah dan Hang Jebat kelimanya maka kena pula lima orang musuh itu lalu merebah terduduk tiada dapat bangkit lagi.

Setelah dilihat oleh temannya yang dua puluh lagi itupun terlalu marah katanya “Bunuhlah budak celaka ini” serta ditikamnya dan disumpitnya bersungguh2 akan budak2 lima itu. Maka Hang Tuah pun mengunus kerisnya dan yang keempat itupun mengunus kerisnya menyerbukan dirinya pada musuh yang dua puluh itu serta di tikamnya oleh Hang Tuah dua orang mati. Maka di tikam oleh Hang Jebat dan Hang Kasturi, Hang Lakayara dan Hang Lakayawa empat orang mati. Maka masuk di tikam pula oleh Hang Lakayawa mati empat orang pula. Maka tinggal lagi sepuluh orang. Maka orang itupun larilah mengusir perahunya serta naik lalu dikayuhnya ke perahu besar yang tiga buah itu. Setelah sudah musuh itu lari maka Hang Tuah dan Hang Jebat kelimanya pun mengambil orang luka sepuluh itu dibawa ke perahunya. Maka sampan yang tinggal sebuah itupun dirompak, sudah itu maka Hang Tuah pun berlayar menuju Singapura. Maka musuh yang lari sepuluh orang itupun sampailah ke perahunya. Maka segala hal ehwal teman2 yang mati dan luka itu semuanya serta budak2 kelima itu sudah berlayar, maka sekelian diceritakan pada penghulunya. Demi di dengar oleh penghulunya kata2 mereka itu maka penghulu musuh itupun terlalu marah serta katanya “Bongkar sauh kita” maka dilihat akan budak kelima itu berlayar menuju Singapura maka penghulu musuh itupun berdiri di tiang agung katanya “Segeralah kita berlayar serta berdayung mengusir perahu Hang Tuah itu”.

Maka dengan takdir Allaha Ta A’laya maka Batin Singapura pun keluar tujuh buah manjungan dan dandang hendak ke Bentan. Maka dilihatnya oleh Hang Tuah dandang tujuh buah kelar dari Singapura itu maka ditujunya oleh Hang Tuah. Maka dilihat oleh orang yang di dalam dandang itu sebuah lading orangnya lima usir oleh perahu musuh tiga buah itu hampirkan di dapat maka kata Batin Singapura “Hai segala sakaiku segeralah dapatkan perahu lading itu kerana ia itu diusir oleh musuh kalau2 ia orang mana”. Maka sakai dandang tujuh buah itupun segera berdayung mendapatkan perahu lading itu maka musuh tiga buah itupun undur. Maka Hang Tuah pun datang mendapatkan dandang tujuh buah itu maka di lihat oleh Batin Singapura sebuah lading orangnya lima orang budak2 “Hendak kemana kamu dan dari mana datangmu ini dan dan apa namamu?”. Maka sahut Hang Tuah “Nama hamba Hang Tuah dan keempat ini saudara hamba, seorang namanya Hang Jebat seorang namanya Hang Kasturi dan seorang bernama Hang Lakayara dan seorang bernama Hang Lakayawa, duduk di Bentan maka kami sekelian ini berpenghulu pada Bendahara Paduka Raja dan pekerjaan kami lima bersaudara ini duduk merantau mencari makan. Maka hamba bertemu dengan musuh tiga buah” dan segala kelakuannya ia bertikam itu semuanya di katakannya pada orang dandang tujuh buah itu.

Setelah di dengar oleh Batin Singapura kata Hang Tuah itu sukacita hatinya serta katanya “Jika demikian handak kemana tuan hamba kelima ini?” maka kata Hang Tuah “Jika ada kasih penghulu akan hamba kelima bersaudara ini hamba hendak baliklah ke Bentan kerana musuh tiga buah perahu itu tiada kemana perginya kerana ia hendak mendengar khabar orang yang sahaya tangkap sepuluh orang itu”. Setelah di dengar oleh Batin kata Hang Tuah itu maka katanya “Jikalau demikian baiklah tuan hamba berlayar kelima bersaudara dan tawannya yang luka sepuluh orang itupun bawa naiklah ke atas perahu hamba berlayar bersama2, tiadalah apakan musuh tiga buah itu maka kata Hang Tuah “Benarlah seperti kata penghulu itu”.

Maka tawanan yang sepuluh orang itupun di naikkan oleh Hang Tuah maka segala sakai itupun bertanya “Hai segala tawanan musuh dari mana kamu datang dan siapa nama penghulu kamu dan berapa banyak kamu?”. Maka kata tawanan itu “Adapun kami sekelian ini musuh Bentan sepuluh buah perahu juga hendak merompak ke tanah Palembang, adapun akan sekarang segala kelengkapan tujuh belas itu sudah lalu di hadapan kerana Patih Gajah Mada menteri Majapahit menyuruh segala penghulu anak sungai yang takluk ke Majapahit itu disuruh merompak ke Palembang lalu di suruh naik ke darat Bukit Seguntang disuruh rampas oleh Gajah Mada itu kerana kami sekelian ini takluk ke Majapahit itu”. Setelah sudah segala sakai tawanan sepuluh itu berkata2 pada penghulunya maka kata penghulu itu “Jika demikan kata orang ini baiklah kita segera berlayar kerana khabar ini terlalu nyata dan seorang hamba kelima pun terlalu besar kebaktian ke bawah duli yang dipertuan”. Maka dandang yang tujuh buah itupun berlayarlah.

Maka Hang Tuah dan Hang Jebat pun membawa persembah akan penghulu itu lima ratus sumpitan maka pada tatkala berlayar itu dilihat dandang perahu musuh tiga buah itu maka kata Hang Tuah “Janganlah penghulu bersusah takdir dengan sebuah perahu hamba pun padalah dengan tolong Allaha serta dengan berkat penghulu dapat hamba kelima bersaudara ini mengalahkan perahu musuh ketiga buah itu” maka kata penghulu itu “Jangan dahulu kerana hamba hendak segera mengadap Bendahara Paduka Raja supaya kita persembahkan ke bawah duli yang dipertuan dahulu mana titah kita sekelian kerjakan kerana kebaktian saudara hamba kelima itupun terlalu besar.

Arakian maka berapa lamanya berlayar itu maka sampailah ke Bentan. Hang Tuah kelima bersaudarapun bermohonlah pada penghulu itu hendakl pulang ke rumahnya. Maka kata penghulu itu “Hai saudara2, hamba pun hendak singgah pada kampong saudara hamba”. Maka kata Hang Tuah “Adapun hamba ini kelima ini duduk pada kampong Bendahara Paduka Raja serta dengan ibu bapak hamba kelima ini”. Maka kata penghulu itu “Baiklah tetapi saudara hamba jangan lupakan hamba kerana kita sudah jadi saudara”. Maka kata Hang Tuah “Pada bicara hamba pun demikian juga tetapi hamba kelima ini demikian”. Setelah sudah maka ia bermohonlah pada penghulu itu maka Hang Tuah dan Hang Jebat dan Hang Kasturi, Hang Lakayara, Hang Lakayawa pun berlengkap pulanglah ke rumah ibu bapaknya serta membawa tawanan yang sepuluh orang itu. Setelah datang maka ibu bapaknya pun hairan melihat anaknya membawa tawanan itu.

Setelah pada keesokan harinya maka penghulu itupun naik mengadap Bendahara Paduka Raja dengan persembahan maka penghulu Singapura maka penghulu itupun bersembah kata2 orang sepuluh itu maka sabda Bendahara “Kita pun hendak menyuruh memberi surat kepada batin yang memegang sungai dan kita pun hendak suruh payar dan sulu kelakuan orang Bentan dan Jamaja kerana kita hendak mengutus ke Majapahit hendak menentukan anak sungai dua buah itu terlalu sangat orang merompak dan melangkar ke tanah Palembang kerana Palembang itu sudah takluk ke Bukit Seguntang kerana akan kerajaan di Bukit Seguntang itu tuan kita maka ada kita dengar titah Ratu Majapahit pada menteri yang bernama Patih Gajah Mada itu. Jika ada orang melanggar dan merompak ke sana kemari dan tanah Palembang sebab itulah maka kita hendak menyuruh sulu melihat Bentan dan Jamaja itu kepada penghulu batin”. Maka penghulu batin itupun tersenyum lalu berkata “Ya tuanku sahaja hairan hamba bukan kerjanya di kerjakan oleh budak2 itu. Maka sabda Bendahara “Apa khabarnya itu?”. Maka sembah oleh penghulu itu demikian maka Bendahara pun bertanya “Ada diri kenalkah budak2 itu dan tahukah diri akan kediaman ibu bapaknya itu?”. Maka sembah penghulu itu “Sehari kenal budak2 itu kesamaran ia duduk di rumah ibu bapaknya itu sehari tahu di dalam lima orang itu, seorang bernama Hang Tuah, sahaya lihat bukan barang lakunya dan segaknya dan perkataannya hulubalang juga. Barang keluar daripada mulutnya dengan manis ia berkata2 dan seorang bernama Hang Jebat itupun terlalu sikap tubuhnya putih dan rambutnya ikal dan segala perkataannya keras dan seorang bernama Hang Kasturi dan seorang Hang Lakayara dan seorang bernama Hang Lakayawa itu pun baik sikapnya dan rupanya. Maka akan kelimanya besarnya sebaya belaka”. Maka kata Bendahara “Jika demikian baiklah esok hari apabila hamba hendak masuk mengadap maka ketika itulah penghulu tunjuk tempatnya dan tempat ibu bapaknya berkedai itu”. Maka sembah penghulu itu “Baiklah tuanku” maka penghulu itupun diperjamu oleh Bendahara makan minum dan diberinya persalinan dengan selengkapnya maka penghulu itupun bermohonlah kembali ke perahunya.

Maka tatkala itu Hang Tuah kelima bersahabat pun ada ia bermain2 di kedai maka dilihat oleh Hang Tuah akan penghulu itu maka iapun memberi hormat. Maka apabila ia melihat Hang Tuah lima bersahabat itu berdiri di muka pintunya maka iapun berhenti serta memegang tangan Hang Tuah dan Hang Jebat katanya “Di sinikah rumah dan kedua saudara aku kelima ini?”. Maka di sahut Hang Tuah “Di sinilah kampong sahaya”. Maka penghulu itupun duduklah seketika pada kedai itu makan sirih maka Hang Mahamawada pun keluarlah duduk pada kedai. Maka kata Hang Mahamawada “Apa gerangan datuk penghulu kasihlah akan anak sahaya, tiadalah terbalas oleh sahaya melainkan Allaha Sabahana Wa Ta A’laya juga yang membalaskan dia. Maka kata penghulu itu “ Hai bapak hamba jangan bapa hamba berkata demikian. Adapun Hang Tuah kelima bersaudara itu jadi saudaralah pada kita”. Maka iapun bermohon kembali ke perahu.

Hataya maka bapa Hang Tuah dan Hang Jebat kelima bersaudarapun mengantar sirih pinang akan penghulu itu maka Hang Tuah pun berkata pada Hang Kasturi dan kepada segala sahabatnya “Hai saudaraku keempat marilah kita pergi berguru. Ada seorang di bukit ini duduk bertapa Adi Putera namanya, adapun kita ini pada firasat orang tua akan menjadi hulubalang juga di tanah Malayu ini”. Maka kata Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lakayara, Hang Lakayawa “Baiklah”. Maka kelimanya pun berlengkap akan berjalan serta bermohon kepada ibu bapaknya. Maka berjalanlah antara berapa lamanya maka Hang Tuah pun sampailah pada tempat Adi Putera. Maka pada tatkala itu Adi Putera pun sudah turun daripada pertapaannya maka Hang Tuah kelima bersahabat pun datang lalu duduk menyembah. Maka ditegur oleh Adi Putera “Marilah cucuku duduk maka apa pekerjaan cucuku datang ini?”. Maka kata Hang Tuah “Sahaya hamba datang ini minta di perhamba” maka Adi Putera pun tahu kehendak Hang Tuah itu “Adapun aku ini tiga bersaudara, yang tengah menjadi pegawai Raden Amarsina Majapahit dan yang tuha duduk bertapa di Gunung Aratpura, namanya Sang Pertala. Adapun cucuku apakala sampai umur dua puluh tiga tahun, engaku pergi ke Majapahit jangan tiada engkau berguru padanya kerana saudaraku banyak ilmunya daripada aku kerana ia duduk bertapa dari kecil tiadalah ia merasai dunia. Telah sudah Adi Putera berkata2 maka katanya “Marilah cucuku kita kembali ke tempatku” maka Hang Tuah pun bangkit sujud pada kaki Sang Adi Putera serta berjalan ke rumahnya diiringkan oleh Hang Tuah dan Hang Jebat dan Hang Kasturi.

Setelah sampailah ke rumahnya kerumahnya, maka oleh Hang Tuah beramal dan dibaca yang di nyawanya maka sekelian itupun dipersembahkan pada Adi Putera maka haripun malamlah. Maka dilihat oleh Hang Tuah kelimanya datang suatu hidangan terletak di hadapan Sang Adi Putera itu maka kata Adi Putera itu “Hai cucuku kelima ini makanlah barang yang ada hadir kerana aku orang miskin”. Maka Hang Tuah pun menyembah seraya dibuka hidangannya itu maka dilihat di dalam hidangan itu lengkap pelbagai nikmat setelah sudah maka Sang Adi Putera “Apa kehendak cucuku kelima telah ku ketahuilah adapun cucuku kelima ini akan diperhamba raja dan jadi pegawai besar di tanah Malayu, tetapi banyak orang besar2 sakit hati serta dengki akan cucuku” maka di tunjukkan pada Hang Tuah katanya “Tiada di mengapa kerana cucuku orang benar maka pada ketika akan digelar oleh raja akan cucuku”. Maka Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lakayara, Hang Lakayawa pun di ajarnyalah berbagai2 oleh Adi Putera berbagai2 ilmu isyarat hulubalang dan firasat dan ilmu pencurat tetapi lebih juga di ajarnya akan Hang Tuah barang ilmu dan isyarat. Setelah sudah maka Adi Putera pun berpesan pada Hang Tuah “Hai cucuku jika engkau pergi ke Majapahit jangan tiada engkau berguru juga kabar pada saudaraku yang bernama Sang Pertala terlalu banyak tahunya daripada aku. Maka ia menjadi ajar2 maka tiada ia merasai dunia. Bermula aku pun berlajar padanya sedikit banyak”. Maka sembah Hang Tuah “Baiklah tuanku, maka hamba kelima ini junjung kurnia tuanku sudahlah menjadi hamba di bawah kadam tuanku”. Maka Hang Tuah pun duduklah kelima bersahabat berhambakan dirinya di bukit itu pada Adi Putera.

Sebermula maka penghulu Singapura pun setelah keesokan harinya maka iapun naik mengadap Bendahara setelah sampai pada kedai ibu Hang Tuah itu maka dilihat tiada Hang Tuah maka kata penghulu itu pada Hang Mahamawada “Dimana saudara hamba itu tiada kelihatan” maka kata Hang Mahamawada “Diperhamba itu pergi ke bukit ada pekerjaan sedikit”. Setelah di dengar oleh kata Hang Mahamawada itu maka iapun bermohon lalu berjalan masuk ke kampong Bendahara. “Marilah penghulu kita masuk mengadap duli baginda, kita duduk menanti dari tadi”. Maka sembah penghulu “Baiklah tuanku, sahayapun adalah sedikit lambat kerana lagi berkata2 dengan bapak hamba itu Hang Tuah”. Maka kata Bendahara “Apa kahabar, adakah penghulu tahu akan ibu bapaknya dan tempat kediamannya itu?”. Maka sembah penghulu ‘Itu sahaya tahu tuanku akan kedai ibu bapanya itu tetapi sekarang ini diperhamba Hang Tuah itu kata bapaknya lagi ada pekerjaan sedikit”. Setelah Bendahara mendengar kata penghulu itu maka Bendahara pun tahulah akan Hang Tuah itu anak Hang Mahamawada. Setelah sudah Bendahara bertanya itu maka Bendahara itupun bangkit serta katanya “Marilah kita masuk pergi mengadap duli yang dipertuan” lalu berjalan diringkan oleh segala pegawai dan petuanan setelah sampai kepada tempat Dang Merdu maka kata penghulu itu “Inilah tuanku kedai Hang Tuah dan inilah ibu bapaknya yang turun dari kedai menyambut tuanku itu” maka Bendahara pun tersenyum.

Setelah sampai ke balairong maka baginda pun sudah keluar diadap orang di pengadapan. Setelah baginda melihat Bendahara datang maka titah “Marilah Mama Bendahara, adakah beroleh khabar yang kita kehendaki itu?”. Maka sembah Bendahara “Daulat tuanku, yang titah duli Shah Alam itu patik sudah pungut belum lagi genap empat puluh. Jika sudah genap empat puluh, patik persembahkan segala2 “. Maka titah baginda “Benarlah seperti kata Mama Bendahara itu”. Setelah demikian maka penghulu Singapura pun di persalin oleh baginda dengan sungguhnya mala Bendahara pun berdatang sembah “Ya tuanku Shah Alam, patik mohonkan ampun dan kurnia akan sekarang patik dengar khabar kelengkapan jamaja tujuh belas buah perahu keluar hendk merompak ke Palembang lalu hendak naik mengamuk ke Bukit Seguntang akan sekarang bertemu dengan orang kita lalu berperang di pulau. Maka penghulu Singapura pun datang dari Singapura tujuh buah dandang maka musuh itupun lari melawani. Akan sekarang ini mana titah patik junjung dan patik2 sekelian kerjakan”. Telah baginda mendengar sembah Bendahara demikian maka baginda pun memandang pada penghulu Singapura itu seraya bertitah pada Bendahara dan Temenggung “Jika demikian segeralah lengkapi segala pegawai yang muda suruh ke Palembang melihat perahu musuh barang dua puluh buah”. Maka sembah Temenggung dan Bendahara “Daulat tuanku, mana titah patik junjung” maka Bendahara dan Temenggung pun menyembah lalu keluar diiringkan oleh segala pegawai dan petuanan.

Setelah sampai maka Bendahara pun duduk di balai seraya menyuruh memanggil Hang Mahamawada. Maka Hang Mahamawada pun datang maka kata Bendahara “Hai kekasihku Mahamawada, kemana Hang Tuah pergi?” maka sembah Hang Mahamawada seraya katanya “Yang diperhamba itu pergi ambil kayu api akan esok hari atau lusa ia datang”. Maka sabda Bendahara “Jika ia datang jangan tiada dibawa kemari kita hendak dengar khabar”. Maka sembah Hang Mahamawada “Baiklah tuanku kemanatah sahaya bertaruhkan diri hamba jika tiada dibawah khadam datuk”. Setelah sudah maka Bendahara pun member persalinan akan Hang Mahamawada dengan selengkapnya maka Hang Mahamawada pun menyembah lalu kembali ke rumahnya duduk duduk menantikan anaknya datang. Maka kata bininya “Apa pekerjaan mike dipanggil oleh datuk Bendahara tadi”. Maka dikatakan oleh Hang Mahamawada segala hal ehwalnya dipanggil oleh datuk Bendahara itu semuanya dikatakan kepada isterinya. Setelah Dang Merdu mendengar kata suaminya itu maka kata Dang Merdu “Bicara hamba ini datanglah seperti mimpi tuan hamba itu. Arakian sudahlah datang kepada masanya menjadi hamba raja itu. Dimanakan dapat kita salahkan lagi”. Maka kata Hang Mahamawada “Benarlah seperti kata tuan hamba itu”. Maka Hang Mahamawada laki isteri pun terlalu sukacita hatinya di nantikan anaknya datang juga.

Adapun akan Hang Tuah pergi berguru di Bukit Tanjalapas kepada Adi Putera itu maka kata Adi Putera “Hai cucuku Hang Tuah, baiklah cucuku kembali. Jikalau lambat kembali adalah kesukaran ibu bapakmu. Jika engkau segera kembali nescaya cucuku kelima beroleh kebesaran dan kemuliaan”. Demi di dengar oleh Hang Tuah dan Hang Jebat Hang Kasturi Hang Lakayara Hang Lakayawa sekeliannya meniarap sujud di kaki Sang Adi Putera maka oleh Sang Adi Putera dipeluk dicium akan Hang Tuah kelima bersahabat itu. Maka Hang Tuah kelima bersahabat pun bermohonlah kembali dengan sukacitanya. Maka beberapa lamanya berjalan itu maka sampailah ke rumah ibu bapaknya. Setelah Hang Mahamawada melihat anaknya datang dengan segala sahabatnya itu maka iapun terlalu sukacita maka dikhabarkan oleh bapaknya segala peri dipanggil oleh datuk Bendahara itu semuanya dikatakan pada anaknya. Maka Hang Tuah pun tersenyum mendengar kata bapaknya itu.

Maka setelah pada keesokan hari, Hang Tuah pun membelah kayu api dengan sebilah kapak maka dengan takdir Allaha Ta A’laya, orang mengamuk di tengah pasar terlalu banyak orang mati dan luka. Maka segala orang yang berkedai itupun di tinggalkan kedainya lari masuk ke dalam kampong. Maka gemparlah negeri Bentan itu terlalu haru hara. Maka kata orang yang lari “Hai Hang Tuah hendak matikah engkau maka engkau tiada lari masuk kampong”. Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu katanya “Apatah di katakan orang mengamuk sekian ini, bukan negeri tiada berhulubalang dan penggawa akan mengambari, di sana juga ia mati dibunuh orang”. Dalam berkata2 itu maka dilihat oleh ibu Hang Tuah, orang mengamuk itupun datanglah berlari2 dengan terhunus kerisnya menuju Hang Tuah. Maka iapun berteriak di atas kedai katanya “Hai anakku segaralah naik keatas kedai dahulu” maka apabila Hang Tuah mendengar kata ibunya, maka Hang Tuah pun berbangkit berdiri serta memegang hulu kapaknya menantikan amuk orang itu. Maka orang mengamuk itupun datanglah kehadapan Hang Tuah serta ditikamnya dada Hang Tuah di pertubi2nya. Maka Hang Tuah pun melompat menyalahkan tikam orang itu maka di parangnya oleh Hang Tuah kepala orang itu dengan kapaknya kena belah dua lalu mati. Maka segala orang banyak itu kesemuanya hairan melihat laku Hang Tuah membunuh orang mengamuk itu dengan kapak. Maka kata orang banyak itu “Kita lihatpun hairan, budak baharu sepuluh tahun amarnya dapat mengambari orang mengamuk itu dengan kapak juga”. Maka kata seorang pula “Sungguhnya budak inilah akan menjadi hulubalang yang besar pada tanah Malayu ini”.

Sebermula maka terdengarlah kepada Hang Jebat dan Hang Kasturi Hang Lakayara dan Hang Lakayawa, Hang Tuah mengambari akan orang mengamuk maka iapun segeralah berlari2 datang mendapatkan Hang Tuah. Maka setelah sampai maka ia bertemu dengan Hang Tuah maka kata Hang Jebat Hang Kasturi “Sungguhlah sahabatku mengambari orang mengamuk dengan kapak”. Maka Hang Tuah pun tersenyum seraya katanya “Sungguh adinda tetapi bukan orang yang mengamuk itu padan mengambari dengan keris, patutlah dengan kapak atau dengan kayu”. Setelah berkata2 maka Hang Tuah pun membawa sahabat keempat itu kerumahnya maka di perjamunya makan minum dengan sepertinya. Maka kata Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lakayara, Hang Lakayawa “Lain2 kalinya jangan sahabatku permudahkan lawan itu”.

Maka di dalam berkata2 itu berbunyi pulalah orang gempar di tengah pasar. Terlalulah orang haru hara mengatakan orang mengamuk di dalam kampong Bendahara Paduka Raja, maka Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lakayara dan Hang Lakayawa maka kelihatannya pun segera berlari2 keluar berdiri di muka pintunya melihat orang pasar berlarian2 ke sana kemari. Ada yang membelah pagar masuk ke kampong, ada yang sembunyi di bawah kedai, ada yang lari naik kedai, ada yang naik pagar tiada sempat lalu jatuh. Tatkala itu Bendahara pun hendak masuk mengadap diiringkan oleh segala pegawai dan petuanan. Maka Bendahara Paduka Raja pun sampailah pada antara kedai Hang Tuah itu.

Hataya maka orang yang mengamuk keempat orang itupun datanglah dengan keris bertelanjang berlari2 barang yang terlentang ditikamnya. Apabila dilihat oleh orang yang mengamuk itu Bendahara Paduka Raja berjalan ditengah pasar itu maka keempatnya pun berlari2 datang menuju Bendahara. Maka segala pegawai dan petuanan yang di belakang Bendahara itu semuanya masuk ke dalam kampong, ada yang lari naik ke atas kedai. Apabila di lihat oleh Bendahara akan segala kelakuan pegawai dan petuanan meninggalkan diri itu maka Bendahara pun berdirilah seraya memegang hulu keris menantikan amuk orang itu. Maka orang yang mengamuk itupun datanglah menuju Bendahara. Apabila di lihat oleh Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lakayara, Hang Lakayawa nyatalah datang orang itu menuju Bendahara, maka tiada tertahani oleh hatinya lalu memangkas “Ceh, mengapa pula maka begitu tiada ku endahkan orang mengamuk empat ini, tambahkan empat puluh kian lagi pun tiada ku endahkan” serta di hunus keris kelima2nya segala lalu berlari ke hadapan Bendahara Paduka Raja. Maka berdiri kelimanya maka orang mengamuk itupun datanglah keempatnya serta katanya “Hai kanak2 aku hendak membunuh Bendahara dan Temenggung juga”. Maka kata Hang Tuah dan Hang Jebat “Ceh si celaka, tiadakah engkau tahu akulah hulubalang di tanah Bentan ini. Aku di titahkan oleh duli yang dipertuan akan membuang orang yang derhaka ini”. Demi di dengar lah orang empat itu kata2 Hang Tuah demikian itu maka iapun terlalu marah serta di usirnya akan Hang Tuah dan Hang Jebat ditikamnya berturut2 maka Hang Tuah pun melompat ke kanan menyalahkan tikam orang itu. Maka di tikam akan Hang Jebat di tikamnya akan seorang lalu rebah mati. Maka yang dua orang itu bertikam dengan Hang Tuah maka keduanya pun mati di tikam oleh Hang Tuah.


Apabila dilihat oleh Bendahara Paduka Raja budak2 lima orang itu datang berdiri di hadapannya serta membunuh orang itu, maka Bendahara di pegangnya tangan Hang Tuah dan Hang Jebat dan Hang Kasturi kelimanya di bawa kembali dan Hang Mahamawada pun dibawa bersama2. Setelah datang kembali maka kata Bendahara “Duduklah kakap Mahamawada, mogalah ada anak kakap Mahamawada berdiri di hadapan kita tadi”. Maka sembah Hang Mahamawada “Ya tuanku di perhamba itu baharu juga semalam datang sebab itulah maka belum sahaya bawa mengadap tuanku”. Maka kata Bendahara “manatah budak2 empat orang ini?”. Maka sembah Hang Mahamawada “Tuanku di perhamba itu keempatnya” maka segera di suruh panggil keempatnya maka keempatnya pun datang mengadap Bendahara. Demi Bendahara melihat orang empat itu datang maka kata Bendahara “Wah kusangkakan orang mana gerangan empunya anak ini tiada ku tahu akan Kap Dawalaha dan Kap Samawata dan Hang Manashowara dan Hang Shamasa. Jika aku tahu akan tuan2 ini ada anak laki2 selamanya sudah ku ambil ku jadikan biduanda kerana tuan2 itupun berasal juga”.

Setelah sudah Bendahara berkata demikian itu maka hidangan pun diangkat oranglah maka Hang Mahamawada pun makan lima orang sehidangan maka Bendahara suatu hidangan lain dan Hang Tuah kelima bersahabat pun makan sehidangan. Setelah sudah maka diangkat orang pula minuman dam tambal pelbagai rupanya maka piala yang bertatah itupun diperedarkan oranglah. Setelah beberapa piala yang di minum oleh seorang maka berbunyilah rebana maka biduan yang baik suara pun berbunyilah terlalu ramai berangkap rangkapan. Maka segala pegawai dan petuanan yang lari itupun sekeliannya datang hendak sekeliannya datang hendak masuk ke kampong Bendahara. Maka disuruh tutup pintunya maka Bendahara pun memberi memberi persalin akan bapak budak2 kelima orang itu. Maka Bendahara Paduka Raja pun menanggalkan kain tubuhnya itu diberikan kepada Hang Tuah dan Hang Jebat dan Hang Kasturi Hang Lakayara, Hang Lakayawa di beri persalin. Tiga kali pada seketika itu akan orang sepuluh itu tetapi terlebih juga akan pakaian Hang Tuah daripada orang yang lain.

Setelah sudah maka Hang Tuah dan Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lakayara, Hang Lakayawa pun dibawa oleh Bendahara masuk ke dalam rumah pada isterinya maka kata Bendahara pada isterinya “Ayuh adinda itu, inilah anak tuan saudara Tun Mat”. Maka Hang Tuah pun kelimanya sujud pada kaki isteri Bendahara itu seraya berkata “Akan sahaya datuk ini hamba yang hina sudah menjadi di perhamba pula seperti hamba khaslah ke bawah kadam tuanku”. Maka pada ketika itu juga isteri Bendahara menyuruh memanggil bonda Hang Tuah dan bonda Hang Jebat dan bonda Hang Kasturi dan bonda Hang Lakayara dan bonda Hang Lakayawa. Maka orang lima itu pun segera datang mengadap isteri Bendahara maka kata isteri Bendahara “Andang Hang Tuah akan selama ini duduk dekat tiada kita kenal, mari apa bermain2 pada kita”. Maka sembah orang lima itu “Sahaya ini sedia hamba yang terhina di bawah tuanku, jika ada sabda tunku maka beranilah sahaya datang mengadap pada kadam tunku kerana sahaya aya anak beranak sudah menjadi hamba pada kebawah kadam tunku”. Maka kelimanya pun dipersalin dan di perjamu oleh isteri Bendahara Paduka Raja seraya berkata “Hai anakku Hang Tuah, adapun anakku kelima ini barang yang kurang mintalah kepada aku”. Maka kata Hang Tuah adapun sahaya lima orang ini sudah hamba maka diperhamba pula. Kemanatah menaruhkan diri sahaya lagi melainkan pada ke bawah kadam datuk laki isteri juga”.

Setelah sudah maka orang lima itupun bermohonlah menyembah di kaki Bendahara laki isteri lalu turun kembali maka kata Bendahara pada Tun Amat Ancayamat “Duduklah dengan saudaramu Tun Tuah bermain2 di balai, aku dipanggil oleh duli yang dipertuan, apa2 kah kerjanya”. Maka Tun Amat pun turun sama2 maka orang di balai itu semuanya turun menyembah kaki Bendahara, maka Bendahara pun berjalan masuk mengadap. Setelah raja melihat Bendahara datang itu maka baginda pun memberi hormat akan Bendahara seraya bertitah “Sungguhkan orang mengamuk bertemu dengan Mama Bendahara tengah pasar tadi?” maka sembah Bendahara “Daulat tuanku Shah Alam tetapi tiada di mengapa tuanku” maka titah raja “Tiada demikian kita dengar maka pegawai yang mana yang iringkan Mama Bendahara tadi dan pegawai mana yang bertahan dan pegawai yang lari?”. Maka Bendahara pun tersenyum “Suatupun tiada dapat katanya”. Maka titah baginda “Jangan Mama Bendahara sembunyi pada kita berkata benar, siapakah yang meninggal Mama Bendahara, siapa kita mahu membalaskan dia”. Maka sembah Bendahara “Daulat tuanku Shah Alam, patik mohonkan ampun dan kurnia di bawah duli yang maha mulia akan patik2 itu segala ini kerana patik2 itupun ada gementar sedikit daripada melihat orang mengamuk itu bukan seorang dua”. Setelah sudah baginda mendengar sembah Bendahara demikian maka baginda pun tersenyum seraya bertitah “Hai Mama Bendahara, sungguhkah seperti khabar orang di konon budak2 lima orang, maka pada tatkala itu datang ia berdiri di hadapan Mama Bendahara. Ialah membunuh orang mengamuk itu”. Maka sembah Bendahara “Daulat tuanku, sungguh ia membunuh orang yang mengamuk itu dan terlalu segala perkasanya”. Maka titah baginda “Manatah budak2 yang lima itu dan anak siapa budak2 itu?” maka sembah Bendahara “Asalnya orang itu orang sungai Duyung, maka ia berpindah ke mari serta dengan ibu bapaknya bersuka pada patik. Adapun akan nama bapaknya Hang Mahamawada dan nama anaknya Hang Tuah akan sekarang ada kelimanya sudah patik ambilkan anak. Niat patik hendak jadikan biduanda pada ke bawah duli tuanku dan namanya sudah patik surat kelimanya dan nama ibu bapaknya pun sudah patik tahu, duduknya pada kampong patik”. Setelah baginda mendengar sembah Bendahara demikian itu maka titah baginda “Kita pintalah kepada Mama Bendahara budak2 lima itu, kita hendak jadikan biduanda di dalam”. Maka sembah Bendahara “Daulat tuanku Shah Alam, patik persembahkanlah budak2 itu pada ke bawah duli yang maha mulia sedang patik anak beranak lagi hamba pada ke bawah duli tuanku, istimewa pula budak2 lima itu”.

Syahdan maka sembah Bendahara “Budak inilah yang patik sembahkan dahulu itu”. Setelah baginda mendengar sembah Bendahara demikian itu maka baginda pun memberi persalin akan Bendahara dengan pakaian yang indah2 akan yg dipakai baginda itu maka ditanggalkan daripada tubuh baginda. Adapun segala pegawai dan petuanan yang lari itu sekeliannya hendak masuk mengadap maka tiada diberi oleh penggawa pintu itu. Maka kesemuanya duduk di balai kandang maka baginda pun berangkat masuk ke dalam istana. Maka Bendahara pun menyembah lalu keluar maka maka dilihat oleh segala pegawai dan petuanan Bendahara keluar dengan segala pegawai yang tuha2 juga maka sekeliannya pun turun dari balai kandang itu menyembah Bendahara. Maka Bendahara pun berpaling pura2 tiada di lihat. Setelah sampai ke pintu kampungnya maka ia berpaling, pegawai itu dan petuanan yang tuha itu seraya berkata “Silakanlah datuk2 kesemuanya” maka segala pegawai dan petuanan yang kena murka raja itupun semuanya mengiringkan Bendahara masuk ke dalam kampong. Maka dilihat oleh Bendahara, Hang Tuah dan Hang Kasturi, Hang Jebat, Hang Lakayara, Hang Lakayawa duduk bermain2 dengan Tun Amat belum lagi pulang maka kata Bendahara “Adakah anakku sekelian lagi bermain2 dengan adinda?”. Maka sembah Hang Tuah “Ada di perhamba tuanku”.

Hataya maka orang banyak yang duduk itupun turun menyembah Bendahara, pada orang lima itu “Hai anakku dua tiga kali yang dipertuan bertanyakan khabar orang mengamuk, siapa yang ada bertahan di hadapan Bendahara dan siapa yang meninggalkan Bendahara. Maka tiada terjawab oleh mereka sekelian maka Temenggung seraya suruh akan segala orang yang lari kesemuanya itu dipersembahkan pada ke bawah duli baginda. Demi baginda mendengar sembah demikian itu maka baginda pun tersenyum serta murka. Setelah berhenti daripada itu maka baginda bertitah bertanyakan anakk kelima, baginda hendak ambil jadikan pegawai lakunya”. Setelah sudah Bendahara berkata2 dengan Hang Tuah itu maka berpaling ke belakang maka dilihat akan segala pegawai dan petuanan itu ada lagi berdiri di belakang. Maka kata Bendahara “Adakah tuan2 tadi?” maka segala mereka itu pun kemaluan2lah suatu pun tiada apa katanya. Maka segala orang yang banyak itupun tersenyum seraya memandang pada segala mereka itu. Maka mereka itupun sipu2 malu maka kata Bendahara “Naiklah keatas balai itu duduk tuan2 sekelian hendak kemana datang pada hamba ini kerana hamba ini bukan pegawai raja meninggalkan temannya. Jika hamba menjadi pegawai bahawa pada ketika itu juga hamba memberi balas akan orang yang membunuh hamba itu”. Setelah sudah berkata2 maka Bendahara pun turun dari balai naik ke rumahnya.

Setelah sekelian pegawai dan petuanan mendengar kata Bendahara demikian maka segala pegawai dan petuanan itupun membuang dastarnya sekelian bergayung2 maka kata Tun Amat “Ya tuan2 sekelian naik juga tuan2 sekelian pulang dahulu kerana hamba itu dimurka oleh tuannya, jangalah dukacita ia mendengar kata itu”. Maka mereka itupun menyembah Tun Amat lalu bermohon pulang maka Tun Amat pun berkata pada Hang Tuah kelima “Kakap Tuah, Kakap marilah kita pergi termasa ke pulau. Kayu2an dan perburuan pun banyak konon di pulau itu namanya Pulau Birama Dewa, sementara lagi yang dipertuan murka ini”. Maka sahut Hang Tuah dan Hang Jebat “Baiklah tuanku, diperhamba iringkan”. Setelah sudah berkata2 maka Hang Tuah kelima bersahabat pun bermohon pulang ke rumah ibu bapaknya.

Setelah pada keesokan hari maka Hang Tuah dan Hang Jebat dan Hang Kasturi dan Hang Lakayara dan Hang Lakayawa pun pergilah sertanya Tun Amat ke Pulau Birama Dewa itu maka segala sakai yang duduk di pulau itupun berburulah terlalu ramai dan beroleh perburuan. Maka Tun Amat dan Hang Tuah pun bermainlah di dalam pulau itu tiadalah bercerai lagi, kemana2 yang Tuah pergi bermain maka diikut oleh Tun Mat dan kemana Tun Mat pergi bermain2 diikut oleh Hang Tuah tiada oleh jauh. Hataya maka Hang Tuah pun bertemu dengan sepohon pisang buahnya sedang masak maka di ambil oleh Hang Tuah. Maka dilihat di dalam tandan pisang itu ada seekor ular Janata Manaya maka segera di ambilnya ular itu di taruh di dalam dastarnya. Maka kata Hang Tuah pada Tun Mat “Marilah kita pulang kerana perburuan pun banyaklah kita perolehdan buah2an pun banyak. Kalau2 ayahanda hendak persembahkan ke bawah duli yang dipertuan segala perburuan ini”. Maka kata Tun Mat “Sungguhlah kata kakap Tuah itu”. Maka sekeliannya pun naik perahu lalu kembali.

Setelah sampai ke rumah maka kata Bendahara “Banyakkah anakku peroleh perburuan?” maka sembah Tun Mat “Banyak tuanku beroleh perburuan” dan peri Hang Tuah mendapat ular Janata Manaya itu semuanya dikatakan kepada Bendahara. Demi di dengar kata Tun Mat itu maka Bendahara pun segera panggil Hang Tuah maka Hang Tuah pun segera datang maka di bawa oleh Bendahara naik kerumahnya makan. Maka kata Bendahara “Sungguhkah anak Tuah mendapat ular Janata Manaya? Marilah ayahanda lihat kerana ayahanda tiada dapat melihat ular Janata Manaya itu”. Maka kata Hang Tuah “Diperhamba peroleh itu bukan anakanda itu tiada tahu”. Maka Hang Tuah pun menanggalkan dastarnya lalu diambinya ular Janata Manaya itu lalu di ciumnya dan di bubuh pada matanya kedua sudah itu maka di persembahkan pada Bendahara. Maka segara di sambut oleh Bendahara maka dilihatnya ular Janata Manaya itu rupanya dan besarnya seperti pisang emas dan warnanya seperti emas sepuluh mutu. Setelah sudah Bendahara lihat itu maka kata Bendahara “Ayuh anakku jika ada apa2 kehendak anakku2, kita tiada kita tahani”. Maka sembah Hang Tuah “Pada bicara sahaya tunku jangankan ular Janata Manaya itu di kehendaki oleh tunku, sedangkan tubuh sahaya lagi hamba di bawah kuasa tuanku tetapi tetapi ada suatu perjanjian juga di perhamba mohonkan”. Maka kata Bendahara “Janji yang mana anakanda maksudkan pada kita katakanlah kita dengar”. Maka sembah Hang Tuah “Adapun diperhamba sembahkan ular Janata Manaya ini dengan suka hati di perhamba tetapi apabila akan di santap oleh tuanku hendaklah di beritahu akan di perhamba”. Maka kata Bendahara “Baiklah” setelah sudah berkata2 itu maka lalu di persembahkan pada Bendahara maka oleh Bendahara di ambilnya kain sekayu maka ular itupun di taruhnya di dalam kain itu.

Syahdan maka Hang Tuah pun dipersalin dengan selengkapnya maka Hang Tuah pun menyembah pada Bendahara laki isteri turun bersama2 dengan Tun Mat maka kain rambuti itupun disuruh Bendahara simpan. Maka ketika itu juga biduanda pun datang di titahkan memanggil Bendahara suruh bawa budak2 kelima itu masuk. Setelah Bendahara mendengar demikian itu maka Bendahara pun memanggil Hang Tuah kelimanya maka orang lima itupun segera datang. Maka Bendahara pun sudah hadir dengan anaknya Tun Amat itu menantikan Hang Tuah lagi setelah di lihat oleh Bendahara budak lima itu datang maka kata Bendahara “Marilah anakku kelima kita masuk kedalam”. Maka sembah Hang Tuah “Silakanlah tuanku, diperhamba iringkan”. Maka Bendahara pun berjalanlah diiringkan oleh Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lakayara, Hang Lakayawa.

Setelah sampai ke balairong maka Bendahara pun naiklah ke bandala membawa budak2 lima itu. Setelah dilihat oleh Raja, Bendahara datang maka segera di tegur oleh baginda “Marilah Mama Bendahara, manatah budak2 yang di kata itu?”. Maka sembah Bendahara “Daulat tuanku, inilah yang bernama Hang Tuah dan Hang Jebat dan Hang Kasturi dan Hang Lakayara dan Hang Lakayawa. Ini seorang anak patik bernama Tun Mat”. Setelah raja mendengar sembah Bendahara demikian pun sebagai memandang kepada Hang Tuah maka titah raja “Hai Hang Tuah, engkau kelima ini ku ambil budak di bawah bandala ini”. Maka sembah Hang Tuah “Daulat tuanku, patik ini hamba yang hina”. Maka baginda pun member persalin akan Tun Mat dan budak kelima itupun dipersalin dengan selengkapnya pada ketika itu juga baginda menitahkan pada pandai besi yang tuha seorang bernama suruh berbuat keris dan keris panjang akan pakaian Hang Tuah maka dua puluh perkara besi di lakukan dan sebahara besi diusir jadikan sebilah keris panjang.

Maka berapa lamanya keris empat puluh bilah itupun sudahlah maka di persembahkan oleh pandai besi itu pada baginda. Maka segala keris itu kesemuanya di anugerahkan baginda pun budak2 di bawah bandala keempat puluhnya. Maka yang memakai keris keris panjang yang besi sebahara ada usir itu maka keris itupun di sambut oleh Hang Tuah lalu di junjungnya serta sujud meniarap di hadapan duli baginda itu. Setelah sudah sujud maka Hang Tuah pun berbangkit lalu berdiri menyembah memegang keris itu lalu turun ke tanah di hunus keris itu maka ia menyembah pula. Maka Hang Tuah pun melompat bermain keris itu terlalu manis segala barang lakunya serta memanggil katanya” Ceh, manatah hulubalang Malayu, marilah berdiri, empat pun baik, lima pun baik, tiada endah pada aku ”. Maka baginda pun terlalu sukacita melihat laku Hang Tuah itu maka pada penglihatan raja akan segala pegawai dan petuanan yang banyak ini jika empat lima orang berdiri di hadapi Hang Tuah ini sukarlah mengenai dia. Setelah sudah ia bermain keris itu aka Hang Tuah pun menjunjung duli lalu naik duduk bersama2 Hang Jebat di bawah bandala itu.

Maka baginda pun terlalu kasih akan Hang Tuah dan Hang Jebat tetapi di dalam budak2 empat puluh itu, Hang Tuahlah yang lebih karib pada baginda kerana ia tertuha daripada budak2 yang banyak itu lagi bijaksana barang lakunya dan tahu. Maka Hang Tuah pun masuk keluar tiada berpintu lagi maka barang kata Hang Tuah kata rajalah. Jika raja hendak membunuh orang kata Hang Tuah tiada harus mati tiadalah mati orang itu. Jika raja hendak menangkap orang yang berdosa, jika Hang Tuah tiada menangkap tiadalah tertangkap. Jika suatu bicara jika Hang Tuah belum belum masuk berbicara, tiadalah putus bicara itu.

Sumber: Hikayat Hang Tuah

No comments:

Post a Comment